Ramadan 2022

Merawat Ketakwaan Pascaramadan

Rasanya belum lama lisan kita mengucapkan “marhaban ya Ramadan”. Namun faktanya, hari ini kita sudah harus menyiapkan diri untuk ditinggalkan bulan Ra

Editor: Taufiqur Rohman
istimewa/TribunJatim
KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah 

Oleh: KH M Hasan Mutawakkil Alallah
(Ketua Umum MUI Jawa Timur)

TRIBUNJATIM.COM - Rasanya belum lama lisan kita mengucapkan “marhaban ya Ramadan”. Namun faktanya, hari ini kita sudah harus menyiapkan diri untuk ditinggalkan bulan Ramadan. Sesaat lagi, kita akan segera mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid saat menyambut hilal bulan Syawal.

Dengan berakhirnya bulan Ramadan ini, marilah kita merenungkan atau bermuhasabah apakah segala bentuk ibadah kita bisa berpengaruh pada kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Sebab sebagaimana kita tahu, disyariatkannya ibadah puasa adalah untuk membentuk kualitas mukmin yang bertakwa.

Apakah takwa itu? Amirul mukminin Khalifah Umar bin Khattab pernah mengatakan tentang hakikat takwa degan ungkapan: “Takwa itu adalah perasaan takut kepada Allah, beramal dengan apa yang datang dari Allah dan Nabi-Nya, merasa cukup dengan apa yang ada dan mempersiapkan diri dalam menghadapi hari akhir.”

Ada empat poin penting dalam perkataan Umar bin Khattab RA ini. Pertama, takwa adalah rasa takut (khauf) kepada Allah. Khauf pada umumnya akan membuat seseorang menjauh atau menghindar dari apa yang ditakutkan, tetapi ada khauf yang justru sebaliknya menjadikan seseorang mendekat terhadap apa yang ia takuti, yang disebut khasyiah. Allah dalam Surat al-Fathir, 28 menyatakan:

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang takut kepada Allah hanyalah ulama, yaitu orang yang berilmu dan memahami kebesaran dan kekuasaan Allah. Oleh karena itu, peran ilmu sangat penting. Bagaimana dapat merasakan takut kepada Allah SWT, sedangkan dirinya tidak berilmu, tidak mengerti akan keagungan-Nya.

Kedua, amal shalih (saleh). Mari kita simak kembali firman Allah dalam Surat an-Nahl 97: “Barangsiapa yang beramal shalih, baik dari laki-laki atau perempuan, dan dirinya beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Ayat ini gamblang menyebutkan bahwa siapapun kita, laki atau perempuan, asalkan beriman kepada Allah SWT, maka amal shalih merupakan investasi terpenting. Karena siapapun yang berinvestasi dalam kehidupan dengan amal shalih, maka Allah akan memberikan keuntungan yang tiada tara, yaitu kehidupan yang lebih baik dan pahala di surga.

Apapun yang kita lakukan, baik sebagai pribadi, sebagai bagian dalam keluarga, sebagai bagian dari masyarakat dan negara, maka yang telah diperbuatkan dimintai pertanggungjawaban. Sekali lagi, ini persoalan terkait dengan amal perbuatan manusia ini adalah persoalan serius.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved