Berita Probolinggo

Akui Salah, Ojek Kuda yang Palak Pengunjung Gunung Bromo Minta Maaf: Janji Tidak Mengulangi

Persoalan ojek kuda meminta uang Rp 50 ribu kepada pengunjung Gunung Bromo saat merekam video akhirnya tuntas usai meminta maaf

Penulis: Danendra Kusuma | Editor: Ndaru Wijayanto
istimewa
Video permintaan maaf oknum ojek kuda yang palak pengunjung Gunung Bromo. Sebelumnya kasus ini bermula dari keresahan pengunjung di media sosial usai dipalak uang Rp50 ribu usai merekam video ojek kuda 

TRIBUNJATIM.COM, PROBOLINGGO - Persoalan oknum ojek kuda yang melakukan aksi meminta uang Rp 50 ribu kepada pengunjung Gunung Bromo saat merekam video akhirnya tuntas.

Oknum ojek kuda dalam video yang viral beberapa hari lalu, Suyono (52), warga Dusun Cemara Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura menyampaikan permintaan maafnya.

Suyono menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia serta kepada Aldi Abdul Malik, pemilik akun tiktok  @aldidutcho. Dia juga berjanji tidak mengulangi lagi perbuatannya.

"Selamat siang kepada seluruh rakyat Indonesia. Saya Pak Suyono, pemandu kuda di wisata Gunung Bromo. Meminta maaf atas viralnya video saya yang berbuat tidak semestinya. Sekali lagi saya meminta maaf yang sebesar-besarnya khususnya kepada Bapak Aldi pemilik akun tiktok aldidutcho dan berjanji tidak mengulangi lagi," katanya dalam video permintaan maaf itu.

Kapolres Probolinggo, AKBP Teuku Arsya Khadafi mengatakan pihaknya bergerak cepat dengan berkoordinasi bersama TNI dan TNBTS untuk menindaklanjuti video viral tersebut.

Baca juga: Perekam Video yang Dimintai Uang Tukang Ojek Kuda di Bromo Buka Suara: Saya Terkejut Tiba-tiba

Baca juga: Reaksi TNBTS Soal Video Viral Wisatawan Gunung Bromo Diminta Uang Rp 50 Ribu usai Ambil Video Kuda

"Kepolisian bersama TNI dan TNBTS turun tangan dengan memberikan hukuman untuk memberikan efek jera kepada pelaku. Langkah cepat ini dilakukan untuk mewujudkan sikap humanis dan menjaga kearifan budaya lokal," katanya, Kamis (23/6/2022).

Dia mengungkapkan dengan adanya permintaan maaf yang disampaikan, yang bersangkutan menyadari dan jera atas apa yang dilakukannya.

Sebab, tindakannya itu tak hanya menyakiti perasaan wisatawan dan masyarakat luas, juga bisa melanggar hukum.

"Pelaku selain membuat kegaduhan dan menyakiti perasaan wisatawan serta masyarakat luas, juga melakukan tindakan pemerasan," tegasnya.

Arsya menambahkan permintaan maaf yang disampaikan oleh yang bersangkutan adalah sebagai bentuk hukuman efek jera yang mengedepankan kondusifitas dan edukasi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved