Berita Trenggalek

Stok Obat PMK Kosong, Peternak di Trenggalek Terpaksa Beli Sendiri, Baru Tersedia Pertengahan Juli

Stok obat untuk mengurangi gejala penyakit mulut dan kuku (PMK) di Dinas Peternakan Kabupaten Trenggalek masih kosong.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM.COM/AFLAHUL ABIDIN
ILUSTRASI - Petugas saat memeriksa sapi yang terpapar PMK di Kabupaten Trenggalek. Update terbaru Ratusan Sapi di Trenggalek Terpapar, Beberapa Mati dan Dipotong Paksa 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Aflahul Abidin

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Stok obat untuk mengurangi gejala penyakit mulut dan kuku (PMK) di Dinas Peternakan Kabupaten Trenggalek masih kosong.

Dampaknya, para peternak yang sapinya terpapar PMK harus membeli obat itu sendiri dengan uang pribadi.
Kasi Pencegahan Pemberantasan Penyakit Hewan dan Pelayanan Medik Veteriner Dinas Peternakan Kabupaten Trenggalek Ririn Hari Setiani mengakui hal itu.
Ia mengatakan, stok obat telah kosong dalam beberapa waktu terakhir.
Sebenarnya, pihaknya telah mengusahakan untuk kembali membuka pengadaan obat, melalui dana belanja tidak terduga (BTT) yang nilai totalnya Rp 450 juta.
Namun hal itu batal terlaksana karena sistem informasi pembangunan daerah atau SIPD telah ditutup. Alhasil, anggaran tersebut tidak bisa dicairkan.
Dinas peternakan juga telah mencoba untuk membeli obat berupa vitamin dan antibiotik itu ke toko-toko di daerah sekitar. Termasuk hingga ke Blitar. Namun, hasilnya nihil.
Toko-toko obat peternakan, kata dia, banyak yang kehabisan stok obat untuk mengurangi gejala PMK. Termasuk antibiotik.
"Kami sudah memesan dari pabriknya langsung. Dan kemungkinan akan tiba di Kabupaten Trenggalek pertengahan Juli," kata Ririn.
Ririn juga mengonfimasi bahwa para peternak kini banyak yang mencari secara mandiri obat untuk sapinya yang terpapar PMK.
"Beli mandiri semuanya," sambungnya.
Di Kabupaten Trenggalek, lebih dari seribu sapi sudah terinveksi PMK. Puluhan di antaranya meninggal atau dijagal paksa karena kondisinya yang cukup parah.
"Kebanyakan yang terpapar PMK saat ini adalah sapi perah," kata dia.
Kemungkinan, tingkat kekebalan sapi-sapi perah lebih rendah. Hal itu yang menyebabkan PMk lebih mudah penyebarannya pada sapi jenis itu
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved