Berita Surabaya

Terjadi 3000 Bencana Selama 2021, Indonesia Jadi Lokasi Internasional 5th Global Changing Challenge

Banyaknya bencana alam di Indonesia selama 2021 memantik kepedulian internasional. IDRN rencananya akan menggelar 5th GCC di Indonesia

TRIBUNJATIM.COM/BOBBY KOLOWAY
Strategic Coordinator IDRN, Inban A Caldwell saat memberikan penjelasan di Surabaya. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Bobby Koloway

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Banyaknya bencana alam di Indonesia selama 2021 memantik kepedulian internasional. Organisasi kemanusiaan International Disaster Response Network (IDRN) rencananya akan menggelar 5th Global Changing Challenge (GCC) di Indonesia.

Bertema Tanggap Darurat di Dunia Baru, ajang ini merupakan konferensi internasional yang berfokus pada Penanggulangan Bencana Berbasiskan Masyarakat (PPBM).

"Ini merupakan kali kelima IDRN menggelar GCC," kata Strategic Coordinator IDRN, Inban A Caldwell di Surabaya, Jumat (15/7/2022).

Setelah sukses kali pertama digelar di Surabaya pada 2012, ajang GCC lantas dilanjutkan di Filipina, Nepal, dan Malaysia.

"Setelah satu dekade GCC digelar, kami hadir kembali ke Indonesia," katanya.

Berlangsung di Kuta, Bali, ajang ini akan diadakan pada 18-21 Agustus 2022. Rencananya, ada banyak peserta dari berbagai negara akan hadir pada acara ini.

Bukan tanpa alasan ajang GCC digelar di Indonesia. Menurut Inban, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah bencana cukup tinggi di dunia.

Mengingat secara geografis, Indonesia berada di wilayah lingkaran api pasifik atau cincin api pasifik. Yang mana merupakan pertemuan tiga lempeng tektonik dunia.

Tak mengherankan, apabila ada berbagai potensi bencana di Indonesia. "Dalam beberapa pendapat, Indonesia disebut sebagai "supermarket bencana". Hampir semua bencana ada di Indonesia," kata Chairman of International Starfish Community Transformation (ISCT) ini.

Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat ada 3.092 kejadian bencana selama 2021. Akibat bencana ini, jumlah korban meninggal dunia mencapai 665 jiwa, korban hilang sebanyak 95 jiwa, dan sebanyak 8.426.609 jiwa harus mengungsi.

Bencana yang paling sering terjadi, di antaranya banjir (1.298 kejadian), cuaca ekstrem (804 kejadian), tanah longsor (632 kejadian), hingga kebakaran hutan dan lahan (265 kejadian).

Kemudian disusul gelombang pasang dan abrasi (45 kejadian), gempa bumi (32 kejadian), kekeringan 15 (kejadian), dan erupsi gunung api (1 kejadian).

Oleh karenanya, inilah pentingnya mitigasi bencana. Melalui ajang GCC, peserta akan dilatih mengetahui startegi ketika terjadi bencana.

"Terutama, terkait kesiapsiagaan, pencegahan, penanganan, pemulihan, hingga mitigasi. Baik sebelum, sedang dan setelah keadaan darurat bencana," kata Founder & Strategic Coordinator of Humanitarian Assistance Network for Development (HAND) International ini.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved