Berita Trenggalek
Kasus Covid-19 Melandai, Jadi Momentum Pemkab Tekan Angka Kemiskinan di Trenggalek
Kasus Covid-19 yang mulai melandai, jadi momentum Pemkab untuk menekan angka kemiskinan di Trenggalek. Strategi dirumuskan ulang.
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Dwi Prastika
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Aflahul Abidin
TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Untuk menurunkan angka kemiskinan, sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di Kabupaten Trenggalek didorong untuk bersinergi mengatasi persoalan kemiskinan secara keroyokan.
Wakil Bupati Trenggalek, Syah M Natanegara mengatakan, pihaknya tengah merumuskan ulang strategi penurunan angka kemiskinan yang melibatkan lintas OPD.
"Jadi kami rumuskan ulang, semoga nanti ke depannya kemiskinan di Trenggalek ini bisa turun," kata Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Kabupaten Trenggalek itu, saat rapat koordinasi penanganan kemiskinan, Rabu (24/8/2022).
Syah M Natanegara menjelaskan, beberapa program khusus penurunan angka kemiskinan telah dijalankan sejak tahun lalu.
Satu di antaranya mendorong tumbuhnya pengusaha baru melalui program 5 ribu wirausahawan perempuan baru setiap tahun.
Pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak tahun 2020 membuat angka kemiskinan di wilayah tersebut meningkat.
Catatan Tribun Jatim Network, angka kemiskinan di Kabupaten Trenggalek sebelum pandemi Covid-19, yakni pada 2019, sekitar 10 persen.
Pada akhir 2021, jumlah itu melonjak menjadi 12 persen.
Apabila dikalkulasi, tambahan warga miskin di Kabupaten Trenggalek selama pandemi Covid-19 sekitar 16 ribu jiwa.
Syah M Natanegara mengatakan, menurunnya kasus Covid-19 harus dimanfaatkan untuk menekan angka kemiskinan.
"Sehingga tahun depan, kita sudah tidak bisa lagi menggunakan alasan pandemi ketika ada kemiskinan di Kabupaten Trenggalek," sambung Syah M Natanegara.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Trenggalek, Ratna Sulistyowati mengklaim, usaha untuk menurunkan angka kemiskinan lewat wirausahawan baru cukup membuahkan hasil.
Menurutnya, beberapa pengusaha skala mikro dan kecil mampu naik kelas setelah mendapat pelatihan dan pendampingan secara intens.
Ia mencontohkan, pedagang keripik tempe di Pasar Ngares, Kecamatan Trenggalek, yang omzetnya meningkat beberapa waktu terakhir.
"Pedagang itu biasanya hanya bisa menjual 20 bungkus setiap hari, berkat pelatihan melalui bootcamp, berhasil melipatkangandakan penghasilan dengan berjualan konvensional maupun melalui penjualan online," kata Ratna.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com
Kumpulan berita seputar Trenggalek