Berita Lumajang

Harga Kedelai Naik, Perajin Tempe di Lumajang Terpaksa Pertipis Ukuran: Dulu 5 Cm, Sekarang 3 Cm

Dampak kenaikan harga BBM sudah mulai terasa. Harga jasa transportasi dan logistik sudah mulai ikut menyesuaikan. Kini giliran harga kedelai yang ikut

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM.COM/TONY Hermawan
Yayuk perajin tempe mengeluhkan kenaikan harga kedelai impor. Hal ini membuat perajin tempe terpaksa mempertipis ukuran 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Tony Hermawan

TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Dampak kenaikan harga BBM sudah mulai terasa. Harga jasa transportasi dan logistik sudah mulai ikut menyesuaikan. Kini giliran harga kedelai yang ikut terkerek.

Sekarang harga kedelai sudah hampir menyentuh Rp13 ribu per kilogram. Ihwal tersebut membuat perajin olahan makanan kedelai, seperti tempe di Kabupaten Lumajang dibuat pusing.

Produk makanan ini menjadi favorit, namun pedagang kerap mendapat penolakan ketika menaikkan harga.

Hal tersebut dialami Yayuk perajin tempe asal Dusun Karangsepuh, Desa Kunir Kidul, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang.

Umumnya di Lumajang satu iris tempe ukuran panjang sekitar 10 centimeter dijual harga Rp2 ribu rupiah.

Jika lebih dari harga itu, memungkinkan bisa tidak laku. Sebab, olahan makanan ini kadung dikenal makanan merakyat.

Baca juga: Buntut Panjang Harga Kedelai Masih Mahal, Produksi Tahu di Perajin Kota Blitar Terus Turun

"Ya diperkecil ukuran ketebalan tempe. Kalau sebelumnya 5 centimeter, sekarang 3 centimeter," kata Yayuk.

Yayuk menuturkan, dua tahun terakhir perajin tempe dan tahu di Kabupaten Lumajang benar-benar diuji.

Harga bahan baku kedelai impor terus merangkak naik, semenjak ada temuan kasus Covid-19 di Indonesia.

Harga komoditi ini yang semula hanya Rp 8.000 per kilogram, kini sudah kisaran Rp12.600 - 12.650 perkilogram.

"Selama ini kalau kenaikan harga kedelai cara menyiasati kurangi ketebalan tempe. Kalau gak gitu, ya bisa rugi," ujarnya.

Yayuk berharap, pemerintah harus turun tangan menghadapi kondisi ini. Minimal memberi jaminan agar harga kedelai bisa stabil.

"Gak masalah kalah tidak bisa turun lagi, tapi setidaknya jangan naik lagi," harapnya.

Akan tetapi, jauh lebih baik jika lonjakan kedelai impor ini dijadikan pemerintah untuk momentum meningkatkan produktivitas dan kualitas kedelai lokal.

Kemudian, petani kedelai lokal diberi jaminan produknya terserap. Sehingga ke depan perajin kedelai tidak lagi tergantung impor.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved