Tragedi Arema vs Persebaya
Catatan Penting dalam Sepak Bola Imbas Tragedi Kanjuruhan, Mulai Yel-yel hingga Penegakan Hukum
Inilah catatan penting dalam sepak bola menurut pakar sejarah. Ada dua problem besar di dunia lapangan hijau. Simak!
Penulis: Zainal Arif | Editor: Arie Noer Rachmawati
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Zainal Arif
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Tragedi Kanjuruhan Malang masih menyisakan duka yang mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia.
Buntut dari insiden tersebut, sejumlah pihak mendapatkan sanksi, sebagian jajaran dicopot dari jabatannya dan sebagian ada yang ditetapkan sebagai tersangka.
Dosen Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Rojil Nugroho Bayu Aji S Hum MA menilai, ulasan terkait keamanan, sistem pengamanan dan SOP gas air mata serta pitch invasion itu bagus untuk proses investigasi kuratif.
Mengenai sanksi yang diberikan misalnya kepada Arema FC, menurut Rojil itu tidak menyelesaikan permasalahan.
Ada dua problem besar dalam sepak bola Indonesia.
Pertama, permasalahan struktural dari sisi penegakan hukum misalnya dan bagaimana stakeholder sepak bola dalam mewujudkan regulasi yang tepat baik teknis maupun non-teknis pertandingan.
Baca juga: Imbas Tragedi Kanjuruhan Malang, Gas Air Mata Musuh Suporter, Aremania: Kini Sadar, Bukanlah Sesama
Faktor nonteknis tidak bisa diabaikan, karena gejolak atau konflik yang terjadi di dalam maupun di luar stadium seringkali dipicu hal-hal non-teknis.
“Apabila kompetisi dikelola dengan baik, kekecewaan atau konflik yang terjadi bisa terselesaikan,” ujar Rojil kepada TribunJatim.com, Sabtu (8/10/2022).
Kedua, permasalahan cultural.
Ini berkaitan dengan ‘tradisi’ dan situasi sosial kondisi suporter yang tentunya memiliki karakter yang berbeda-beda.
Nah, ini perlu pemetaan dan penanganan yang tepat bagaimana suporter bertemu dengan tim klub atau suporter lain.
"Dari aspek suporter, juga ada akar persoalan yang perlu dipotong rantainya. Suporter sendiri harus berani mengakui ‘kesalahan’ apabila melakukan tindakan negatif," ungkapnya.
Baca juga: Cerita Anggota TNI yang Tahu Anaknya Jadi Korban Tragedi Stadion Kanjuruhan: Bagaimana Kronologinya?
Selanjutnya, suporter harus berperan aktif dalam memutus rantai kekerasan verbal, membuang yel-yel, chant atau lagu yang mengandung unsur kekerasan di antaranya “dibunuh saja”, “gak iso moleh”, “nek kalah rusuh” dan seterusnya.
“Apa jadinya jika chant dan lagu itu dinyanyikan secara terkoordinir seisi stadion, dinikmati, didengarkan anak-anak lalu ditiru? Kekerasan itu akan menumbuh,” tukas Rojil.
Apabila ini terus dibiarkan akan membentuk kesadaran kolektif bersama akan kekerasan dan membangkitkan rasa ‘kebencian’ antar suporter.
Ini menjadi catatan penting untuk suporter, klub sepak bola dan stakeholder untuk memutus kekerasan verbal atau simbolik.
Baca juga: Penyebab Tragedi Kanjuruhan Bukan Suporter Masuk Lapangan? ini Kata Komnas HAM, Ulah Security Dikuak
“Sejauh ini, sudah ada suporter yang berhasil memutus rantai itu kemudian membuat lagu-lagu yang fokus mendukung timnya dengan lirik-lirik yang kreatif dan positif,” bebernya.
Karena itu yang bisa dilakukan ke depan yaitu tentu memperbaiki regulasi dan penerapannya di level struktural dan memperbaiki atau memutus rantai ‘kekerasan’ antar suporter di level kultural.
Selain itu meningkatkan edukasi dan kesadaran pentingnya kultur sepak bola yang sehat dan menyenangkan.
Dia berharap kejadian ini benar-benar jadi pembelajaran dan pembenahan bersama sehingga iklim sepak bola Indonesia dapat naik kelas.
Berita tragedi Arema vs Persebaya lainnya
Informasi lengkap dan menarik lainnya di GoogleNews TribunJatim.com