Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Mengenal Istilah Papakatsu, Bisnis 'Sugar Daddy' yang Lagi Trend Digemari Kaum Wanita di Jepang

Buat kalian yang penasaran, berikut adalah fakta-fakta seputar bisnis Papakatsu, bisnis sugar daddy yang lagi trend digemari kaum wanita di Jepang.

Editor: Elma Gloria Stevani
Youtube - Nobita from Japan
Drama Jepang Papakatsu disutradarai oleh Hiromasa Kato dan dibintangi oleh Marie Litoyo dan Atsuro Watabe. 

TRIBUNJATIM.COM - Di Jepang, ada banyak sekali bisnis atau industri pekerjaan yang jarang kalian temui di Indonesia.

Selain industri film panas dan kelab malam, kini ada satu lagi kemunculan bisnis papakatsu yang lagi trend di kalangan para wanita.

Singkat cerita, para gadis bisa mendaftarkan diri untuk disewa oleh para pria tajir atau sugar daddy.

Bahkan saking populernya binsis ini, sekarang juga sudah mulai banyak aplikasi baru bermunculan untuk mendaftarkan diri jadi anggota ( gadis papakatsu ).

Buat kalian yang penasaran, berikut adalah fakta-fakta seputar bisnis papakatsu, bisnis sugar daddy yang lagi trend digemari kaum wanita di Jepang.

1. Tidak Selalu Melibatkan Hubungan Seks

Mungkin banyak yang beranggapan jika bisnis Papakatsu ini sama artinya dengan prostitusi yang melibatkan hubungan seksual di luar nikah.

Namun anggapan itu salah besar.

Lewat channel Youtube Nobita From Japan, seorang gadis papakatsu yang tak ingin disebutkan namanya blak-blakan menceritakan pengalamannya. 

"Aku tinggal di Tokyo yang biaya hidupnya cukup tinggi, jadi aku mencari pekerjaan part time yang bisa menghasilkan banyak uang dan suatu hari aku mengetahui tentang papakatsu dan mencobanya. Tentu saja awalnya aku juga skeptis, tapi beberapa temanku sudah melakukannya dan mereka bilang ini aman tanpa perlu berhubungan seks. Dan itu benar. Yang aku lakukan cuma makan bareng dan mendengarkan ceritanya, mengangguk lalu pura-pura senang," ungkap gadis tersebut.

2. Bayaran yang Diterima Para Gadis Papakatsu

Pertanyaannya, berapa uang yang harus dikeluarkan sugar daddy untuk membayar para gadis papakatsu tersebut?

Ternyata tidak ada rate tetap, karena semuanya disepakati bersama antara kedua belah pihak. 

"Aku biasanya menetapkan tarif US$ 48 (Rp 700 ribu) per jam untuk kencan di sebuah kafe, restoran atau sekedar berkendara bareng.

Dari awal aku berkata pada mereka kalau tidak boleh ada seks dan kebanyakan dari mereka oke-oke saja," sambung gadis tersebut.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved