Berita Surabaya

Layanan Immunoterapi Terobosan dr. Terawan Bisa Diakses Masyarakat di RS Bhayangkara Surabaya

Layanan Immunoterapi Terobosan dr. Terawan Bisa Diakses Masyarakat di RS Bhayangkara Surabaya satu-satunya di jatim

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Samsul Arifin
TribunJatim.com/Luhur Pambudi
Saat dr. Terawan memberikan intervensi kesehatan kepada Kapolda Jatim Irjen Pol Imam Sugianto di Klinik Immunoterapi by dr. Terawan, RS Bhayangkara Surabaya 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - RS Bhayangkara H. S. Samsoeri Mertojoso, Kota Surabaya, secara resmi telah membuka layanan pengobatan Immunoterapi (Immunoteraphy) yang bekerja sama dengan eks Menteri Kesehatan RI, dr. Terawan Agus Putranto.

Klinik yang melayani Immunoterapi tersebut masih berlokasi di dalam area bangunan RS Bhayangkara Surabaya, di Jalan A Yani No 116, Gayungan, Surabaya. 

Berjarak sekitar 100 meter ke arah barat dari pintu gerbang masuk utama RS yang bersebelahan dengan Mapolda Jatim. Pintu masuknya menghadap ke arah selatan. 

Kapolda Jatim Irjen Pol Imam Sugianto mengatakan, kesehatan merupakan investasi penting bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Ia mengapresiasi atas inovasi layanan RS Bhayangkara Surabaya. Apalagi hingga berhasil menggandeng dr. Terawan dalam memajukan layanan Immunoterapi. 

Selain itu, Imam juga berharap layanan kesehatan terbaru di RS Bhayangkara Surabaya dapat bermanfaat bagi anggota Polri, beserta keluarganya, dan tak terkecuali masyarakat pada umumnya. 

"Harapan saya, peresmian ini menjadi momentum berkembangnya layanan kesehatan di Jatim," ujarnya di RS Bhayangkara Surabaya, Senin (29/4/2024). 

Apalagi, beberapa waktu lalu, sudah ditegaskan oleh Presiden Joko Widodo, dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional 2024, beberapa waktu lalu

Bahwa sektor pelayanan kesehatan di Indonesia perlu dilakukan peningkatan layanan dan inovasi mutakhir yang terus bermunculan. 

Selain dapat meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Dari sektor kesejahteraan ekonomi dalam perputaran uang layanan kesehatan juga dapat tetap dapat memiliki keuntungan. 

Baca juga: Pesan Kapolda Jatim Jelang Hari Buruh, Tetap Jaga Keamanan dan Ketertiban : Jangan Tutup Jalan

Imam meneruskan pernyataan Presiden Joko Widodo, bahwa Negara Indonesia kehilangan devisa sebesar 11,5 miliar dollar AS atau Rp180 Triliun karena sekitar satu juta orang warga negara memilih berobat ke luar negeri; Malaysia, Singapore, Jepang, Korea, dan Amerika. 

"Mirisnya lagi dari 1 juta orang tersebut, 15 persen, berasal dari Surabaya, Jatim," kata eks Kapolres Gresik itu. 

Layanan 'Immunoterapi by dr. Terawan' yang tersedia di RS Bhayangkara Surabaya, diharapkan dapat mengurangi kebiasaan masyarakat Indonesia untuk memilih fasilitas layanan kesehatan di luar negeri. 

"Berapa banyak flight ke Pennang, Singapura, Kuala Lumpur, berapa uang yang lari ke sana. 
Kalau layanan kita bagus dan berkembang maka uang tersebut dapat berputar di lokasi Jatim. Dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jatim," pungkasnya. 

Hal senada juga disampaikan Kapusdokkes Polri Irjen Pol dr. Asep Hendradiana bahwa secara garis besar Pusdokkes Polri, atas perintah Kapolri telah diperintahkan meningkatkan kemampuannya kompetensinya diberbagai kesempatan pelayanan terhadap anggota Polri, keluarganya, dan juga masyarakat. 

Di 38 provinsi, terdapat sekitar 69 RS Bhayangkara yang senantiasa bahu membahu meningkatkan kemampuannya dan kompetensi berbagai aspek di bidang pelayanan kesehatan. 

Apalagi setelah melewati dua tahun situasi Pandemi Covid-19. Menurutnya, situasi global tersebut merubah perspektif dunia kesehatan secara mendasar. 

Sehingga, dr Asep optimistis inovasi layanan kesehatan RS Bhayangkara Surabaya dengan klinik Immunoterapi by dr Terawan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan anggota Polri. 

"Immunoterapi jelas, darah kita diambil, diproses, diperkuat, sehingga siap menghadapi acaman yang muncul. Dan mengenal siapa musuh dan lawan kita. Mengobati dengan darah kita, memiliki resiko efek samping seminimal mungkin," ujar dr Asep dalam sambutannya. 

Sementara itu, eks Menteri Kesehatan RI, Letnan Jenderal TNI (Purn) dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad(K) menjelaskan alasan terdapat kata 'by Terawan' dalam layanan klinik Immunoterapi di RS Bhayangkara Surabaya, yang diresmikan hari ini. 

Agar, tidak mudah untuk ditiru oleh pihak lain. Karena, ada kontrol kualitas layanan kesehatan yang patut dipertanggungjawabkan. 

Dan layanan klinik Immunoterapi yang terdapat di RS Bhayangkara Surabaya merupakan layanan pertama di wilayah Jatim m

"Orang boleh meniru boleh mengikuti. Tapi harus belajar, supaya quality control-nya bisa kita berikan," ujarnya dalam sambutannya di Ruang Manajemen RS Bhayangkara Surabaya. 

Menurutnya, layanan imun terapi atau Immunoterapi adalah suatu bidang layanan kesehatan yang bersifat personal. 

Karena basis pengobatan Immunoterapi bersumber dari apa yang ada pada tubuh pasien, untuk digunakan pada tubuh si pasien itu sendiri. 

Artinya, membangun sistem imunitas di dalam badan pasien itu sendiri, dengan memodifikasi atau mengkondisikan imunitas tersebut, sebelum diberikan kembali pada tubuh pasien itu sendiri. 

"Jadi sangat mengenakkan karena driven atau dapat dikendalikan. Yang mahal adalah driven-nya. Terapi yang bisa dikendalikan adalah terapi yang bisa membawa kemajuan di depan," katanya. 

Immunoterapi disebutkan dr Terawan memiliki sejumlah khasiat penyembuhan penyakit. Diantaranya, pertama terhadap kerusakan ginjal akibat penyakit diabetes. 

Bahkan, pada kondisi tertentu, ampuh membuat tubuh semakin bugar. Terbukti, secara pribadi, ia membuktikan, tubuhnya tidak mudah lelah, tidak merasakan jetlag akibat perjalanan penerbangan. 

"Memang. Saya sudah disuntik sampai 6 kali, termasuk istri saya. Dampaknya jadi glowing aja. Gak mudah lelah, gak jetlag, kalau pergi kemanapun atau transit-transit, terbang lagi," terangnya. 

Kedua, terbaru, immunoterapi dapat mengobati kondisi  jantung lemah atau kardiomiopati (cardiomyopathy).

Atau dalam penyebutan yang lebih mudah versi dr. Terawan, kecenderungan mudah 'ngos-ngosan' saat naik turun tangga. 

Hasil riset khasiat immunoterapi untuk penyakit tersebut, disebutkan dr Terawan sudah terpublikasikan dalam jurnal Scopus Quartile 1 (Q1). 

"Kalau dulu ada pengobatan digitalisasi. Kalau sekarang ada immunoterapi. Bisa membuka suatu wawasan peluang baru. saya tidak bilang membuka alternatif baru, seolah-olah tidak bisa compare, tapi ada peluang baru yang mengalami kelelahan cardio failur," ungkapnya. 

Ketiga, Immunoterapi diperkirakan dapat menyembuhkan penyakit demam berdarah. Namun, khasiat ini, lanjut dr. Terawan masih memerlukan mekanisme uji klinis ke depannya. 

Dan ia berharap, proses uji klinis; Immunoterapi terhadap penyakit demam berdarah, dapat dilakukan dalam waktu dekat di Indonesia. 

"Karena bentuknya untuk massal maka saya melakukan uji klinis. Padahal Personal therapy ini tidak perlu uji klinis karena dari kita untuk kita. Namun pelayanan sifatnya masif dan massal harus diuji klinis. Untuk melihat bagaimana perspektifnya di populasi sangat besar," jelasnya. 

Keempat, immunoterapi diperkirakan dapat menyembuhkan penyakit kanker otak. 

Menurut dr. Terawan, khasiat Immunoterapi untuk mengobati kanker otak sangat menjanjikan. 

Pihaknya masih melakukan tahapan uji klinis ke-3 di Amerika, untuk memastikan khasiat Immunoterapi tersebut. 

"Mudah-mudahan hasil bisa kita lakukan untuk uji klinis III-nya, kita sudah menulis jurnalnya. Kita sudah menulis jurnalnya, untuk saya kerjakan sejak 2015, sudah terbit di jurnal 2019," ungkapnya. 

Lalu bagaimana teknis pengobatan Immunoterapi terhadap pasien, dr. Terawan menerangkan, pengobatan tersebut memakan waktu kurang lebih sekitar sepekan. 

Pada hari pertama, darah pasien akan diambil sekitar 40 cc. Lalu diolah selama sepekan minggu untuk dimurnikan dendritik sel darah. 

Sel dendritik, disebut leukosit dari sumsum tulang belakang dan merupakan jenis sel pembawa antigen terkuat. 

Kemudian, pada hari kelima, hasil.  Dendritik Sel tersebut dipertemukan dengan musuh, namanya Antigen. 

"Untuk memacu agar dendritik selnya bekerja, karena dia dari prematur atau muda dibikin menjadi dewasa," terangnya. 

Setelah sel menjadi dewasa, sel tersebut harus dihadapkan pada masalah, agar mengerti masalah yang akan dihadapi. Proses tersebut membutuhkan waktu selama dua hari. 

"Rampung satu minggu, kita cuci kita bersihkan sehingga tinggal dendritiknya saja. Dari dendritik itu saja, sehingga tinggal 1 cc itu disuntikkan ke badan kita secara sub mutan dibawah kulit," katanya. 

dr. Terawan menjelaskan, setelah cairan dendritik sel tersebut disuntikkan. Maka sel tersebut akan bekerja secara langsung. 

Yakni dengan menurunkan kondisi peradangan atau inflamasi; entitas terpenting dalam sistem pertahanan atau kekebalan tubuh manusia. 

"Begitu dia bekerja, maka inflamasi pertama, akan turun. Kalau inflamasi turun, bisa dibayangkan, otomatis bisa ditekan, nyaman. Otomatis juga tidurnya enak nyaman. Sehingga kualitas hidup kita bisa enak," katanya. 

dr. Terawan bersyukur immunoterapi terobosannya ini dapat disediakan di RS Bhayangkara Surabaya, sehingga dapat memberikan kemanfaatan secara terus menerus kepada masyarakat. 

Fasilitas layanan kesehatan di klinik Immunoterapi RS Bhayangkara Surabaya, menurutnya dapat mendukung proses penelitian riset berkelanjutan terhadap Immunoterapi. 

Apalagi laboratorium yang dimiliki RS Bhayangkara Surabaya berstandar ISO. Sehingga, menurut dr. Terawan, dapat memberikan riset-riset kesehatan yang semakin maju dan berkembang. 

Dan tidak menutup kemungkinan, RS Bhayangkara Surabaya juga dapat menerbitkan jurnal-jurnal yang berkualitas internasional; Scopus terindeks tertinggi Q1, yang bakal membanggakan di institusi Polri. 

"Saya akan mensupportnya. Karena pelayanan kesehatan tanpa  didukung dengan terus perkembangan riset, tidak akan mengalami kemajuan," ujarnya. 

"Riset itu seperti tambang. Makin digali, kalau tambang habis riset itu, atau ilmu pengetahuan, makin menjadi berkembang dan menghasilkan," pungkasnya. 

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved