Berita Bondowoso

Mulai Turun Hujan, Petani Tembakau di Bondowoso Ketar-ketir

Sepekan terakhir hujan melanda di sebagian wilayah Bondowoso. Akibatnya banyak petani tembakau yang ketar-ketir. Karena, diketahui mayoritas petani te

Tayang:
Editor: Ndaru Wijayanto
tribunjatim.com/Sinca Ari Pangistu
Seorang petani terlihat melihat tembakau kerosoknya yang tengah dijemur di Desa Jambesari, Kecamatan Jambesari DS 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sinca Ari Pangistu

TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO - Sepekan terakhir hujan melanda di sebagian wilayah Bondowoso. Akibatnya banyak petani tembakau yang ketar-ketir. Karena, diketahui mayoritas petani tembakau di Bondowoso masih belum memanen 100 persen tembakaunya.

Mohammad Yasid, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Bondowoso, menjelaskan, masih tersisa 5 persen tembakau petani yang belum dipanen. Utamanya, panen tembakau terakhir di bagian pucuknya.

"Tembakau di petani masih perkiraan tersisa 5 persen di lapangan belum terpanen," katanya dikonfirmasi Tribun Jatim, pada Jum'at (1/11/2024).

Meski harga tembakau terbilang stabil, dengan nominal tembakau kerosok Rp 6.500 per kilogram, dan tembakau rajangan harganya Rp 60 ribu per kilogram.

Namun, hujan yang melanda ini ditambah lagi sudah banyak gudang atau vendor yang per tanggal 31 Oktober 2024 sudah tutup. Menambah kekhawatiran petani.

Jika menengok pada tahun sebelumnya, kata Yasid, petani biasanya akan menjual tembakaunya di akhir-akhir ini kepada para penimbun. Atau pun pada perusahaan kecil yang melakukan pembelian.

"Tidak ada rumus tembakau tidak laku. Sebaiknya bisa disimpan oleh petani," jelasnya.

Baca juga: Serunya Para Pegawai Pemkab Bondowoso Berlomba Melinting Tembakau, Berpacu dengan Waktu 3 Menit Saja

Di Bondowoso sendiri, tahun ini terjadi peningkatan luasan lahan yang menanam tembakau yakni 10 ribu hektar. Dibanding tahun 2023 lalu yang berkisar di 6.500 hektar.

20 persen lahan tanam tembakau terbanyak di Kecamatan Maesan. Sedangkan sisanya tersebar di 21 kecamatan lainnya. Hanya di Kecamatan Ijen yang disebutnya tak menanam tembakau karena terlalu tinggi.

Namun karena iklim cuaca yang tak menentu, membuat petani agak mundur menanam tembakau efek dari tahun 2023 yang kemaraunya sangat panjang hingga Desember. Sementara saat ini, hingga November saja sudah mulai hujan.

Release BMKG yang diterima dari BPBD Bondowoso oleh Tribun Jatim, memang masyarakat Jawa Timur diminta untuk waspada. Karena diprediksi potensi cuaca ekstrim masih akan terjadi di beberaa kabupaten termasuk Bondowoso.

Bahkan, saat ini sebagian besar wilayah di Jawa Timur telah memasuki musim hujan.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved