Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Hikmah Ramadan 2025

Renungan Ramadan 1446 H, Nikmat Berbagi Kebahagiaan

Keseimbangan hidup merupakan wujud keindahan yang patut disyukuri. Misalnya, ketika kita diberi kebahagiaan bisa berbagi kepada orang lain.

Editor: Dwi Prastika
Istimewa
Wakil Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Dra Hj Faridatul Hanum, dalam artikel Hikmah Ramadan 2025 berjudul "Renungan Ramadan 1446 H, Nikmat Berbagi Kebahagiaan" yang ditayangkan pada Senin (17/3/2025). 

Oleh: Dra Hj Faridatul Hanum, MKom.I, Wakil Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur

TRIBUNJATIM.COM - Sepanjang tahun terdapat 11 bulan kita bergiat menjalankan mesin aktivitas yang sepenuhnya demi kepentingan kita sebagai makhluk, maka sebulan penuh berpuasa menyempurnakan kita dalam menghadirkan sifat dan sikap kehambaan kepada Allah subhanahu wa-ta'ala (SWT) dalam beribadah Ramadan.

Sebulan berpuasa itulah saat-saat kita mendinginkan mesin agar tidak mengalami kerusakan bila dijalankan terus-menerus.

Sepanjang waktu berpuasa, kita selalu teringat dan merasa dilihat Sang Khaliq.

Meskipun dalam keadaan sendiri dan tidak diketahui orang lain kita tidak mungkin menyeruput minuman atau menyantap makanan. Kita berkomitmen menjalankan puasa karena Allah Ta'ala serasa dekat dan senantiasa melihat kita.

Ruang-ruang kenikmatan bagi orang-orang beriman pada bulan Ramadan, bukan saja pada saat kita bisa menjalankan ibadah berpuasa dan menunaikan salat tarawih berjamaah di masjid atau musala bersama keluarga dan kerabat dekat. Melainkan juga bagaimana kita bisa merasakan keindahan dalam menjalankan keseimbangan hidup.

Keseimbangan hidup merupakan wujud keindahan yang patut disyukuri. Misalnya, ketika kita diberi kenikmatan dan anugerah kebahagiaan bisa berbagi kepada orang lain.

Keseimbangan itu juga bermakna lebih jelas dari dua sisi kehidupan: antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial.

Bila pada kesalehan ritual kita merasakan kenikmatan dalam meraih keindahan dalam dimensi spiritual, maka pada kesalehan sosial itu pun bisa raih kenikmatan berbagi kebahagian dengan sesama atau kepada orang lain.

Berbahagia bersama orang lain, bisa bersama keluaarga, orang-orang dekat, kerabat dan para sahabat kita.

Berbagi kebahagiaan bagi kaum mukminin dijalankan dengan satu orientasi penuh guna meraih rida Allah SWT. Bukan karena ingin dipuji orang lain, ataupun tanpa disertai rasa berbangga diri.

Berbagi kebahagiaan diwujudkan sebagai manifestasi rasa bersyukur atas karunia dan anugerah Allah Ta'ala.

Dengan semata-mata meraih rida Allah Ta'ala kita melakukan kesalehan sosial itu sekaligus merasakan kebahagiaan dalam kehidupan kita.

Memang, ada di antara kita yang tidak senang bila orang lain bahagia. Namun, kita bersyukur, kita bisa merasakan bahagia menyaksikan orang lain bahagia saat menerima rezeki dan terpenuhi sebagian kebutuhan hidupnya.

Rezeki mereka sesungguhnya datang dari Allah SWT, sedangkan kita bersyukur karena diberi kesempatan untuk menyampaikan atau berbagi rezeki kepada orang lain itu.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved