Mencari Jejak Penanda Hari Jadi Kabupaten Jombang

Perbincangan tentang 'hari jadi' kembali mencuat di kalangan masyarakat. Di tengah arus modernisasi, sebagian warga menilai

Penulis: Anggit Puji Widodo | Editor: Ndaru Wijayanto
tribunjatim.com/Anggit Pujie Widodo
HARI JADI JOMBANG - Arif Yulianto, pemerhati sejarah sekaligus anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) saat menunjukkan peta lama di mana wilayah di Jombang saat ini pada peta tersebut disebut dengan Tryk Madjapait di kediamannya di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur pada Minggu (17/8/2025). Spirit Majapahit bisa dijadikan patokan hari jadi karena Kabupaten Jombang belum menetapkan hari jadinya secara resmi. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Anggit Pujie Widodo

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Perbincangan tentang 'hari jadi' kembali mencuat di kalangan masyarakat. Di tengah arus modernisasi, sebagian warga menilai bahwa mencari penanda hari lahir sebuah daerah bukan sekadar persoalan administratif, melainkan juga pencarian jati diri.

Bagi Arif Yulianto, pemerhati sejarah sekaligus anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang, jawaban itu sudah ada, yakni Majapahit. Menurutnya, kebesaran kerajaan yang pernah menguasai hampir seluruh Nusantara itu tidak bisa dilepaskan dari tanah Jombang. 

“Kalau bicara spirit, kenapa tidak langsung mengambil yang besar? Majapahit bisa menjadi ‘tetenger’, penanda yang membangkitkan kebanggaan sekaligus semangat masyarakat,” ucapnya, Senin (18/8/2025).

Tak sulit menemukan jejak Majapahit di Jombang. Arif menyebut sejumlah situs, mulai dari Candi Rimbi di sisi selatan, hingga Petirtaan Sumberbeji yang dipercaya sudah digunakan sejak era Kadiri dan terus berlanjut di masa Majapahit.

Sementara itu, di museum mini milik Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang, tersimpan banyak artefak hasil temuan warga. 

Baca juga: Sejarah Bebas Pajak di Jombang: Raja Pernah Bebaskan Pajak, Kini Warga Keluhkan Kenaikan

Potongan gerabah, arca kecil, hingga batu-batu berpahat menjadi saksi bisu bahwa daerah ini bukan wilayah pinggiran, melainkan bagian penting dari pusat peradaban Majapahit.

“Di Kesamben ada patok-patok batu yang bentuknya serupa dengan penanda wilayah bebas pajak di Mojokerto. Kemungkinan besar itu peninggalan Majapahit,” jelas Arif.

Bukti sejarah tidak hanya hadir dalam bentuk candi atau batu, tetapi juga mengalir dalam tradisi dan kesenian masyarakat. Arif mencontohkan Wayang Topeng Jatiduwur di Kesamben yang hingga kini masih dipentaskan warga desa. 

“Kesenian itu diduga kuat sudah ada sejak Majapahit. Bahkan ada yang mengaitkan dengan kisah Panji, salah satu karya sastra asli Nusantara,” tambahnya.

Di wilayah utara Sungai Brantas, tepatnya di Dusun Bedander, Sumber Gondang, jejak Majapahit juga terpatri dalam benda maupun ritual. 

Sebuah batu yang diyakini sebagai dorpel pintu rumah tokoh setempat masih terjaga, sementara masyarakat masih melaksanakan tradisi mengelilingi Pager Banon. 

Baca juga: Cara Unik PKL Jombang Rayakan Kemederkaan, Gelar Upacara Bendera dengan Bahasa Jawa

Bedander sendiri diyakini pernah menjadi lokasi penting ketika Raja Jayanegara diselamatkan dari pemberontakan Ra Kuti oleh pasukan Bhayangkara pimpinan Gajah Mada.

Meski begitu, hingga kini Kabupaten Jombang belum menetapkan hari jadinya secara resmi. Upaya pembahasan sudah pernah dilakukan, namun hasilnya masih berupa Hari Jadi Pemerintah Kabupaten yang jatuh pada 21 Oktober 1910, tanggal turunnya SK Bupati pertama R.A.A. Soeroadiningrat V.

Arif berharap, ke depan Jombang berani mengambil pijakan lebih jauh dengan menjadikan spirit Majapahit sebagai penanda. 

“Sejarah ini bukan hanya milik masa lalu, tapi bisa menjadi energi bagi masa depan. Kalau Jombang ingin punya kebanggaan, Majapahit adalah jawabannya,” pungkasnya. 

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved