Pelanggan juga bisa memesan tulisan nama pada tas berbentuk masker.
Saat ini, dia mendapat pesanan 200 tas berbentuk masker yang ada tulisan nama pemesanan.
"Ada dua ukuran besar dan kecil. Kalau warna identik putih. Tas yang besar harganya Rp 125.000 dan yang kecil Rp 95.000," katanya.
Untuk pemasaran, Andreas mengandalkan penjualan di toko online. Pelanggannya, kebanyakan dari luar Jawa.
"Pesanan paling banyak dari Makasar. Total, saya punya 25 pekerja untuk memproduksi tas dan souvenir," ujarnya.
Andreas mengaku dengan penjualan kerajinan tas berbentuk masker setidaknya dapat menutup turunnya pendapatan dari kerajinan souvenir pernikahan miliknya di masa pandemi Covid-19.
Menurutnya, pesanan kerajinan souvenir pernikahan miliknya turun drastis selama pandemi Covid-19.
Saat kondisi normal, biasanya, dia bisa mendapatkan 25 orderan kerajinan souvenir pernikahan dari pelanggan dalam sebulan.
Sejak pandemi Covid-19, dia rata-rata hanya mendapatkan lima pesanan souvenir pernikahan dalam sebulan.
"Hasil penjualan tas berbentuk masker ini bisa menutup pendapatan dari kerajinan souvenir pernikahan yang turun," katanya.
Selain itu, kata Andreas, kerajinan tas berbentuk masker ini juga sebagai upaya mengkampanyekan penerapan protokol kesehatan (prokes) kepada masyarakat di masa pandemi Covid-19.
"Selama pandemi, semua orang wajib pakai masker. Tas berbentuk masker ini juga bisa jadi sarana kampanye wajib masker kepada masyarakat," ujarnya.
Berita Tentang virus Corona
Berita Tentang Blitar
Berita Tentang masker KN95