Mobil dinas berwarna hitam itu kini terparkir di tepi Jalan KS Tubuh, tepatnya di depan Kantor Pos Indonesia, dekat Puskesmas Pembantu Slipi 2, Palmerah, Jakarta Barat.
Kendaraan itu masih dipasangi garis polisi.
Kaca depan dan samping pecah, kap mesin penyok, serta lampu depan kanan-kiri hancur.
Interior mobil tampak berantakan dengan serpihan kaca berserakan di kursi berwarna krem.
Sidik mengatakan, peristiwa itu terjadi saat ia pulang dari kantor menuju rumahnya di Tanah Abang Dalam.
Ketika melintas di Bundaran Slipi, mobil yang ditumpanginya dicegat massa.
“Sekitar pukul 18.30 kami ketemu gerombolan anak-anak SMA, STM gabungan setelah demo. Ada yang bilang, ‘oh itu mobil anggota DPR’. Padahal saya sudah jelaskan, saya lurah, bukan anggota dewan,” ujarnya.
Massa tetap merangsek, memukul kaca, dan berteriak “bakar, pecahin!”.
Dalam upaya menghindar, mobil bahkan sempat menabrak gerobak siomay dan sepeda motor.
“Saya turun, saya jelaskan kalau saya lurah. Tapi massa tetap mukul saya. Sopir saya juga sempat dipukul dan dilempar batu,” kata Sidiq.
Sidik menyayangkan tindakan anarkistis massa yang menyerang kendaraan dinas dan menjarah barang milik pribadi.
Ia berharap penyampaian aspirasi ke depan dilakukan secara damai.
“Aspirasi boleh disampaikan sesuai undang-undang, tapi jangan sampai menjarah atau merusak mobil pelat merah. Kami bukan musuh kalian, kami sama-sama warga negara Republik Indonesia,” ujarnya.
Pemprov DKI Bakal Lapor Polisi
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menempuh jalur hukum terkait insiden perusakan mobil dinas dan penganiayaan terhadap Lurah Manggarai Selatan.