Berita Bondowoso

Meriahnya Selamatan Desa Jurang Sapi yang Digelar Warga Bondowoso, Arak Ribuan Kucur

Umumnya selamatan desa menggunakan gunungan hasil bumi. Di Desa Jurang Sapi, Kecamatan Tapen Bondowoso, Jawa Timur

Penulis: Anggit Puji Widodo | Editor: Januar
Tribun Jatim Network/Anggit Puji Widodo
KUCUR - Arak-arak gunungan kue Kucur dalam selamatan Desa Jurang Sapi, Kecamatan Tapen, Bondowoso, pada Jum'at (14/2/2026). Tradisi ini merupakan kegiatan selamatan desa atau Kadisah yang digelar setiap tahun sebagai ungkapan rasa syukur. 
Ringkasan Berita:
  • Desa Jurang Sapi, Kecamatan Tapen, Bondowoso, menggelar selamatan desa dengan 20 gunungan kue kucur berisi lebih dari 1.000 biji, bahkan ada yang dibentuk seperti kuda dan sapi.
  • Bentuk kue kucur yang menonjol di tengah melambangkan kantor desa, sementara bagian bulat di sekelilingnya menggambarkan dusun-dusun yang menopang pemerintahan. Tradisi ini menjadi simbol persatuan dan dukungan antarwarga.

 


Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Anggit Puji Widodo

TRIBUNJATIM.COM.COM, BONDOWOSO - Umumnya selamatan desa menggunakan gunungan hasil bumi. Di Desa Jurang Sapi, Kecamatan Tapen Bondowoso, Jawa Timur unik yakni menggunakan Kue Kucur, pada Jum'at (14/2/2026) kemarin.

Kue Kucur adalah kue tradisional yang terbuat dari adonan tepung dan gula. Bentuknya bulat, dan terdapat bagian menonjol di tengah.

Semua warga di setiap dusun membawa gunungan kucur. Diketahui ada 20 gunungan Kucor yang jika ditotal pada selametan desa kemarin, terdapat lebih dari 1.000 biji Kucur.

Dua di antara puluhan gunungan itu menarik perhatian warga karena dibentuk seperti Kuda dan Sapi.
Kepala Desa Jurangsapi, H. Hasbi Hasidi, mengatakan kue cucur tidak sekadar sajian tradisional. Bentuknya yang menonjol di bagian tengah melambangkan kantor pemerintahan desa. Kemudian bagian bulat di sekelilingnya menggambarkan dusun-dusun yang menopang dan menguatkan pemerintahan desa.

Baca juga: Sedekah Bumi Bandeng di Gresik, Ribuan Warga Desa ini Rela Antre Demi Ikan Gratis

“Artinya pemerintahan desa dan dusun harus bersatu dan saling mendukung. Festival ini kami laksanakan setiap setahun sekali,” ujarnya.

Menurutnya, semua gunungan kue Kucur ini kemudian diarak keliling lapangan. Arak-arakan diikuti perwakilan tiap dusun sebagai simbol kebersamaan dan dukungan terhadap pemerintahan desa.

"Tradisi Kadhisah menjadi agenda tahunan desa sebagai wujud syukur, doa keselamatan, serta penguatan persaudaraan masyarakat," ungkapnya.

Rangkaian Kadhisah yang sudah dilakukan pada tahun ke tiga ini diawali pembacaan Rotibul Haddat di masing-masing dusun, dilanjutkan selamatan dan doa bersama di balai desa. Puncak kegiatan ditandai pawai kue cucur dan ditutup dengan shalawatan pada malam hari.

 
 
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved