Tradisi dan Budaya di Jatim

Ritukan, Tradisi Unik Membangunkan Sahur di Ujungpangkah Gresik

Tradisi sahur unik Ritukan hadir di Ujungpangkah Gresik penuh musik, pawai budaya, dan semangat warga.

Tayang:
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
TribunJatim-Timur.com/tangkapan layar
TRADISI BANGUNKAN SAHUR - Ritukan, tradisi unik membangunkan sahur di Ujungpangkah, Gresik, Jawa Timur yang masih terus diugemi masyarakat. 
Ringkasan Berita:
  • Ritukan di Ujungpangkah, Gresik, adalah tradisi membangunkan sahur dengan musik kentongan, bedug, dan syair Islami, biasanya pada 10 hari terakhir Ramadan.
  • Tradisi berkembang dengan pawai seni budaya seperti serta tambahan sound system modern.
  • Warga dari anak-anak hingga lansia ikut meramaikan, menjadikan Ritukan semarak dan penuh kebersamaan.
  • Selain hiburan, Ritukan mengajarkan sahur yang tertib dan aman, tetap menjadi tradisi positif di desa.

TRIBUNJATIM.COM - Tradisi membangunkan warga untuk sahur saat Ramadan menjadi salah satu kekayaan budaya di Indonesia. 

Di pesisir utara Gresik, tradisi tersebut dikenal dengan nama Ritukan

Berbeda dari patrol sahur di daerah lain, Ritukan di Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur memiliki ciri khas yang unik dan semarak.

Ritukan digelar di beberapa desa, antara lain Pangkah Wetan, Pangkah Kulon, dan Banyuurip. 

Kegiatan ini biasanya berlangsung mulai pukul 00.30 hingga 02.30 WIB. 

Alunan musik kentongan, bedug, dan alat tabuh lainnya berpadu dengan senandung salawat dan syair Islami. 

Suasana malam yang sunyi seketika menjadi meriah, menandai sahur terakhir yang special menjelang Lebaran.

Baca juga: Patrol Sahur di Kota Malang, Tradisi Ramadan yang Perkuat Kerukunan Warga

Dari Ritual Ketuk hingga Pawai Seni Budaya

Melansir dari Kompas.id, Ritukan merupakan singkatan dari "Ritual Ketuk Ramadan".

Tradisi ini dilakukan terutama pada malam-malam ganjil 10 hari terakhir Ramadan, seperti malam 23, 25, dan 29.

Selain kentongan dan bedug, pawai Ritukan kini menampilkan berbagai seni budaya, seperti jaranan, pencak, dan reog. 

Iringan lantunan shalawat menambah khidmat sekaligus menghibur warga. 

Warga yang menonton biasanya naik ke atap rumah, pohon, hingga berdiri di atas kendaraan untuk menyaksikan parade.

Pergeseran Tradisi, Semakin Meriah

Seiring waktu, Ritukan mengalami pergeseran. 

Kini, beberapa kelompok masyarakat menambahkan sound system dalam parade mereka. 

Suara yang menggelegar dari pengeras suara di atas mobil pikap menembus dinginnya malam, membuat tradisi semakin semarak.

Kepala Desa Pangkah Wetan, Syaifullah Mahdi, menjelaskan bahwa tradisi Ritukan sudah berlangsung sejak lama, bahkan sejak masa kecilnya. 

Setiap tahun, tradisi ini menarik ratusan hingga ribuan warga yang hadir pada malam hari, dari anak-anak bahkan lansia ikut menciptakan keramaian yang meriah di jalanan desa.

Baca juga: Tradisi Ngabuburit Kumbohan di Lamongan, Uniknya Berburu Ikan Munggut saat Ramadan

Tradisi Positif dan Edukatif

Meskipun mengalami modernisasi, Ritukan tetap menjadi bagian penting dari budaya lokal Ujungpangkah.

Tradisi ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga mengandung nilai edukasi, mengingatkan masyarakat untuk sahur dengan tertib dan aman.

Dengan antusiasme warga yang ikut meramaikan, Ritukan terus dipertahankan sebagai tradisi yang positif, menghibur, dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved