Ramadan 2026
Apa Itu Ngabuburit? Ini Asal-Usul dan Makna di Baliknya
Dari Bahasa Sunda yang artinya santai sambil menunggu sore, ngabuburit kini jadi momen seru jelang berbuka puasa.
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda ngalantung ngadagoan burit, artinya bersantai sambil menunggu sore menjelang magrib.
- Sudah ada sejak 1960-an, Awalnya tradisi ini hanya berupa jalan-jalan sore untuk mengalihkan rasa lapar sebelum berbuka.
- Kini ngabuburit jadi momen seru yang bisa diisi berburu takjil, mengikuti kajian, atau kegiatan sosial.
- Menjadi simbol kebersamaan dan identitas budaya Ramadan.
TRIBUNJATIM.COM - Istilah ngabuburit begitu lekat dengan suasana Ramadan di Indonesia.
Setiap sore menjelang azan magrib, masyarakat ramai-ramai mengisi waktu dengan berbagai aktivitas sembari menunggu berbuka puasa.
Mulai dari berburu takjil, jalan-jalan sore, hingga mengikuti kajian agama, semuanya kerap disebut sebagai ngabuburit.
Meski kini digunakan secara nasional, ternyata kata ini memiliki akar kuat dari budaya Sunda.
Asal Usul Kata Ngabuburit
Secara etimologis kata ngabuburit atau mengabuburit berasal dari bahasa Sunda.
Dikutip dari Kamus Bahasa Sunda yang diterbitkan Lembaga Basa dan Sastra Sunda (LBSS), istilah ini merupakan lakuran dari frasa ngalantung ngadagoan burit, yang berarti bersantai sambil menunggu sore.
Kata dasar burit sendiri berarti waktu sore hari, khususnya menjelang magrib.
Waktu tersebut biasanya dimulai setelah salat Asar hingga sebelum matahari terbenam.
Namun ada juga pendapat lain yang menyebutkan bahwa ngabuburit berasal dari kata burit yang diberi imbuhan serta pengulangan suku kata pertama.
Dalam bahasa Sunda, pola morfologis seperti ini juga ditemukan pada kata ngabeubeurang (menunggu siang), ngabebetah (membuat nyaman), dan ngadeudeukeut (mendekati).
Baca juga: Daftar Lokasi Pasar Takjil Ramadan 2026 di Mojokerto yang Paling Diburu Warga untuk Ngabuburit
Tradisi Ngabuburit dalam Budaya Sunda
Tradisi ngabuburit sudah dikenal lama di tanah Sunda.
Melansir dari Kompas.com, kebiasaan ini bahkan sudah ada sejak sekitar tahun 1960-an.
Pada masa itu, masyarakat Sunda mengisi waktu menjelang berbuka dengan aktivitas ringan seperti berjalan-jalan sore atau bermain permainan tradisional.
Tujuannya untuk mengalihkan rasa lapar dan dahaga selama berpuasa.
Seiring waktu, aktivitas ngabuburit semakin beragam. Selain jalan-jalan, masyarakat juga memanfaatkan waktu sore untuk membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau mengikuti pengajian di masjid dan mushola.
Dalam Kamus Bahasa Sunda Danadibrata tahun 2006, ngabuburit juga diartikan sebagai kegiatan menghabiskan waktu menjelang magrib sambil berjalan-jalan.
Baca juga: Tradisi Ngabuburit Kumbohan di Lamongan, Uniknya Berburu Ikan Munggut saat Ramadan
Dari Istilah Lokal Menjadi Tradisi Nasional
Awalnya, penggunaan istilah ngabuburit terbatas di wilayah Jawa Barat dan kalangan masyarakat Sunda. Namun, lambat laun kata ini menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.
Istilah ngabuburit bahkan sudah tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Artinya, kata tersebut telah diakui sebagai bagian dari kosakata bahasa Indonesia.
Popularitasnya semakin meningkat ketika digunakan dalam berbagai program televisi dan acara hiburan Ramadan.
Pada 2012, TransTV menayangkan program bertajuk Ngabuburit, disusul program serupa pada 2018 dengan judul Ngabuburit Happy.
Ngabuburit di Berbagai Daerah dan Tanah Melayu
Meski berasal dari bahasa Sunda, praktik ngabuburit kini menjadi bagian dari budaya Ramadan di seluruh Indonesia.
Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri dalam mengisi waktu menjelang magrib.
Di wilayah Minangkabau dikenal istilah malengah puaso, di Banjar disebut basambang, sedangkan di Madura dikenal sebagai nyarè malem atau nyarè bhuka’an.
Bahkan di wilayah Tanah Melayu seperti Batam dan sekitarnya, istilah ngabuburit juga digunakan untuk menggambarkan keramaian Pasar Ramadan atau Pasar Juadah.
Di sana, masyarakat berburu aneka kuliner khas seperti nasi lemak, roti john, ayam percik, hingga berbagai minuman segar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ngabuburit bukan sekadar istilah, melainkan telah menjadi bagian dari identitas budaya Ramadan di Indonesia.
Baca juga: Jangan Asal Ngabuburit, Simak Tips Isi Waktu Menjelang Buka Puasa Agar Nilai Ramadan Meningkat
Makna Ngabuburit di Era Modern
Kini, ngabuburit tidak hanya identik dengan jalan-jalan atau berburu takjil.
Generasi muda juga mengisinya dengan diskusi keislaman, kajian kampus, hingga kegiatan sosial.
Kegiatan ini menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus memperkaya makna Ramadan.
Dari tradisi lokal di tanah Sunda, ngabuburit berubah menjadi simbol kebersamaan umat Islam di Indonesia.
Selama esensinya tetap dijaga, yakni mengisi waktu dengan kegiatan positif menjelang berbuka, ngabuburit akan terus hidup sebagai tradisi khas Ramadan di Nusantara.
ngabuburit
arti kata ngabuburit
Ramadan
bahasa Sunda
asal kata ngabuburit
Tribun Jatim
TribunJatim.com
arti kata
istilah ngabuburit
Ramadhan 2026
| Parade Oklik Semarakkan Malam 29 Ramadan di Bojonegoro, 1.100 Obor Dinyalakan |
|
|---|
| Gubernur Khofifah Belanja Bandeng Kawak di Pasar Bandeng Gresik: Rekomendasi Pemudik |
|
|---|
| Doa Akhir Ramadan yang Diajarkan Rasulullah SAW Lengkap dengan Terjemahannya |
|
|---|
| Ciri-ciri Orang Mendapat Lailatul Qadar Ramadan 1447 H/2026 Menurut Buya Yahya |
|
|---|
| Cara Karyawan Freeport Indonesia Meriahkan Ramadan, Gelar Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Bazar-Ngabuburit-di-area-lapangan-belakang-Pemkab-Kediri.jpg)