Sejarah di Jatim

Mengulas Sejarah Candi Kidal Malang, Tempat Pendharmaan Raja Anusapati dan Kisah Relief Garudeya

Candi Kidal di Tumpang, Malang, merupakan peninggalan Kerajaan Singasari yang menyimpan sejarah Raja Anusapati dan relief Garudeya yang sarat makna.

Dok. jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id
CANDI KIDAL PENINGGALAN SINGASARI - Pintu masuk Candi Kidal, candi peninggalan Kerajaan Singasari yang bercorak Hindu, berlokasi di Desa Rejokidal, Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dibangun sekitar tahun 1248 M, candi ini berfungsi sebagai tempat pendarmaan (penghormatan) bagi Raja Anusapati, raja kedua Singasari yang memerintah 1227-1248 M. 
Ringkasan Berita:
  • Candi Kidal di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, merupakan peninggalan Kerajaan Singasari yang dibangun sebagai tempat pendharmaan Raja Anusapati.
  • Candi ini memiliki arsitektur khas Jawa Timur serta terkenal dengan relief kisah Garudeya yang mengandung pesan moral tentang bakti, perjuangan, dan pembebasan dari penderitaan.
  • Ditemukan sejak masa kolonial dan dipugar pada 1987–1990, Candi Kidal kini menjadi warisan sejarah sekaligus destinasi wisata edukasi yang penting untuk dilestarikan.

 

TRIBUNJATIM.COMKabupaten Malang menyimpan banyak peninggalan sejarah penting dari masa kerajaan di Nusantara.

Salah satu situs bersejarah yang masih berdiri hingga kini adalah Candi Kidal.

Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singasari yang sarat nilai sejarah, budaya, dan filosofi.

Candi yang berada di wilayah Kecamatan Tumpang ini dikenal sebagai tempat pendharmaan Raja Anusapati, raja kedua Singasari.

Selain itu, candi ini juga terkenal karena relief kisah Garudeya, yang mengandung pesan moral tentang pengorbanan dan pembebasan dari penderitaan.

Peninggalan Kerajaan Singasari

CANDI KIDAL - Candi peninggalan Kerajaan Singasari yang bercorak Hindu, berlokasi di Desa Rejokidal, Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dibangun sekitar tahun 1248 M, candi ini berfungsi sebagai tempat pendarmaan (penghormatan) bagi Raja Anusapati, raja kedua Singasari yang memerintah 1227-1248 M.
CANDI KIDAL - Candi peninggalan Kerajaan Singasari yang bercorak Hindu, berlokasi di Desa Rejokidal, Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dibangun sekitar tahun 1248 M, candi ini berfungsi sebagai tempat pendarmaan (penghormatan) bagi Raja Anusapati, raja kedua Singasari yang memerintah 1227-1248 M. (Wikimedia Commons/Anandajoti Bhikkhu)

Candi Kidal merupakan salah satu peninggalan penting dari masa Kerajaan Singasari.

Diketahui, Candi ini dibangun untuk menghormati jasa Raja Anusapati, putra Ken Dedes dan Tunggul Ametung.

Anusapati merupakan raja kedua Singasari yang memerintah selama sekitar 20 tahun, yakni pada periode 1227 hingga 1248.

Saat itu, ia naik takhta setelah berhasil menggulingkan ayah tirinya, Ken Arok.

Namun, perjalanan kekuasaan Anusapati tidak berlangsung lama.

Sebagaimana disebutkan dalam Pararaton, Anusapati akhirnya tewas dibunuh oleh Panji Tohjaya, yang merupakan putra Ken Arok dari istrinya, Ken Umang.

Peristiwa tersebut juga sering dikaitkan dengan legenda kutukan keris Mpu Gandring.

Candi Pendharmaan Raja Anusapati

Dikutip dari disporapar.malangkota.go.id, pembangunan Candi Kidal diperkirakan dimulai setelah kematian Anusapati sebagai bentuk penghormatan terhadap raja tersebut.

Pembangunan candi ini juga berkaitan dengan pelaksanaan upacara sraddha, yaitu ritual penghormatan terhadap raja yang dilakukan 12 tahun setelah kematiannya.

Upacara tersebut diperkirakan dilaksanakan sekitar tahun 1248 Masehi, sedangkan pembangunan candi diperkirakan selesai sekitar tahun 1260 Masehi.

Menurut kitab Pararaton, Candi Kidal didirikan sebagai tempat pendharmaan Raja Anusapati, yaitu tempat pemujaan bagi raja yang telah meninggal.

Sementara dalam kitab Nagarakretagama, disebutkan bahwa Raja Anusapati didharmakan atau dimuliakan di Candi Kidal sebagai perwujudan Dewa Siwa.

Sebagaimana dilansir dari kompas.com, tujuan pembangunan candi ini adalah untuk memuliakan Anusapati agar mencapai kedudukan suci sebagai Siwa Mahadewa.

Di dalam bilik utama candi dahulu terdapat arca Siwa yang diyakini sebagai perwujudan Anusapati.

Namun, arca tersebut kini disimpan di Royal Tropical Institute di Amsterdam.

Selain itu, terdapat beberapa arca lain seperti Nandicwara dan Mahakala juga pernah ditemukan di sekitar candi.

Baca juga: Sejarah Candi Jago di Malang, Peninggalan Kerajaan Singhasari yang Sarat Relief Hindu-Buddha

Lokasi Candi Kidal

Candi Kidal berada di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sekitar 20 kilometer di sebelah timur Kota Malang.

Diketahui, lokasi candi berada di lereng barat Pegunungan Tengger dengan ketinggian sekitar 517 meter di atas permukaan laut.

Lingkungan sekitar candi masih bernuansa pedesaan dengan tanah subur yang merupakan endapan lahar gunung berapi.

Di sebelah timur kawasan candi juga mengalir Sungai Brantas yang dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan pertanian.

Selain itu, di sekitar candi juga masih dipenuhi berbagai tanaman keras seperti pohon duku, sawo, dan bambu.

Suasana yang asri dengan pepohonan rindang tersebut membuat kawasan candi terasa sejuk dan alami bagi pengunjung.

Arsitektur Candi Bergaya Jawa Timur

Candi Kidal memiliki arsitektur khas Jawa Timur yang tampak ramping dan menjulang ke atas.

Bangunan candi ini berdenah bujur sangkar dengan ukuran sekitar 8,36 x 8,36 meter dan terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kaki, tubuh, dan atap.

Candi ini terbuat dari batu andesit, sementara bagian fondasi dan kaki candinya menggunakan meterial bata.

Bagian kaki candi tampak cukup tinggi, sedangkan tubuh candinya berada sedikit ke belakang sehingga memberi kesan bangunan yang langsing.

Pada bagian atap, candi memiliki beberapa tingkat yang semakin mengecil ke atas, menyerupai bentuk piramida dengan puncak berbentuk kubus.

Dilansir dari kelsumbersari.malangkota.go.id, di setiap sudut kaki candi terdapat hiasan arca singa yang digambarkan seolah-olah menyangga bangunan candi.

Selain itu, pada pintu masuk candi terdapat hiasan atau pahatan kepala kala dengan mata melotot dan taring besar yang melengkung.

Ornamen ini merupakan ciri khas candi bergaya Jawa Timur dan berfungsi sebagai penjaga bangunan suci.

Baca juga: Asal Usul Candi Bajang Ratu, Gapura Megah Peninggalan Kerajaan Majapahit

Relief Garudeya yang Sarat Makna

Relief Garudeya pada Candi Kidal Malang
Candi Kidal memiliki keunikan berupa relief Garuderya yang terpahat pada bagian kaki candi. Relief ini menggambarkan kisah Garudeya, cerita mitologi Hindu yang berkisah tentang perjuangan Garuda membebaskan ibunya dari perbudakan. (jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id)

Salah satu keunikan Candi Kidal terletak pada relief Garuderya yang terpahat pada bagian kaki candi.

Konon, relief tersebut menggambarkan kisah Garudeya, cerita mitologi Hindu yang berkisah tentang perjuangan Garuda membebaskan ibunya dari perbudakan.

Cerita Garudeya sendiri merupakan bagian dari kisah dalam Mahabharata, yang sangat populer dalam kesusastraan Jawa kuno.

Diketahui, relief Garudeya di Candi Kidal terdiri dari tiga panel utama yang dapat dibaca dengan berjalan mengelilingi candi.

  1. Relief pertama menggambarkan Garuda bersama tiga ekor ular naga, yang menandakan ibunya masih berada dalam perbudakan.
  2. Relief kedua menunjukkan Garuda membawa kendi berisi air suci amerta, yang diperolehnya setelah mengalahkan para dewa di kahyangan.
  3. Relief ketiga menggambarkan Garuda menggendong ibunya setelah terbebas dari perbudakan.

Menariknya, relief ini biasanya dibaca dengan cara berjalan berlawanan arah jarum jam, dimulai dari sisi selatan candi.

Cerita tersebut mengandung pesan moral tentang bakti kepada orang tua, perjuangan, dan pembebasan dari penderitaan.

Banyak sejarawan meyakini bahwa relief ini dibuat sebagai simbol kecintaan Raja Anusapati kepada ibunya, Ken Dedes, yang sepanjang hidupnya mengalami banyak penderitaan.

Ken Dedes dikenal sebagai sosok perempuan yang kehidupannya penuh konflik politik pada masa Kerajaan Singasari.

Ia pertama kali menjadi istri Tunggul Ametung, kemudian dipersunting oleh Ken Arok setelah suaminya dibunuh.

Karena itu, relief Garudeya dianggap sebagai simbol bakti Anusapati kepada ibunya yang ingin dibebaskan dari penderitaan hidup.

Riwayat Penemuan dan Pemugaran

Candi Kidal pertama kali dicatat oleh Thomas Stamford Raffles pada tahun 1817 ketika ia menulis tentang peninggalan sejarah di Jawa.

Saat itu, kondisi candi masih tertutup hutan dan belum sepenuhnya terlihat jelas.

Seiring waktu, berbagai penelitian dilakukan oleh para ahli arkeologi untuk mengungkap sejarah dan struktur bangunan candi ini, termasuk oleh F.D.K. Bosch.

Ia menyimpulkan bahwa Candi Kidal merupakan tempat pendharmaan Raja Anusapati.

Kemudian, pemugaran besar terhadap Candi Kidal dilakukan pada 1987 hingga 1990 guna mengembalikan bentuk aslinya serta menjaga kelestarian bangunan.

Baca juga: Mengulik Sejarah Candi Badut, Candi Tertua di Jawa Timur yang Menyimpan Jejak Kerajaan Kanjuruhan

Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan

Saat ini, Candi Kidal masih berdiri kokoh sebagai salah satu warisan sejarah penting di Jawa Timur.

Keberadaannya menjadi bukti kejayaan Kerajaan Singasari sekaligus sumber pengetahuan tentang budaya dan kepercayaan masyarakat pada masa lampau.

Karena itu, pelestarian Candi Kidal sangat penting dilakukan karena situs ini memiliki nilai sejarah, pendidikan, serta budaya yang tinggi bagi generasi masa kini dan mendatang.

Selain menjadi tempat penelitian sejarah, candi ini juga menjadi destinasi wisata edukasi yang menarik bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih jauh perjalanan peradaban Nusantara.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved