Harap Pasokan Solar Tak Terdampak Perang, Nelayan Popoh Tulungagung Usulkan Bangun SPBN

Para nelayan di Pantai Popoh Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung tidak merasakan dampak perang Iran.

Penulis: David Yohanes | Editor: Ndaru Wijayanto
Tribun Jatim Network/David Yohanes
SANDAR DI PELABUHAN - Sejumlah kapal nelayan sandar di Pelabuhan Perikanan Popoh di Desa Besole, Kecamatan Besuki di saat tidak musim ikan. Para nelayan berharap peran Iran dan penutupan Selat Hormus tidak mempengaruhi pasokan solar untuk melaut. 

 

Ringkasan Berita:
  • Nelayan di Pantai Popoh masih bisa mendapatkan solar meski ada kekhawatiran dampak konflik Iran dan penutupan Selat Hormuz.
  • Mayoritas nelayan merupakan kapal kecil yang tetap melaut, sementara kapal besar banyak berhenti karena cuaca buruk.
  • Pembelian solar bersubsidi dilakukan dengan rekomendasi ketat dan dibatasi kuota 60 liter per nelayan

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, David Yohanes

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Para nelayan di Pantai Popoh Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung tidak merasakan dampak perang Iran.

Penutupan Selat Hormuz membuat kiriman bahan bakar terhambat, dikhawatirkan menyulitkan pasokan solar untuk nelayan.

Menurut Ketua Paguyuban Nelayan Pantai Popoh, Mohammad Sadat, sampai saat ini para nelayan masih bisa membeli solar.

“Memang selama 2 bulan ini banyak kapal besar yang tidak melaut karena cuaca kurang bagus. Tapi nelayan-nelayan kecil masih melaut, mereka masih bisa beli solar,” ujarnya.

Saat ini data kasar jumlah nelayan di Pantai Popoh Tulungagung lebih dari 300 orang.

Dari jumlah ini mayoritas adalah kapal-kapal ukuran kecil.

Untuk kebutuhan bahan bakar mesin diesel kapal, para nelayan membeli solar bersubsidi.

Baca juga: Beri Waktu sampai 6 April, Trump Bersumpah Serang Aset Energi Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka

“Kami dapat rekomendasi dari otoritas pelabuhan agar bisa membeli solar bersubsidi. Pemberian rekomendasi juga dilakukan dengan ketat, tidak sembarangan,” sambung Sadat.

Berbekal rekomendasi ini, para nelayan membeli solar subsidi di SPBU Ngentrong Kecamatan Campurdarat atau SPBU Tanggulkundung di Kecamatan Besuki.

Setiap nelayan mendapatkan kuota 60 liter solar untuk satu kali pembelian.

Alokasi solar ini tidak mencukupi untuk kapal besar ukuran 15 GT yang memerlukan 200 liter hingga 250 liter untuk sekali melaut.

“Biasanya kami belinya bersama-sama untuk saling mencukupi. Yang penting sesuai aturan, jangan sampai disalahgunakan,” ujarnya.

Saat musim ikan, pembelian solar dilakukan 2 kali sehari.

Baca juga: 5 Negara yang Diizinkan Iran Lewati Selat Hormuz, Mengapa Indonesia Tidak Ada?

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved