Berita Lamongan
Sepekan Cuaca Panas Menyengat, Lamongan Mulai Hadapi Ancaman Kemarau Panjang
Sudah hampir sepekan terakhir cuaca di Kabupaten Lamongan terasa lebih panas dari biasanya.
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Januar
Ringkasan Berita:
- BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Lamongan dan sebagian besar Jawa Timur akan datang lebih awal, lebih panjang, dan lebih kering, dengan puncak pada Agustus. Dampaknya meliputi panas ekstrem, risiko dehidrasi, dan gangguan kesehatan serta ancaman berkurangnya pasokan air untuk pertanian dan tambak.
- Pemerintah daerah telah menampung dan mengalihkan air dari waduk besar ke waduk kecil dan embung, serta mengatur distribusi air ke lahan pertanian agar pasokan tetap merata selama kemarau.
Laporan wartawan TribunJatim.com, Hanif Manshuri
TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Sudah hampir sepekan terakhir cuaca di Kabupaten Lamongan terasa lebih panas dari biasanya.
Terik matahari menyengat sejak pagi hingga siang hari. Di sejumlah wilayah, terutama kawasan pesisir utara dan sentra tambak, warga mulai merasakan dampaknya.
Aktivitas di luar ruangan menjadi lebih berat, sementara kebutuhan air terus meningkat.
Kondisi ini diperkirakan bukan sekadar fenomena biasa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih awal, lebih panjang, dan lebih kering dibanding kondisi normal.
Baca juga: Antisipasi Kemarau 2026, Khofifah Instruksikan Bupati-Wali Kota Jaga Produksi Pertanian Jawa Timur
Sebagian besar wilayah Jawa Timur, termasuk Lamongan, diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April ini.
BMKG juga memperkirakan lebih dari 64 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau.
Bahkan, sekitar 57 persen wilayah diprediksi menghadapi kemarau yang lebih panjang dari biasanya, dengan puncaknya terjadi pada Agustus 2026.
Jawa Timur menjadi salah satu daerah yang masuk dalam kategori rawan kekeringan dan suhu panas ekstrem.
Bagi masyarakat Lamongan, kondisi ini dipastikan akan mempengaruhi berbagai aktivitas. Warga yang bekerja di luar ruangan, pedagang, nelayan, hingga pelajar akan merasakan dampak panas berkepanjangan.
Risiko dehidrasi, kelelahan, dan gangguan kesehatan akibat paparan sinar matahari juga meningkat, terutama pada siang hari.
Yang paling merasakan dampaknya adalah sektor pertanian dan tambak. Lamongan selama ini dikenal sebagai salah satu daerah lumbung pangan dan sentra perikanan tambak di Jawa Timur.
Saat kemarau berkepanjangan datang, petani tambak menghadapi ancaman berkurangnya pasokan air dan meningkatnya kadar garam di tambak. Kondisi itu bisa mempengaruhi produktivitas budidaya ikan maupun udang, karena terjadi intrusi di air Bengawan Solo.
Selain petani tambak, petani padi juga harus bersiap menghadapi potensi berkurangnya air irigasi. Bila distribusi air tidak diatur dengan baik, lahan pertanian berisiko mengalami kekeringan pada masa tanam.
Pemkab Lamongan Mengawali Lakukan Antisipasi
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, mengatakan pemerintah daerah telah melakukan langkah antisipasi sejak musim hujan ekstrem beberapa waktu lalu.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah menampung dan mengalihkan luapan air dari waduk-waduk besar ke waduk kecil serta embung di berbagai wilayah.
Menurut Yuhronur, langkah itu sengaja dilakukan agar cadangan air tetap tersedia saat kemarau datang. Air yang sempat melimpah pada musim hujan lalu kini disimpan untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan masyarakat selama musim kering.
“Pemkab sudah mengalihkan luapan air dari waduk besar ke waduk dan embung kecil saat musim hujan kemarin. Jadi ketika musim kemarau datang, stok air di waduk dan embung masih tersedia,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga mulai mengatur distribusi air dari waduk dan embung ke lahan-lahan pertanian. Pengaturan dilakukan agar pasokan air bisa dibagi merata dan lahan pertanian tetap mendapatkan suplai, terutama pada masa tanam mendatang.
Dukungan Petani Sangat Menentukan
Bupati menegaskan, langkah antisipasi tersebut tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan para petani. Karena itu, para petani diminta mematuhi anjuran dari dinas terkait mengenai pola tanam yang sesuai dengan kondisi musim kemarau.
"Para petani diimbau tidak memaksakan menanam komoditas yang membutuhkan banyak air jika ketersediaan air terbatas, " tambahnya.
Sebaliknya, mereka diminta mengikuti pola tanam yang telah disusun berdasarkan kondisi lapangan, termasuk penyesuaian jadwal tanam dan jenis tanaman yang lebih tahan terhadap cuaca kering.
“Petani harus mematuhi anjuran pola tanam dari dinas. Kepatuhan para petani itu manfaatnya akan kembali kepada petani itu sendiri,” kata Yuhronur.
Dengan ancaman kemarau panjang yang diprediksi BMKG, kewaspadaan sejak dini menjadi hal penting. Pemerintah daerah, petani, petani tambak, hingga masyarakat umum perlu bersiap menghadapi kemungkinan berkurangnya air, meningkatnya suhu, hingga potensi kebakaran lahan.
"Bila langkah antisipasi dilakukan sejak sekarang, dampak kemarau ekstrem di Lamongan diharapkan bisa ditekan, " pungkasnya.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com
| Jalan Salib Umat Katolik di Lamongan Berlangsung Hidmat, Sampaikan Pesan Berdampingan dalam Kasih |
|
|---|
| Malam Hari, Warga Lamongan Tiba-tiba Dibacok, Bermula dari Jemput Seorang Teman |
|
|---|
| Biaya Pindah Trafo Masjid At-Taqwa Banyubang Lamongan Capai Rp 80 Juta, Warga Seketika Pusing |
|
|---|
| Datang ke Resepsi Pernikahan, Tamu di Lamongan Bawa Bukti Transfer Hadiah dan Cetak di Banner |
|
|---|
| PKL Mulai Patuhi Aturan, Kawasan Jalan Ki Sarmidi Mangun Sarkoro Lamongan Mulai Enak Dilihat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/LAHAN-TAMBAK-Lahan-di-Lamongan-Jawa-Timur-yang-dalam-satu-hingga-dua-bulan.jpg)