Sejarah di Jatim

Sejarah Kampung Kemasan Gresik, Dari Permukiman Pengrajin Emas hingga Jadi Kawasan Heritage

Dari kampung pengrajin emas hingga kawasan heritage, Kampung Kemasan Gresik menyimpan jejak sejarah dan keindahan bangunan kuno yang masih terjaga.

Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Dok. Pustaka Jawatimuran
SEJARAH KAMPUNG KEMASAN - Kampung Kemasan di Gresik, awalnya merupakan permukiman pengrajin emas abad ke-19 yang kini berkembang menjadi kawasan heritage dengan bangunan kuno bergaya Eropa-Tionghoa. 
Ringkasan Berita:
  • Kampung Kemasan di Gresik merupakan kawasan bersejarah sejak abad ke-19, bermula dari permukiman pengrajin emas Bak Liong.
  • Pada 1850-an, kawasan ini berkembang pesat sebagai pusat ekonomi berkat usaha kulit milik H. Oemar bin Ahmad.
  • Ciri khasnya terlihat dari arsitektur rumah yang memadukan gaya Eropa, Tionghoa, Jawa, dan Melayu.
  • Kini, Kampung Kemasan dikenal sebagai kawasan heritage dan wisata sejarah yang tetap bertahan di tengah modernisasi.

 

TRIBUNJATIM.COM - Kabupaten Gresik dikenal sebagai kota industri, namun di balik itu tersimpan kawasan bersejarah yang menyimpan jejak masa lalu, yakni Kampung Kemasan

Perkampungan ini menjadi salah satu bukti perkembangan sosial, ekonomi, dan budaya di Gresik sejak abad ke-19.

Kampung Kemasan terletak di Jalan Nyai Ageng Arem-arem, Gang III, Kebungson, Gresik, Jawa Timur, sekitar 700 meter dari alun-alun kota. 

Kawasan ini berupa gang sepanjang kurang lebih 200 meter yang diapit deretan rumah kuno di sisi kanan dan kiri jalan. 

Hingga kini, bangunan tersebut masih berdiri dan sebagian tetap difungsikan sebagai hunian.

Dikutip dari sidita.disbudpar.jatimprov.go.id, Kampung Kemasan dikenal sebagai kawasan dengan rumah-rumah tua bergaya arsitektur Eropa dan Tionghoa. 

Keunikan ini menjadikan kampung tersebut sebagai salah satu kawasan yang berpotensi menjadi cagar budaya.

Nama “Kemasan” sendiri memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan aktivitas ekonomi masyarakat pada masa lampau.

Diketahui, nama Kemasan berasal dari seorang pengrajin emas bernama Bak Liong yang tinggal di kawasan tersebut.

Karena keahliannya dalam membuat perhiasan, banyak orang datang untuk memesan atau memperbaiki emas. 

Seiring berjalannya waktu, kawasan ini kemudian dikenal sebagai sentra pengrajin emas, hingga akhirnya populer dengan nama Kampung Kemasan.

Baca juga: Sejarah Petirtaan Jolotundo Mojokerto, Situs Kuno yang Dibangun untuk Menyambut Kelahiran Airlangga

Kampung Kemasan, Jalan Nyai Ageng Arem-Arem, Gang III, Kebungson, Gresik, Jawa Timur
Kampung Kemasan, Jalan Nyai Ageng Arem-Arem, Gang III, Kebungson, Gresik, Jawa Timur (Dok sidita.disbudpar.jatimprov.go.id)

Awal Mula dan Perkembangan Kampung

Dilansir dari jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id, sejarah Kampung Kemasan bermula sekitar tahun 1853. 

Saat itu, kawasan ini berkembang di sekitar aliran sungai kecil yang menjadi jalur penghubung perdagangan hingga ke laut.

Setelah masa Bak Liong, kawasan ini sempat mengalami penurunan aktivitas. 

Namun kemudian berkembang kembali ketika seorang pengusaha kulit keturunan Arab, H. Oemar bin Ahmad, membeli dan membangun kawasan tersebut sekitar tahun 1855.

Perkembangan Kampung Kemasan semakin pesat ketika usaha penyamakan kulit yang dikelola keluarga Oemar mengalami masa kejayaan. 

Usaha tersebut bahkan mampu menjangkau puluhan kota di Jawa Timur, menjadikan kawasan ini sebagai pusat ekonomi yang cukup penting pada masanya.

Kemajuan ekonomi tersebut berdampak pada pembangunan rumah-rumah megah di Kampung Kemasan

Rumah-rumah ini menjadi simbol status sosial pemiliknya dan mencerminkan masa keemasan kawasan tersebut.

Baca juga: Sejarah Situs Duplang Jember, Sarana Ritual dan Pemakaman Zaman Prasejarah Megalitikum

Salah satu sudut pemandangan rumah Gajah Mungkur di Kampung Kemasan, Gresik, Jawa Timur
Salah satu sudut pemandangan rumah Gajah Mungkur di Kampung Kemasan, Gresik, Jawa Timur. (KOMPAS.com/HAMZAH ARFAH)

Perpaduan Arsitektur Eropa dan Tionghoa

Kampung Kemasan memiliki ciri khas utama pada arsitektur bangunannya yang merupakan hasil akulturasi budaya. 

Dikutip dari budaya-indonesia.org, pengaruh budaya kolonial Belanda dan Tionghoa sangat terlihat pada desain rumah-rumah di kawasan ini.

Gaya Eropa tampak pada pilar-pilar besar, jendela dan pintu berukuran tinggi, serta ornamen klasik pada bagian dinding. 

Sementara itu, pengaruh Tionghoa terlihat pada bentuk atap dan penggunaan warna merah yang melambangkan keberuntungan dan kemakmuran.

Selain itu, beberapa bangunan juga memiliki elemen arsitektur lain seperti gaya Melayu dan Jawa. 

Hal ini menunjukkan bahwa Kampung Kemasan menjadi tempat pertemuan berbagai budaya yang hidup berdampingan pada masa lalu.

Keunikan arsitektur tersebut menjadikan Kampung Kemasan tidak hanya sebagai kawasan permukiman, tetapi juga sebagai representasi sejarah akulturasi budaya di Gresik.

Ikon Rumah Gajah Mungkur dan Daya Tarik Wisata

Salah satu bangunan paling terkenal di Kampung Kemasan adalah Rumah Gajah Mungkur. 

Melansir kompas.com, rumah ini menjadi ikon kawasan karena ukurannya yang besar dan keaslian bangunannya yang masih terjaga.

Rumah tersebut dibangun pada akhir abad ke-19 dan hingga kini masih dihuni oleh keturunan pemiliknya. 

Keberadaan bangunan ini memperkuat identitas Kampung Kemasan sebagai kawasan heritage.

Seiring waktu, Kampung Kemasan mulai dilirik sebagai destinasi wisata sejarah

Banyak wisatawan datang untuk berfoto, melakukan prewedding, hingga melakukan penelitian terkait bangunan kuno.

Bahkan, kawasan ini pernah masuk dalam kategori daya tarik wisata favorit pada ajang Anugerah Wisata 2011

Hal tersebut menunjukkan bahwa Kampung Kemasan memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya di Gresik.

Baca juga: Menelusuri Sejarah Museum Trinil Ngawi, Jejak Awal Penemuan Manusia Purba di Indonesia

Pemandangan rumah Gajah Mungkur di Kampung Kemasan, Gresik, Jawa Timur.
Pemandangan rumah Gajah Mungkur di Kampung Kemasan, Gresik, Jawa Timur. (KOMPAS.com/HAMZAH ARFAH)

Bertahan di Tengah Modernisasi

Di tengah pesatnya perkembangan industri di Gresik, Kampung Kemasan tetap bertahan sebagai kawasan bersejarah. 

Sebagian besar bangunan masih dirawat oleh pemiliknya dan tidak banyak mengalami perubahan bentuk.

Selain sebagai tempat tinggal, beberapa rumah juga dimanfaatkan untuk budidaya burung walet di bagian atas bangunan. 

Hal ini menunjukkan adanya adaptasi fungsi tanpa menghilangkan nilai historis bangunan.

Kampung Kemasan juga menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat tetap hidup di tengah modernisasi. 

Keberadaannya tidak hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga menjadi identitas penting bagi masyarakat Gresik.

Dengan keunikan sejarah, arsitektur, dan nilai budaya yang dimiliki, Kampung Kemasan layak untuk terus dilestarikan sebagai salah satu warisan berharga di Jawa Timur.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved