Mengenal Kupatan Sapi, Tradisi Turun Temurun Warga Tuban untuk Tolak Bala Ternak

Kupatan sapi merupakan tradisi turun temurun yang diyakini warga dapat menjauhkan bala.

Penulis: Muhammad Nurkholis | Editor: Alga W
Tribun Jatim Network/Muhammad Nurkholis
KUPATAN - Warga Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, menggelar tradisi kupatan sapi dengan doa bersama dan makan bersama, Kamis (9/4/2026) malam. 

Ringkasan Berita:
  • Warga Tuban masih adakan kupatan sapi, tradisi turun temurun untuk tolak bala ternak.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Muhammad Nurkholis

TRIBUNJATIM.COM, TUBAN - Tradisi unik masih terus dilestarikan oleh masyarakat Kabupaten Tuban saat bulan Syawal, yakni kupatan sapi.

Tradisi ini digelar sebagai bentuk syukur sekaligus doa agar ternak sapi tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit.

Baca juga: Jaga Hak Konsumen, 7.000 Alat Ukur di Madiun Ditarget Tera Ulang selama Tahun 2026

Kupatan sapi merupakan tradisi turun temurun yang diyakini warga dapat menjauhkan bala serta mendatangkan rezeki.

Selain itu, tradisi ini juga menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat karena telah diberi rezeki berupa ternak sapi.

Tradisi ini cukup populer di sejumlah wilayah di Tuban.

Di antaranya Kecamatan Semanding, Kerek, Grabagan, Rengel, dan beberapa daerah lainnya.

Warga Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Sugeng (40) mengatakan, tradisi ini sudah dilakukan sejak lama dan masih terus dijaga oleh masyarakat, khususnya para pemilik sapi.

"Sudah dilakukan sejak dulu oleh pemilik sapi," ujarnya, Kamis (9/4/2026) malam.

Dalam pelaksanaannya, warga akan membuat ketupat khusus.

Pemilik sapi kemudian mengundang tetangga sekitar untuk berkumpul dan berdoa bersama di rumahnya.

Ketupat yang telah disiapkan disajikan dalam wadah besar, seperti baskom, lengkap dengan hidangan lain seperti kari ayam dan berbagai lauk pauk.

Setelah doa bersama, para tamu yang hadir akan menyantap hidangan tersebut secara bersama-sama sebagai bentuk kebersamaan.

"Kegiatannya ya berdoa bersama di rumah, setelah itu makan bersama sebagai bentuk syukur karena memiliki sapi," imbuhnya.

Selain dikonsumsi oleh manusia, terdapat ketupat khusus yang telah didoakan.

Ketupat tersebut kemudian dikalungkan di leher sapi dengan harapan ternak terhindar dari penyakit.

"Nanti kita sisihkan ketupat khusus yang telah didoakan untuk dikalungkan di leher sapi," bebernya.

Sugeng berharap, dengan dilakukannya tradisi kupatan sapi bisa membawa berkah, baik bagi kesehatan ternaknya maupun rezeki yang didapatkan.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved