Berita Sidoarjo
Perajin Tahu-Tempe di Sidoarjo Menjerit, Imbas Harga Kedelai Terus Meroket
Sejumlah perajin tahu dan tempe di Sidoarjo muka kelimpungan. Kedelai yang merupakan bahan baku utama produksi mereka terus mengalami kenaikan harga.
Ringkasan Berita:
- Perajin tahu dan tempe di Sidoarjo, khususnya di kawasan Sepande, Kecamatan Candi, mengeluhkan kenaikan harga kedelai yang terus meningkat dan membebani biaya produksi.
- Harga kedelai impor naik menjadi sekitar Rp10.600 per kilogram setelah sebelumnya berada di kisaran Rp10.400–Rp10.500, disertai keterlambatan pasokan dari distributor.
Laporan wartawan TribunJatim.com, M Taufik
TRIBUNJATIM.COM, SIDOARJO - Sejumlah perajin tahu dan tempe di Sidoarjo muka kelimpungan. Kedelai yang merupakan bahan baku utama produksi mereka terus mengalami kenaikan harga.
Sepeti yang diceritakan sejumlah perajin tahu tempe di kawasan Sepande, Kecamatan Candi, Sidoarjo. Di daerah yang menjadi salah satu sentra produk tahu tempe itu, mereka mengeluh karena tingginya harga kedelai benar-benar membebani biaya produksi harian.
Muhammad Fardani, agen kedelai di kawasan itu mengungkapkan bahwa harga kedelai mulai merangkak naik sejak menjelang Idulfitri kemarin. Kemudian setelah lebaran ini, harganya naik lagi sekitar Rp200 per kilogram.
“Harga kedelai impor kualitas bagus, saat ini saya jual di harga Rp10.600 per kilogram. Sebelumnya di kisaran Rp10.400 hingga Rp10.500,” kata Fardani, Senin (13/4/2026).
Baca juga: Produsen Tempe Keluhkan Harga Kedelai Naik, Pemkot Malang: Ya Tidak Apa-apa, Semua Tetap Jalan
Kenaikan tersebut langsung memicu keluhan dari para pembeli yang sebagian besar merupakan perajin tahu dan tempe rumahan. Mereka mengaku harus memutar otak agar tetap bisa berproduksi di tengah biaya bahan baku yang terus meningkat.
Apalagi, selain harganya naik pasokan kedelai dari distributor sempat mengalami keterlambatan, bahkan hingga dua hari dari jadwal pengiriman rutin. Hal ini semakin menambah kekhawatiran para perajin yang bergantung pada ketersediaan bahan baku.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Fardani menyediakan beberapa merek kedelai impor dengan variasi harga dan kualitas. Langkah ini dilakukan agar pelanggan tetap bisa mendapatkan stok, meski harus beralih ke merek lain.
Para perajin tahu dan tempe berharap persoalan ini segera teratasi. Karena mereka juga bingung, sulit untuk menakkkan harga jual. Sementara jika memaksa dengan tingginya harga bahan baku, keruntuhan yang didapat semakin tipis.
Mereka berharap harga kedelai tidak terus mengalami kenaikan agar para perajin tahu dan tempe tetap bisa bertahan.Tidak sampai menalak harga atau mengurangi volume barang.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com
| Pantau Langsung Normalisasi Sungai Porong Kanal, Wabup Sidoarjo: Pintu Air Ini Vital |
|
|---|
| Ngerinya Kecelakaan Beruntun di Balongbendo Sidoarjo, Mobil Xenia sampai Tersangkut Pembatas Jalan |
|
|---|
| Balita 3,5 Tahun di Sidoarjo Meninggal Mengenaskan, Ternyata Dianiaya Oleh Ayah Kandungnya |
|
|---|
| Bupati Subandi Palsu Minta Rp 50 Juta ke Warga Lewat WA, Oknum Tidak Berani Nyalakan Kamera |
|
|---|
| DPR RI Minta Kualitas Pelayanan MBG Dijaga Secara Baik: Perhatian Terhadap Gizi Sangat Penting |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/KEDALAI-Aktivitas-pekerja-di-agen-penjualan-kedela-sekitar-sentra-perajin.jpg)