Sejarah di Jatim

Menelusuri Museum Wajakensis yang Merekam Peradaban Manusia di Tulungagung

Berawal dari koleksi sederhana di pendopo, Museum Wajakensis kini menjadi saksi sejarah dan peradaban Tulungagung. Intip peran dan kisahnya.

Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
TribunJatim.com/David Yohanes
SEJARAH MUSEUM WAJAKENSIS TULUNGAGUNG - Museum Daerah Kabupaten Tulungagung atau yang dikenal sebagai Museum Wajakensis berawal dari koleksi benda bersejarah di Pendopo Kongas Arum sejak abad ke-19, lalu berkembang hingga resmi menjadi museum pada akhir 1996. 

Ringkasan Berita:
  • Museum Wajakensis Tulungagung menjadi pusat pelestarian sejarah dengan koleksi yang merekam peradaban manusia di wilayah setempat.
  • Koleksi telah dihimpun sejak 1856–1864 di Pendopo Kongas Arum, sebelum dipindahkan ke museum yang resmi berdiri pada 1996.
  • Nama Wajakensis diambil dari temuan Homo Wajakensis, yang menjadi ikon penting dalam koleksi museum.
  • Museum berperan sebagai sarana edukasi dengan koleksi arkeologika dan etnografika serta menjadi destinasi wisata sejarah bagi masyarakat.

 

TRIBUNJATIM.COM - Museum Daerah Kabupaten Tulungagung atau yang dikenal sebagai Museum Wajakensis menjadi salah satu pusat pelestarian sejarah dan budaya penting di Jawa Timur

Museum ini menyimpan berbagai koleksi yang merekam perjalanan panjang peradaban manusia di wilayah Tulungagung dan sekitarnya.

Museum Wajakensis merupakan museum umum milik Pemerintah Kabupaten Tulungagung yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat. 

Berdasarkan data dari museum.kemenbud.go.id, museum ini terdaftar secara resmi dalam Nomor Pendaftaran Nasional Museum (NPNM) 35.04.K.04.0153 dan termasuk dalam kategori museum tipe C.

Keberadaan museum ini tidak lepas dari banyaknya temuan benda cagar budaya di kawasan Tulungagung, khususnya di sekitar situs percandian. 

Artefak-artefak tersebut menjadi dasar penting bagi pendirian museum sebagai tempat penyimpanan sekaligus pelestarian sejarah lokal.

Sebelum berdiri sebagai museum, benda-benda bersejarah tersebut telah lebih dulu dikumpulkan sejak masa pemerintahan Bupati pertama Tulungagung, R.M.A. Sosrodiningrat, sekitar tahun 1856–1864. 

Pada masa itu, koleksi disimpan di ruang kaca di Pendopo Kongas Arum sebagai bentuk upaya awal pelestarian.
Seiring bertambahnya jumlah koleksi, ruang penyimpanan di pendopo tidak lagi memadai. 

Kondisi ini mendorong pemindahan koleksi ke bangunan khusus museum yang kemudian resmi didirikan pada akhir tahun 1996.

Baca juga: Museum Terbuka Megalitik Bondowoso, Jejak Warisan Manusia Prasejarah yang Masih Terjaga

Awal Berdirinya Museum Wajakensis

Museum Wajakensis dibangun sebagai jawaban atas kebutuhan akan tempat yang lebih layak untuk menyimpan dan merawat benda-benda bersejarah. 

Bangunan museum ini berlokasi di Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, yang dikenal sebagai kawasan dengan potensi cagar budaya yang tinggi.

Dilansir dari laman resmi Wonderful Indonesia, museum ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga sebagai pusat edukasi yang memperkenalkan sejarah, arkeologi, serta budaya masyarakat Tulungagung kepada publik.

Nama “Wajakensis” sendiri diambil dari penemuan fosil manusia purba di wilayah Tulungagung Selatan, yaitu Wajak 1 dan Wajak 2. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved