Sejarah di Jatim
Benteng Lodewijk Gresik, Strategi Daendels Hadang Inggris yang Kini Tinggal Reruntuhan Bersejarah
Dibangun 1808 oleh Daendels untuk menahan serangan Inggris, Benteng Lodewijk di Gresik kini menyisakan jejak sejarah penting di pesisir Jawa.
Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Benteng Lodewijk di Kabupaten Gresik dibangun tahun 1808 oleh Daendels sebagai benteng pertahanan laut menghadapi ancaman Inggris. Lokasinya strategis di dekat Selat Madura.
- Benteng mampu menampung sekitar 800 pasukan dan dilengkapi 102 meriam, namun tetap jatuh saat Inggris menguasai Jawa tahun 1811 melalui Kapitulasi Tuntang.
- Dihancurkan tahun 1857, kini tersisa reruntuhan dan artefak arkeologis yang menjadikannya situs sejarah dan potensi wisata budaya di Gresik.
TRIBUNJATIM.COM – Benteng Lodewijk menjadi salah satu saksi bisu sejarah kolonial di wilayah pesisir utara Jawa Timur, tepatnya di kawasan Kabupaten Gresik.
Benteng ini terletak di Kelurahan Tanjung Widoro, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Bangunan ini menyimpan cerita panjang tentang strategi militer Belanda dalam menghadapi ancaman kekuatan Inggris pada awal abad ke-19.
Benteng ini dibangun pada tahun 1808 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels.
Pembangunannya tidak lepas dari situasi geopolitik saat itu, di mana Pulau Jawa berada dalam ancaman invasi Inggris.
Pembangunan Benteng Lodewijk merupakan bagian dari strategi besar Daendels untuk mempertahankan wilayah Jawa, terutama jalur laut yang menjadi pintu masuk penting ke pusat kekuasaan di Surabaya.
Lokasi benteng yang berada di dekat muara Sungai Bengawan Solo dan menghadap ke Selat Madura menjadikannya titik pertahanan yang sangat strategis dalam mengawasi pergerakan kapal musuh.
Kini, meski sebagian besar bangunannya telah hancur, Benteng Lodewijk tetap menjadi situs bersejarah yang menyimpan jejak penting perjalanan kolonial di Indonesia.
Pembangunan Benteng di Tengah Ancaman Inggris
Dilansir dari Disparekrafbudpora Gresik, Benteng Lodewijk dibangun pada tahun 1808 dengan melibatkan sekitar 750 pekerja yang sebagian besar berasal dari wilayah Sidayu.
Pembangunan ini menunjukkan keseriusan Daendels dalam memperkuat pertahanan pesisir utara Jawa.
Latar belakang pembangunan benteng ini, mengutip Kompas.com, berkaitan erat dengan ancaman Inggris yang saat itu menguasai India dan berambisi menguasai Pulau Jawa.
Situasi tersebut membuat Belanda harus memperkuat sistem pertahanannya.
Benteng ini didirikan di kawasan yang menjorok ke Selat Madura, tepatnya di sekitar Pulau Mengare, yang secara geografis sangat strategis untuk memantau pergerakan kapal dari arah laut.
Benteng ini berjarak sekitar 6 mil dari Gresik dan 5 mil dari Ujung Pangkah. Lokasi ini dipilih untuk menghalau pasukan Inggris yang datang dari arah Laut Jawa.
Benteng ini mampu menampung hingga 800 prajurit dan dilengkapi dengan 102 meriam, menjadikannya salah satu benteng pertahanan yang cukup kuat pada masanya.
Namun, meski telah dibangun dengan persiapan matang, pada tahun 1811 pasukan Inggris tetap berhasil mengepung wilayah Gresik, menandai awal berakhirnya kekuasaan Belanda di Jawa untuk sementara waktu.
Baca juga: Sejarah Benteng Kedung Cowek Surabaya, Saksi Bisu Pertempuran 10 November 1945
Asal-usul Benteng Lodewijk
Nama Benteng Lodewijk sendiri diambil sebagai bentuk penghormatan kepada Louis Napoleon Bonaparte. Nama “Lodewijk” merupakan versi Belanda dari “Louis”.
Louis Napoleon adalah sosok yang mengangkat Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, sehingga penamaan benteng ini memiliki nilai politis sekaligus simbol loyalitas.
Sebagaimana dalam sumber Disparekrafbudpora Gresik, benteng ini memiliki fungsi utama sebagai pertahanan laut untuk menjaga akses menuju Surabaya, yang saat itu merupakan pusat penting pemerintahan dan perdagangan.
Benteng ini dibangun dengan ukuran cukup besar, yakni sekitar 400 meter panjang dan 250 meter lebar.
Hal ini menunjukkan bahwa Benteng Lodewijk dirancang sebagai basis militer utama di kawasan tersebut.
Posisi benteng memungkinkan pengawasan langsung terhadap aktivitas di Selat Madura, Pelabuhan Surabaya, serta jalur pelayaran penting lainnya.
Namun, meskipun memiliki peran strategis, perkembangan politik dan militer pada masa itu membuat fungsi benteng ini tidak bertahan lama.
Baca juga: Sejarah Benteng Van den Bosch Ngawi, Dari Perang Jawa hingga Kamp Interniran
Perubahan Fungsi Benteng
Dinukil dari berbagai sumber, setelah Inggris berhasil menguasai Jawa pada tahun 1811 melalui peristiwa Kapitulasi Tuntang, peran Benteng Lodewijk mulai berkurang.
Setelah kekuasaan kembali ke tangan Belanda, pusat pertahanan dipindahkan ke Surabaya, sehingga Benteng Lodewijk tidak lagi menjadi prioritas utama.
Pada tahun 1857, sebagaimana disebutkan dalam sumber sejarah, benteng ini akhirnya dihancurkan oleh Belanda sendiri sebagai bagian dari perubahan strategi pertahanan.
Setelah dihancurkan, sebagian besar struktur benteng tidak lagi digunakan dan perlahan berubah menjadi reruntuhan.
Kini, yang tersisa hanyalah bagian-bagian tertentu seperti dinding, bastion, serta beberapa sumur yang menjadi saksi keberadaan benteng tersebut di masa lalu.
Meski telah hancur, situs ini tetap memiliki nilai sejarah tinggi dan menjadi bagian penting dari warisan budaya di Gresik.
Baca juga: Sejarah Candi Tawangalun Sidoarjo, Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit dengan Legenda Putri Alun
Jejak Arkeologis
Menyitir situs incar.jatimprov.go.id, kawasan sekitar Benteng Lodewijk menyimpan banyak temuan arkeologis yang berkaitan dengan aktivitas pembangunan benteng.
Beberapa di antaranya adalah lubang bekas penambangan batu putih yang digunakan untuk menguruk lahan, yang oleh warga setempat disebut sebagai “gombong”.
Selain itu, terdapat pula lubang besar yang dikenal dengan istilah “nomeran”, yang diduga merupakan bekas penggalian tanah untuk kebutuhan konstruksi benteng.
Dikutip dari sumber yang sama, ditemukan juga sisa rel lori dan bantalan kayu, yang menunjukkan adanya sistem transportasi material pada masa pembangunan benteng.
Pada area bekas benteng ditemukan ribuan pecahan artefak seperti tembikar, keramik, kaca, logam, hingga tulang hewan, yang menjadi bukti aktivitas manusia di kawasan tersebut.
Kini, Benteng Lodewijk telah ditetapkan sebagai salah satu situs yang diusulkan sebagai cagar budaya dan dimanfaatkan sebagai objek wisata sejarah, meski akses menuju lokasi masih cukup sulit.
Baca juga: Pesona Candi Rambut Monte, Perpaduan Sejarah, Mitos dan Keindahan Alam di Blitar
Warisan Sejarah yang Perlu Dijaga
Sebagai salah satu peninggalan kolonial, Benteng Lodewijk memiliki nilai historis yang sangat penting dalam memahami strategi militer Belanda di Indonesia.
Keberadaan benteng ini tidak hanya mencerminkan kekuatan militer, tetapi juga dinamika politik global yang terjadi pada masa itu.
Meskipun kini hanya tersisa reruntuhan, Benteng Lodewijk tetap menjadi simbol perjalanan sejarah panjang di kawasan pesisir Gresik.
Sebagaimana dikutip dari berbagai artikel sejarah, pelestarian situs seperti ini menjadi penting agar generasi mendatang dapat memahami masa lalu secara lebih utuh.
Dengan potensi sebagai wisata sejarah, Benteng Lodewijk juga dapat menjadi sarana edukasi sekaligus pengembangan pariwisata berbasis budaya di Jawa Timur.
Karena itu, upaya pelestarian dan pengenalan Benteng Lodewijk kepada masyarakat luas menjadi langkah penting agar warisan sejarah ini tidak hilang ditelan zaman.
Benteng Lodewijk Gresik
Benteng Lodewijk
Gresik
Kelurahan Tanjung Widoro
Kecamatan Bungah
Kabupaten Gresik
Jawa Timur
Benteng Kolonial
Herman Willem Daendels
Selat Madura
Pulau Mengare
Bengawan Solo
warisan budaya Indonesia
Tribun Jatim
TribunJatim.com
meaningful
wisata budaya
Inggris
Belanda
| Mengenal Kampoeng Ilmu Surabaya, Jejak Perjalanan Pedagang Buku Bekas hingga Menjadi Ikon Literasi |
|
|---|
| Kelenteng Hok Sian Kiong Mojokerto, Dari Gudang Menjadi Simbol Budaya Tionghoa Selama Dua Abad Lebih |
|
|---|
| Makam Kembang Kuning Surabaya, Jejak Kolonial hingga Perang Dunia di Kota Pahlawan |
|
|---|
| Sejarah Kelenteng Poo An Kiong Blitar, Ikon Tionghoa yang Bangkit dengan Wajah Baru |
|
|---|
| Eksplorasi Sejarah Museum Teknoform Surabaya, Ruang Edukasi yang Sajikan Evolusi Teknologi Informasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Benteng-Lodewijk.jpg)