Sejarah di Jatim

Sejarah Kampung Coklat Blitar, Wisata Edukasi Populer yang Berawal dari Krisis Flu Burung

Sejarah Kampung Coklat Blitar bermula dari krisis flu burung yang menghancurkan usaha peternakan, kini berkembang jadi wisata edukasi favorit.

Tayang:
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Tribun Jatim Network/Samsul Hadi
SEJARAH KAMPUNG COKLAT - Kampung Coklat di Blitar berawal dari perjuangan H. Kholid Mustofa bangkit usai usaha peternakan ayamnya terdampak krisis flu burung pada 2004. Dari kebun kakao sederhana, tempat ini kini berkembang menjadi destinasi wisata edukasi coklat populer dan favorit wisatawan di Jawa Timur. 

Ringkasan Berita:

 

TRIBUNJATIM.COM - Kampung Coklat menjadi salah satu destinasi wisata edukasi paling populer di Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Tempat wisata ini berada di Jalan Banteng Blorok Nomor 18, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.

Tidak hanya dikenal sebagai tempat rekreasi keluarga, Kampung Coklat juga menawarkan edukasi tentang budidaya kakao hingga proses pengolahan coklat menjadi berbagai produk siap konsumsi.

Konsep wisata yang memadukan hiburan, edukasi, kuliner, dan perkebunan kakao membuat Kampung Coklat selalu ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.

Dilansir dari kampungcoklat.id, kawasan wisata ini memiliki luas sekitar 6,5 hektar dan dilengkapi berbagai fasilitas.

Mulai dari galeri coklat, area kuliner, wahana permainan, cooking class, penginapan hingga masjid besar untuk pengunjung.

Selain itu, Kampung Coklat juga memiliki pabrik pengolahan coklat sendiri.

Pabrik tersebut mampu memproduksi hingga tiga ton olahan coklat per hari untuk dipasarkan kepada pengunjung maupun dikirim ke luar kota.

Baca juga: Mengenal Kampung Belgia Jember, Permukiman Kolonial Gaya Eropa Berusia Seabad di Tengah Kebun Karet

Awal Mula Kampung Coklat 

Sejarah Kampung Coklat bermula dari kisah perjuangan H. Kholid Mustofa pada tahun 2004. 

Saat itu, usaha peternakan ayam petelur miliknya mengalami kebangkrutan akibat wabah flu burung yang melanda Indonesia.

Kondisi tersebut membuat Kholid harus mencari cara baru untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. 

Di tengah keterbatasan ekonomi, ia mulai menekuni kebun kakao milik keluarganya yang telah ditanam sejak tahun 2000.

Kebun seluas sekitar 750 meter persegi itu awalnya tidak dirawat secara serius karena fokus utama Kholid saat itu berada di usaha peternakan ayam.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved