Sejarah di Jatim

Candi Wringin Branjang, Jejak Pos Jaga Kerajaan Majapahit di Blitar

Berdiri di Bukit Gedang Blitar, Candi Wringin Branjang menyimpan sejarah Majapahit dengan arsitektur unik menyerupai rumah sederhana atau pos jaga.

Tayang:
Perpustakaan DIgital Budaya Indonesia
CANDI WRINGIN BRANJANG BLITAR – Candi Wringin Branjang merupakan situs peninggalan bersejarah bercorak Hindu yang terletak di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Candi ini dikenal unik karena bentuknya menyerupai rumah atau pos jaga, tidak memiliki kaki atau batur, dan dindingnya terbuat dari batu andesit tanpa relief. 

Ringkasan Berita:
  • Candi Wringin Branjang di Blitar memiliki bentuk unik menyerupai rumah atau pos jaga dengan atap limas, berbeda dari candi pada umumnya di Jawa Timur.
  • Situs ini merupakan bagian dari kompleks percandian peninggalan Majapahit yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1409 M berdasarkan prasasti 1231 Saka.
  • Penemuan arca Dewi Sri dan berbagai tinggalan arkeologi memperkuat dugaan bahwa Candi Wringin Branjang berkaitan dengan aktivitas keagamaan Hindu pada masa lampau.

 

TRIBUNJATIM.COMKabupaten Blitar memiliki banyak peninggalan sejarah dari masa Kerajaan Majapahit yang masih dapat dijumpai hingga kini.

Salah satu situs bersejarah yang cukup unik adalah Candi Wringin Branjang di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari.

Candi ini menarik perhatian karena bentuk bangunannya berbeda dari kebanyakan candi di Jawa Timur.

Jika umumnya candi berbentuk menjulang dengan relief yang rumit, Candi Wringin Branjang justru menyerupai rumah atau pos jaga dengan atap limas sederhana.

Selain keunikannya, situs ini juga menyimpan jejak sejarah masa Kerajaan Majapahit dan diyakini berkaitan dengan aktivitas keagamaan Hindu pada abad ke-15 Masehi.

Lokasi dan Asal-Usul Nama Candi Wringin Branjang

Candi Wringin Branjang berada di Bukit Gedang, Dusun Sukomulyo, Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Lokasinya masih berada dalam satu kawasan dengan Situs Gadungan dan berjarak sekitar 100 meter di sebelah barat Situs Gadungan I.

Kawasan tersebut dikenal sebagai area yang menyimpan beberapa tinggalan arkeologi peninggalan masa Hindu-Buddha di Kabupaten Blitar.

Nama “Wringin Branjang” sendiri berasal dai bahasa Jawa.

Kata “Wringin” berarti pohon beringin, sedangkan “branjang” berarti terjebak.

Menurut cerita masyarakat setempat, saat pertama kali ditemukan, bangunan candi terlilit akar pohon beringin besar.

Karena itulah, masyarakat kemudian menamai situs tersebut sebagai Candi Wringin Branjang dan nama itu terus digunakan hingga sekarang sebagai penanda situs purbakala tersebut.

Baca juga: Sejarah Candi Belahan di Pasuruan, Petirtaan Kuno dengan Pancuran Air dari Payudara Arca Dewi Laksmi

Bentuk Candi Mirip Rumah atau Pos Jaga

Candi Wringin Branjang di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, yang memiliki bentuk unik menyerupai rumah beratap limas. Bangunan peninggalan masa Majapahit ini terbuat dari batu andesit tanpa relief rumit, dengan ventilasi sederhana berbentuk belah ketupat di sisi dinding candi.
Candi Wringin Branjang di Kabupaten Blitar memiliki bentuk unik menyerupai rumah beratap limas. Candi peninggalan Majapahit ini terbuat dari batu andesit dengan ventilasi sederhana berbentuk belah ketupat. (Dok. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia)
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved