Rupiah Tembus Rp18.000, Harga Beras dan Minyak di Lumajang Stabil, Cabai Justru Meroket Tajam
Harga sejumlah bahan pokok di Kabupaten Lumajang masih relatif stabil meski nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah.
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Ndaru Wijayanto
Ringkasan Berita:
- Harga sebagian besar bahan pokok di Lumajang masih stabil, bahkan beberapa komoditas seperti beras premium mengalami penurunan harga.
- Lonjakan harga terjadi pada komoditas cabai, terutama cabai rawit merah yang naik dari Rp73.000 menjadi Rp90.000 per kilogram.
- Kenaikan harga cabai dipicu berkurangnya pasokan karena masa tanam petani serta ketergantungan pasokan dari luar daerah
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Imam Nawawi
TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Harga sejumlah bahan pokok di Kabupaten Lumajang masih relatif stabil meski nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada komoditas cabai yang mengalami lonjakan harga tinggi dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan pantauan di Pasar Baru Lumajang, harga beras medium masih bertahan di angka Rp11.700 per kilogram.
Sementara itu, beras premium justru mengalami penurunan tipis dari Rp14.500 menjadi Rp14.300 per kilogram.
Begitu juga harga minyak goreng, Minyakita bertahan di angka Rp 16.800 per liter, minyak goreng curah Rp 18.700 per kilogram, dan minyak goreng kemasan premium Rp 18.000 per liter.
"Sembako kayak beras, gula, dan minyak harganya masih normal, yang naik itu sayur cabai, ayam," kata Fitri, pedagang di Pasar Baru Lumajang, Kamis (4/6/2026).
Baca juga: Terendah Sepanjang Sejarah: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar AS, Terus Melemah karena Apa?
Menurutnya, yang mengalami lonjakan harga justru lombok, seperti cabai rawit sret merah dari Rp 73.000 menjadi Rp 90.000 per kilogram, cabe merah besar dari Rp 40.000 menjadi Rp45.000 per kilogram.
"Cabe merah keriting dari Rp40.000 menjadi Rp42.000 per kilo," kata Fitri.
Naiknya harga perlombokan karena pasokannya kurang di Lumajang, sebab para petani masih memulai tanaman, sehingga pedagang terpaksa menjual lebih mahal.
"Karena lomboknya juga ngambilnya tidak dari Lumajang. Tengkulak biasanya ngambil lombok dari Probolinggo, Jember dan Banyuwangi," bebernya.
Baca juga: Harga Beras Medium di Jombang Naik Jelang Ramadan 2026, Menembus Rp14.000 per Kg
Meroketnya harga cabai di Kota Pisang, membuat para konsumen harus membeli komiditas tersebut secara eceran, sesuai kebutuan mereka saja.
"Sekarang semua mahal, cabai mahal, beli Rp 10.000 cuma dapat sedikit, paling bisa buat masak sekali," tanggap Rofi pembeli di Pasar Baru Lumajang.
Menanggapi hal ini, Pelaksana Harian Kepala Bagian Perekonomian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, Aksanul Inam mengatakan bahan pokok cenderung stabil, bahkan posokan tabung LPG 3 kilogram masih mencukup.
Baca juga: Warga yang Melintasi Jalur Rawan Begal Lumajang Bisa Minta Kawal Polisi, Gratis Tak Dipungut Biaya
| Lumajang Tingkatkan Kesiapsiagaan Erupsi Semeru, 12 CCTV Pantau Jalur Lahar Secara Real Time |
|
|---|
| Dolar AS Tembus Rp 18.000, Pelaku Industri Besi di Lamongan Keluhkan Lonjakan Biaya |
|
|---|
| Terendah Sepanjang Sejarah: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar AS, Terus Melemah karena Apa? |
|
|---|
| Warga yang Melintasi Jalur Rawan Begal Lumajang Bisa Minta Kawal Polisi, Gratis Tak Dipungut Biaya |
|
|---|
| Jatim Terpopuler: Begal Berdarah di Jatiroto Lumajang hingga Kasus Dugaan Korupsi Dana JKN Jember |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Aktifitas-pedagang-lombok-di-Pasar-Baru-KecamatanKabupaten-Lumajang.jpg)