HIV/AIDS di Bondowoso Bertambah 46 Kasus Dalam 5 Bulan, Hanya Separuh yang Rutin Berobat

Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso mencatat 46 kasus baru HIV/AIDS ditemukan selama periode Januari hingga Mei 2026.

Tayang:
Penulis: Sinca Ari Pangistu | Editor: Ndaru Wijayanto
Tribun Jatim Network/Sinca Ari Pangistu
PITA HITAM - Foto ilustrasi seorang perempuan di Bondowoso menyampaikan duka menggunakan pita merah muda atas bertambahnya kasus HIV/AIDS. Selama kurun waktu Januari-Mei 2026, ditemukan 46 kasus baru HIV/AIDS di Bondowoso. 

 

Ringkasan Berita:
  • Dinas Kesehatan Bondowoso menemukan 46 kasus baru HIV/AIDS selama Januari–Mei 2026, dengan satu penderita dilaporkan meninggal dunia.
  • Dari 46 kasus baru tersebut, hanya 25 pasien yang tercatat rutin menjalani pengobatan antiretroviral (ARV).
  • Dinkes bersama Pokja HIV dan puskesmas melakukan pendampingan pasien, termasuk membantu pengambilan dan pengantaran obat

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sinca ari pangistu

TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso mencatat 46 kasus baru HIV/AIDS ditemukan selama periode Januari hingga Mei 2026. Dari jumlah tersebut, satu penderita dilaporkan meninggal dunia.

Sebagian besar kasus terungkap melalui pemeriksaan kesehatan di fasilitas layanan kesehatan, bukan dari laporan sukarela pasien.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bondowoso, dr Habib Muzakki, mengatakan tidak semua pasien yang terdiagnosis positif HIV bersedia menjalani pengobatan secara rutin.

Dari 46 kasus baru yang ditemukan, hanya 25 orang yang tercatat mengikuti terapi pengobatan secara berkelanjutan.

“Kita kan nakes, jadi tahu ya ciri khasnya HIV seperti apa. Langsung kita cek, ternyata positif,” kata Habib saat dikonfirmasi beberapa hari lalu.

Setelah dinyatakan positif, pasien langsung diberikan edukasi dan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, termasuk terapi obat antiretroviral (ARV).

Terapi ARV berfungsi menekan perkembangan virus sehingga penderita dapat menjalani kehidupan normal jika terdeteksi dan diobati sejak dini.

“Kalau dia rajin ARV dari awal, ditemukan di gejala awal, mungkin dia bisa hidup normal. Tidak ada masalah,” katanya.

Untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan, Dinkes Bondowoso melibatkan Kelompok Kerja (Pokja) HIV yang ada di setiap kecamatan bersama petugas puskesmas. Mereka secara aktif melakukan pendampingan kepada pasien, termasuk membantu mengambil dan mengantarkan obat ke rumah.

“Kadang kan pasien itu malu datang ke rumah sakit. Jadi akhirnya teman-teman, baik PJ HIV di puskesmas atau teman-teman Pokja, mendampingi dan sampai mengantar obat ke rumah,” ungkapnya.

Habib menjelaskan HIV dapat ditularkan melalui kontak darah dan hubungan seksual berisiko. Kelompok rentan antara lain pekerja seks komersial (PSK), laki-laki suka laki-laki (LSL), serta ibu rumah tangga yang tertular dari pasangan.

Selain itu, penularan juga dapat terjadi dari ibu yang positif HIV kepada bayi, termasuk melalui air susu ibu (ASI).

Dinkes Bondowoso juga memastikan kerahasiaan identitas pasien HIV/AIDS tetap terjaga. Seluruh petugas kesehatan diwajibkan menjaga privasi pasien untuk mencegah stigma dan diskriminasi di masyarakat.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved