Harga Sayuran di Jember Naik Drastis Jelang Nataru, Cabai Rawit Tembus Rp85 Ribu
Harga sayur mayur di pasar tradisional Kabupaten Jember, Jawa Timur, melonjak menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Ndaru Wijayanto
Ringkasan Berita:
- Menjelang Natal dan Tahun Baru 2026, harga sayur mayur di Pasar Tanjung Jember mengalami lonjakan signifikan, terutama cabai merah yang tembus Rp 85 ribu per kg.
- Cabai merah besar, bawang merah, dan tomat juga naik drastis, misalnya bawang merah mencapai Rp 55–60 ribu/kg dan tomat Rp 12 ribu/kg.
- Tengkulak membatasi pembelian dari pedagang karena stok terbatas, dan sebagian besar komoditas diambil dari luar daerah seperti Banyuwangi dan Malang
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Imam Nawawi
TRIBUNJATIM.COM, JEMBER - Harga sayur mayur di pasar tradisional Kabupaten Jember, Jawa Timur, melonjak menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Kenaikan paling signifikan terjadi pada cabai merah rawit, yang kini tembus Rp 85 ribu per kilogram di Pasar Tanjung, Jember.
Padahal, satu bulan lalu, harga cabai jenis ini masih berada di kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram.
Hamidah, Pedagang Pasar Tanjung Jember mengungkapkan, selain komoditas ini, cabai merah besar pun juga ikut mahal, bahkan harganya tembus Rp 45 ribu perkilo menjelang Nataru.
"Kalau harga normal, cabai merah besar itu cuma Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu," ujarnya, Sabtu (6/12/2025).
Selain komoditas ini, bawang merah tomat harganya pun juga ikut mahal. Kata dia, nilai jual di konsumen untuk tomat mencapai Rp 12 ribu per kilonya, padahal normalnya cuma Rp 6 ribu.
"Sementara bawang merah, itu harganya Rp 55 ribu hingga Rp 60 ribu. Biasanya harga bawang merah Rp 27 ribu," ungkap Hamidah.
Hamidah mengungkapan, lonjakan harga sayur mayur tersebut sudah berlangsung satu bulan, walaupun kenaikannya bertahap tidak langsung mahal.
"Tiap hari naik, nanti turun dikit terus naik lagi gitu,"imbuhnya.
Menurutnya, hal tersebut karena cuaca musim hujan di akhir tahun, mengakibatkan tanaman sayur milik petani rusak.
"Banyak yang busuk, sehingga pasokannya berkurang di pasaran," kata Hamidah.
Selain itu, Hamidah mengatakan para tengkulak juga membatasi jumlah pembelian dari pedagang, sebab barangnya juga agak sulit dapatkan.
"Rata rata barangnya dari luar daerah, lombok itu ngambilnya dari Banyuwangi, sementara mawang merah ngambilnya dari Malang," ulasnya.
Hamidah memprediksi, harga komoditas tersebut terus meroket, bahkan akan berlangsung hingga Januari 2026 mendatang
| Sosok dan Jejak Karier Haerul Saleh, Anggota BPK RI yang Meninggal akibat Kebakaran Rumah |
|
|---|
| Lapas Tuban Gelar Razia Mendadak, Petugas Sita Barang Berbahaya dan Pastikan Bebas Narkoba |
|
|---|
| Mahasiswa Teknik Sipil UM Borong Prestasi di Fondasi Steel Bridge Competition 2026 |
|
|---|
| Jelang Pilkades Serentak, Polresta Sidoarjo Tingkatkan Patroli, Fokus Amankan Wilayah Rawan |
|
|---|
| Apa itu Hantavirus? Jadi Wabah di Kapal Pesiar MV Hondius, Ketahui Gejalanya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Aktifitas-pedagang-sayur-di-Pasar-Tanjung-Jember-Jawa-Timur.jpg)