Tanah Gerak di Perbukitan Wonosalam Jombang Kembali Terjadi, Kini Capai Setengah Hektare

Fenomena retakan tanah kembali terlihat di beberapa titik di kawasan perbukitan Wonosalam, Kabupaten Jombang.

Tayang:
Penulis: Anggit Puji Widodo | Editor: Sudarma Adi
TribunJatim.com/Anggit Puji Widodo
WONOSALAM - Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang saat memantau kondisi retakan tanah di Dusun Jumok, Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur pada Kamis (11/12/2025). Warga mengaku sudah terbiasa dengan fenomena tersebut. 

Ringkasan Berita:
  • Lokasi Terdampak: Desa Sambirejo, Wonosalam (Terbaru) serta wilayah Banturejo, Balikambang, dan Sumberlamong.
  • Luas Lahan: Retakan di Sambirejo mencapai sekitar 0,5 hektare.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Anggit Pujie Widodo

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Fenomena retakan tanah kembali terlihat di beberapa titik di kawasan perbukitan Wonosalam, Kabupaten Jombang.

Berbeda dengan kesan mendadak, kejadian ini justru dianggap sebagai peristiwa berulang yang telah dikenal masyarakat setempat selama puluhan tahun.

Begitulah kata Suparman, seorang warga Desa Sambirejo, Wonosalam, Kabupaten Jombang. Ia menyatakan bahwa pergerakan tanah merupakan hal yang wajar di wilayah dengan kontur berbukit seperti tempat tinggalnya.

Baca juga: Perayaan Natal SDK Petra Jombang 2025 Bertema Rumah Jadi Wahana Pendidikan Karakter

Proses Alamiah di Lahan Subur Wonosalam

"Tanah di sini memang aktif bergerak, itu proses alam yang sudah kami amati sejak lama," ucapnya saat dikonfirmasi Tribunjatim.com pada Kamis (18/12/2025).

Secara alami, lapisan tanah di kawasan tersebut terbentuk dari endapan material yang dibawa aliran air, terdiri dari campuran lumpur, sisa organik, dan humus. Lapisan yang cenderung lunak inilah yang dinilai rentan mengalami perubahan bentuk seiring waktu.

Catatan warga menunjukkan, pergeseran tanah serupa pernah terjadi di beberapa lokasi pada tahun lalu. "Itu pernah terjadi juga (tanah retak) eperti di Dukuh Jumok, Dusun Sumberlamong, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Akibatnya sama, retak di sejumlah rumah warga," ujarnya melanjutkan.

Fenomena juga teramati di wilayah Banturejo dan Balikambang, di mana satu hektare lebih lahan persawahan terdampak.

Untuk retakan terbaru di Desa Sambirejo, area terdampak diperkirakan mencapai setengah hektare, dengan retakan umumnya tidak sampai merusak badan jalan utama.

"Warga disini menilai pergerakan saat ini masih berlangsung lambat dan terkendali, tanpa diikuti tanda-tanda longsoran besar yang mengancam jiwa," ungkapnya.

Suparman juga menekankan bahwa lahan yang terdampak saat ini berstatus milik pribadi warga, dengan bukti kepemilikan administratif dan pembayaran pajak yang telah berjalan bertahun-tahun, bukan lagi merupakan area Hak Guna Usaha (HGU).

Di sisi lain, upaya mitigasi terus dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang bersama BPBD Jawa Timur. Pemetaan wilayah rawan bencana dan pemasangan alat peringatan dini longsor di titik-titik strategis dekat permukiman telah dijalankan.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap siaga, terutama pada musim hujan, sembari menunggu hasil kajian teknis lebih lanjut guna menentukan langkah pencegahan yang tepat.

Baca juga: Niat Wisata ke Pantai, Mobil Rombongan Asal Jombang Terjun ke Jurang Trenggalek

Bupati Jombang, Warsubi, dalam pernyataannya menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam penanganan awal potensi bencana.

"Kami telah mengerahkan tim teknis untuk mempelajari situasi dan menyiapkan langkah-langkah strategis. Anggaran tak terduga (BTT) siap dialokasikan jika diperlukan tindakan darurat," ucap Warsubi saat dikonfirmasi Tribunjatim.com di Pendopo Kabupaten Jombang pada Jumat (12/12/2025).

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved