Harga Kedelai dan Kemasan Naik, UMKM Kediri Bertahan dengan Berbagai Cara
Gejolak geopolitik global mulai berdampak pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Penulis: Isya Anshori | Editor: Ndaru Wijayanto
Ringkasan Berita:
- Pelaku UMKM di Kabupaten Kediri mulai terdampak gejolak global yang memicu kenaikan harga bahan baku impor dan kemasan produksi.
- Produsen tahu takwa di Kediri terpaksa mengurangi hari produksi dari enam hari menjadi empat hingga lima hari per pekan akibat lesunya daya beli masyarakat dan naiknya biaya produksi.
- Harga kedelai impor sebagai bahan baku utama naik dari sekitar Rp10.500 menjadi Rp12.500 per kilogram, sementara harga kemasan juga ikut meningkat.
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Isya Anshori
TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Gejolak geopolitik global mulai berdampak pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Kenaikan harga bahan baku impor dan kemasan produksi membuat pelaku usaha harus mencari berbagai cara agar tetap bertahan di tengah melemahnya daya beli masyarakat.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak tersebut adalah Gatot Siswanto, produsen tahu takwa sekaligus pemilik GTT Kediri di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem.
Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat pelaku UMKM memilih bertahan daripada menaikkan harga produk secara drastis.
"Masyarakat saat ini belum ada peningkatan ekonomi yang signifikan. Jadi kami lebih baik bertahan dulu. Produksi tidak begitu besar karena kalau dinaikkan, sementara ekonomi masyarakat belum membaik," jelas Gatot, Kamis (11/6/2026).
Baca juga: Rupiah Anjlok Bikin Produsen Tahu di Kediri Naikkan Harga dan Pangkas Produksi
Gatot menyebut tekanan terhadap pelaku UMKM tidak hanya berasal dari kenaikan harga bahan baku, tetapi juga menurunnya daya beli masyarakat.
Kondisi tersebut semakin terasa menjelang tahun ajaran baru ketika kebutuhan rumah tangga meningkat.
"Ini apalagi bersamaan dengan anak-anak masuk sekolah. Yang jelas mempengaruhi omzet penjualan dari pelaku UMKM," katanya.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha, GTT memilih mengurangi hari produksi dibandingkan menaikkan harga jual secara berlebihan.
Baca juga: Nasib Pertalite setelah Harga Pertamax Meroket Hingga Rp16.250, Menteri Bahlil Angkat Bicara
Langkah itu dilakukan agar biaya operasional tetap terkendali tanpa harus mengurangi kualitas produk.
Menurut Gatot, dampak perlambatan ekonomi dan kenaikan biaya produksi sudah terlihat dari penyesuaian jam kerja karyawan.
Jika sebelumnya proses produksi berjalan enam hari dalam sepekan, kini hanya empat hingga lima hari kerja.
"Turunnya sangat signifikan. Biasanya satu minggu masuk enam hari, sekarang empat sampai lima hari saja," ungkapnya.
Baca juga: Demi Hemat Pengeluaran, Warga Bondowoso Kayuh Sepeda 10 Km ke Tempat Kerja Imbas Harga Pertamax Naik
| Usai Terpilih Lagi, Sentot Djamaluddin Ungkap Strategi PKB Kabupaten Kediri untuk Pemilu 2029 |
|
|---|
| Nikmatnya Gethuk Pisang Dadu, Jajanan Inovasi Baru GTT Kediri, Tahan Hingga Satu Bulan |
|
|---|
| Pesta Siaga Pramuka Kabupaten Kediri Hadirkan 17 Taman Edukatif, Latih Kreativitas dan Mental Anak |
|
|---|
| Cara Persik Kediri Siapkan Regenerasi dari Usia Dini, Gelar Liga Persik 2026 untuk Pemain Muda |
|
|---|
| Haflah Akhirussanah Ponpes Al Amien, Wali Kota Kediri Beri Pesan Khusus untuk Para Santri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Gatot-Siswanto-produsen-tahu-takwa-sekaligus-pemilik-GTT-Kediri.jpg)