Sering Kalap Saat Live Shopping? Ini Penjelasan dan Tips dari Pemerhati Sosial
Fenomena live shopping di platform digital seperti TikTok dan Shopee semakin digemari masyarakat.
Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Samsul Arifin
Ringkasan Berita:
- Live shopping di aplikasi TikTok dan Shopee dinilai efektif tapi berisiko picu belanja impulsif
- Faktor emosional dan interaksi semu membuat konsumen mudah terpengaruh
- Konsumen disarankan lebih cermat agar tidak boros saat mengikuti live
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nuraini Faiq
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Fenomena live shopping di platform digital seperti TikTok dan Shopee semakin digemari masyarakat.
Jika tidak waspada, para emak-emak terutama yang hobi shopping bisa terjebak "hipnotis".
Live shopping di e-commerce itu diakui menjadi komunikasi pemasaran masa depan yang efektif. Selain semua bisa mengakses karena cukup lewat smartphone HP, penyajiannya juga menarik.
Ristien yang saat ini menempuh pendidikan S2 Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie itu membedah di balik maraknya fenomena Live Shopping.
"Semua harus cermat bergabung di live Tiktok atau Shopee," kata Ristien kepada Tribun Jatim, Rabu (22/4/2026).
Dia menyebut setiap kali live sang host selalu menyebut, “Keranjang kuningnya ya, Kak… tinggal sedikit!”. Diakui kalimat ini mungkin terdengar biasa.
Namun bagi jutaan pengguna di Indonesia, ucapan itu sudah menjadi semacam mantra. Di layar ponsel, melalui fitur live shopping di TikTok dan Shopee, belanja tidak lagi sekadar memilih barang.
Ristien menyebut bahwa cara belanja live itu menjadi pengalaman yang cepat, riuh, dan terasa dekat seolah-olah kita sedang dilayani oleh teman sendiri.
Baca juga: Tangisan Bunga Zainal saat Live TikTok Viral, Kakak Soroti Konflik Keluarga
Pasar Paling Aktif
Pemerhati fenomena sosial asal Kediri itu menyebut bahwa Indonesia disebut sebagai salah satu pasar live commerce paling aktif.
Bagi pelaku usaha, UMKM, live shopping bukan lagi pelengkap melainkan tulang punggung penjualan. Produk yang sebelumnya sulit bersaing di etalase digital, kini bisa laku dalam hitungan menit lewat siaran langsung.
"Namun di balik peluang itu, ada perubahan cara kita berbelanja yang jarang disadari.
Host tampil hangat, komunikatif dan responsif. Nama kita disebut, komentar kita dibaca, bahkan candaan terasa personal. Ini harus dicermati," urainya
Dalam beberapa detik, batas antara penjual dan pembeli seolah menghilang. Yang terjadi bukan sekadar transaksi, tetapi relasi atau setidaknya sesuatu yang terasa seperti relasi.
Ristien menyebut dalam kajian komunikasi, kedekatan semacam ini dikenal sebagai interaksi parasosial, konsep yang diperkenalkan oleh Donald Horton dan Richard Wohl.
Baca juga: Pernah Direndahkan, Pinkan Mambo Pilih Ngamen di TikTok, Live 4 Jam Dapat Rp30 Juta
Audiens dapat merasa dekat secara emosional dengan figur di media. Meskipun hubungan tersebut tidak benar-benar berlangsung secara timbal balik.
| 13 Warga Sudah Bayar Tapi Tak Kunjung Umrah, Pelaku Baru Kembalikan Rp 10 Juta dari Miliaran Rupiah |
|
|---|
| Syaifuddin Zuhri Jadi Ketua DPRD Surabaya, Said Abdullah: Jangan Permalukan Partai |
|
|---|
| Pemotor di Kediri Bernasib Nahas, Tabrak Pohon di Perempatan Wates Setelah Kehilangan Kendali |
|
|---|
| Serunya Turnamen Domino di Surabaya, Kolaborasi Pordi dan HGI Dorong Domino Jadi Lebih Serius |
|
|---|
| Pilunya Nasib Nenek 84 Tahun di Bojonegoro, Emas 34 Gram untuk Haji Malah Lenyap Ditipu Orang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Ristien-Yuendrieni-soal-Live-Shopping.jpg)