Anomali Cuaca di Malang Raya, Mendadak Terik Disertai Angin Kencang, BMKG: Pengaruh Angin Siklon
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Malang mencatat, hembusan angin di wilayah Malang Raya naik dua kali lipat
Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Samsul Arifin
Poin Penting :
- Malang Raya alami anomali cuaca dimana mendadak terik dan angin kencang
- Perubahan kondisi cuaca secara mendadak itu ternyata dipengaruhi adanya anomali atau gangguan atmosfer.
- BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Malang kondisi ini dipengaruhi adanya pusaran angin siklon
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Kukuh Kurniawan
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Sempat mengalami hujan deras, cuaca di wilayah Malang Raya pada beberapa hari ini mendadak terik disertai angin kencang.
Perubahan kondisi cuaca secara mendadak itu ternyata dipengaruhi adanya anomali atau gangguan atmosfer.
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur yang terletak di Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang mencatat, hembusan angin di wilayah Malang Raya naik dua kali lipat dibandingkan hembusan angin pada kondisi cuaca normal.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Devi Fatmasari mengatakan, kondisi angin saat ini berhembus hingga mencapai 20 knot atau sekitar 40 kilometer per jam.
"Padahal normalnya itu (saat kondisi cuaca normal) maksimal sekitar 10 knot atau 20 kilometer per jam. Dan kondisi angin kencang ini lebih terasa di lautan karena tidak ada hambatan, tercatat bisa mencapai 36 knot atau sekitar 60 kilometer per jam," ujarnya kepada TribunJatim.com, Rabu (3/9/2025).
Baca juga: Cuaca Jatim Rabu 3 September 2025 Mayoritas Cerah, Suhu Udara Panas Mencapai 35 Derajat Celcius
Selain di lautan, efek angin kencang ini juga lebih terasa di area dataran tinggi karena minim hambatan.
"Kalau di dataran tinggi, hambatannya hampir tidak ada. Sehingga sama seperti di lautan, gesekannya berkurang dan anginnya lebih kencang," tambahnya.
Devi menerangkan, perubahan kondisi cuaca tersebut dipengaruhi adanya pusaran angin siklon dengan tekanan rendah di perairan barat Sumatera.
Hal itu memicu tarikan massa udara yang kuat dari wilayah timur menuju pusat tekanan rendah, sehingga menciptakan peningkatan kecepatan angin.
"Kondisi ini tidak hanya dialami oleh Malang Raya saja, namun di seluruh wilayah Jawa Timur. Efek dari angin kencang ini, yaitu kondisi cuaca juga jadi terasa terik karena tutupan awan bergeser dan potensi hujan berkurang," bebernya.
Diperkirakan, anomali cuaca ini akan terjadi hingga 4 September 2025 sambil tetap dilakukan pemantauan. Karena apabila pusaran tekanan rendahnya masih ada, maka angin kencangnya juga masih terjadi.
Baca juga: Cuaca Jatim Selasa 2 September 2025 Panas hingga 35 Derajat Celcius, Pakai Sunscreen 2 Jam Sekali!
"Anomali cuaca ini bukanlah siklus musiman yang terjadi tiap tahun. Melainkan hanya bersifat sementara, dikarenakan ada gangguan pusaran tekanan rendah tersebut," tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, pihaknya menyampaikan kepada masyarakat untuk tetap selalu berhati-hati dan waspada khususnya saat beraktivitas di luar ruangan.
"Angin kencangnya ini konsisten mulai dari pagi hingga malam. Kami mengimbau kepada masyarakat agar jangan berteduh di bawah pohon, jauhi baliho atau papan reklame yang berpotensi rawan roboh, hingga sebisa mungkin hindari melintas di ruas jalan yang memiliki banyak pohon," tandasnya.
anomali cuaca
Malang Raya
BMKG
angin kencang
angin siklon
berita malang hari ini
TribunJatim.com
Tribun Jatim
jatim.tribunnews.com
| Raih National Governance Award 2026, Lamongan Kokohkan Diri jadi Hub Agro-Maritim Jawa Timur |
|
|---|
| Mobil Mewah Dibeli Tunai Hendak Ditarik Paksa, Warga Surabaya Laporkan Debt Collector ke Polisi |
|
|---|
| Cuaca Ekstrem Mengintai, Pemkab Mojokerto Targetkan 2 Desa Tangguh Bencana Terbentuk Tiap Tahun |
|
|---|
| Pionir Transportasi Hijau, PO Bagong Resmi Operasikan 4 Unit Kendaraan Listrik Buatan Dalam Negeri |
|
|---|
| Kondisi Cristiano Ronaldo Lebih Banyak Ditarik Keluar Pelatih, Sempat Muntah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Prakirawan-BMKG-Stasiun-Klimatologi-Jawa-Timur.jpg)