Lipsus Eduwisata Malang
Serunya Main ke Eduwisata Kampung Gerabah di Pagelaran Malang, Tetap Eksis Meski Zaman Berubah
Malang memang memiliki sejumlah wisata yang menarik. Satu di antaranya adalah Eduwisata Kampung Gerabah di Pagelaran, Malang.
Penulis: Luluul Isnainiyah | Editor: Januar
Ringkasan Berita:
- Kampung Gerabah di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, menjadi destinasi eduwisata kerajinan gerabah yang masih mempertahankan sekitar 150 perajin tradisional, dengan produk seperti kendi, cobek, pot, hingga gendok ari-ari.
- Proses pembuatan gerabah dilakukan secara manual dari tanah liat, dibentuk, dijemur, lalu dibakar; perajin seperti Agus Riyanto (generasi ketiga sejak 1980-an) mampu memproduksi sekitar 100 unit
Laporan wartawan TribunJatim.com, Lu'lu'ul Isnainiyah
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Malang memang memiliki sejumlah wisata yang menarik.
Satu di antaranya adalah Eduwisata Kampung Gerabah di Pagelaran, Malang.
Kampung Getaan atau biasa disebut dengan Kampung Gerabah di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang menjadi destinasi wisata edukasi yang layak untuk dikunjungi.
Kurang lebih masih ada 150 perajin gerabah yang eksis selama puluhan tahun.
Kampung gerabah berada di Dusun Krajan, Desa Pagelaran. Lokasinya cukup mudah ditemukan dari jalan poros Gondanglegi menuju ke Balekambang. Sebab, sebelum masuk ke kampung ini ada gapura bertuliskan 'Eduwisata Kampung Gerabah'.
Setelah melewati gapura pintu masuk, masyarakat akan disuguhkan dengan pemandangan berbagai bentuk gerabah di sepanjang pinggir jalan desa. Seperti, kendi, cobek, pot bunga, dan lainnya. Selain itu juga terlihat gunungan tanah liat.
Jika dilihat dengan kasat mata, gerabah tersebut masih berwarna hitam mengkilat dan basah. Hal ini menandakan, gerabah baru saja dicetak lalu dijemur sebelum melalui proses pembakaran hingga berubah warna menjadi merah.
Baca juga: Kisah Berdirinya Kampung Inggris Pare, Berawal dari Dua Mahasiswa hingga Jadi Ikon Eduwisata Populer
Di antaranya, Agus Riyanto seorang perajin gerabah di kampung ini. Minggu (14/6/2026) siang, Agus tampak duduk di samping rumah. Kedua tangannya tampak sibuk membentuk adonan tanah liat di atas alat pemutar yang terbuat dari semen atau disebut perbot.
Perabot diputar menggunakan tali yang dikaitkan di kaki Agus. Sehingga kedua tangan serta kaki kanan Agus tak berhenti selama proses pembentukan gerabah.
Saat itu Agus sedang membentuk gendok atau kendil wadah untuk menyimpan dan mengubur ari-ari bayi. Untuk mengubah tanah liat menjadi gendok, Agus hanya membutuhkan waktu kisaran lima menit.
"Ini kebetulan dari juragan ada permintaan bikin gendok ari-ari," ucap Agus sambil memindahkan gerabah yang baru dicetak ke papan kayu.
Usaha kerajinan gerabah ini merupakan turun temurun dari neneknya. Agus sendiri merupakan generasi ketiga yang melanjutkan usaha ini sejak 1980-an. Selama puluhan tahun bergelut di kerajinan ini, Agus tidak merasakan kesulitan dalam mencetaknya.
Proses pembuatannya pun cukup mudah, dari tanah liat kemudian dicampur air lalu digiling. Selanjutnya adonan tanah liat dibentuk menjadi gerabah lalu dijemur di bawah terik matahari kurang lebih selama tiga jam.
| Viral Terpopuler: Daftar Gaji Pensiunan Polisi Hingga Kelakuan Bejat Pengasuh Ponpes ke Santri |
|
|---|
| Korban Meninggal dalam Kecelakaan di Gorong-gorong Margorejo Ternyata Saudara Wali Kota Surabaya |
|
|---|
| Arti Pin 168 yang Dipakai Timnas Iran di Piala Dunia 2026, Kini Dicari Anggota DPRD Jember |
|
|---|
| Alasan Sebenarnya ASN Bikin Video Pamer Gaji ke-13 Sambil Tunjukkan iPhone 17 dan Barang Lain |
|
|---|
| Rombongan Ibu Bentangkan Spanduk Sambil Geruduk Rumah Diduga Milik Bandar Narkoba |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/GERABAH-Agus-Riyanto-seorang-perajin-gerabah-di-kampung-gerabah-sedang.jpg)