Demam Bola Dunia 2026

Penyebab Euforia Piala Dunia 2026 Tak Semeriah Dulu, Kenaikan Nilai Tukar Dolar Ikut Berpengaruh

Malang sebagai salah satu daerah yang cukup kuat dengan budaya sepak bola, antusiasme Piala Dunia 2026 terasa biasa-biasa saja.

Tayang:
Penulis: Rifki Edgar | Editor: Alga W
X/FIFAWorldCup
PIALA DUNIA SEPI - Jelang bergulirnya Piala Dunia 2026, gaung turnamen sepak bola terbesar di dunia dinilai tidak semeriah edisi-edisi sebelumnya. 

Ringkasan Berita:
  • Malang sebagai salah satu daerah yang cukup kuat dengan budaya sepak bola, antusiasme Piala Dunia 2026 terasa biasa-biasa saja.
  • Menurut sosiolog, perubahan tersebut erat kaitannya dengan transformasi sosial dan faktor ekonomi.

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Rifki Edgar

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Euforia jelang turnamen sepak bola terbesar di dunia, Piala Dunia 2026, dinilai tidak semeriah edisi sebelumnya.

Dulunya, menjelang Piala Dunia bergulir, banyak perkampungan yang mulai bersolek diri dalam menyambut event Akbar sepak bola dunia tersebut.

Baca juga: Pawon Mbok Kasti di Desa Nogosari Hidupkan Kenangan Kampung Lewat Cita Rasa & Suasana Asri

Mulai dari menghiasi kampung dengan berbagai negara kontestan Piala Dunia, hingga menjadi obrolan hangat setiap hari di pojok kampung atau warung kopi.

Namun, antusiasme tersebut kini terasa biasa-biasa saja.

Seperti yang terasa di Malang, sebagai salah satu daerah yang cukup kuat dengan budaya sepak bola.

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari menilai, perubahan tersebut erat kaitannya dengan transformasi sosial.

Hal itu akibat dari perkembangan teknologi digital yang mengubah cara masyarakat mengkonsumsi informasi dan hiburan.

Menurut Luluk, masyarakat saat ini hidup dalam era digital yang membuat pola konsumsi media menjadi semakin instan dan terfragmentasi.

"Kalau dulu menonton sepak bola menjadi aktivitas kolektif. Orang rela begadang bersama keluarga atau teman-teman untuk menyaksikan pertandingan. Sekarang yang penting tahu hasil akhirnya saja," katanya kepada TribunJatim.com, Sabtu (6/6/2026).

Ia menjelaskan, generasi muda saat ini cenderung tidak lagi menikmati proses pertandingan secara utuh.

Mereka lebih memilih mengakses informasi singkat melalui media sosial atau portal berita daripada menghabiskan waktu berjam-jam menyaksikan pertandingan.

"Orang sekarang mencari yang praktis. Daripada menonton pertandingan selama 90 menit lebih, mereka cukup melihat skor akhir atau cuplikan pertandingan. Pola konsumsi informasi sudah berubah," ucapnya.

Perubahan juga dipengaruhi oleh hadirnya berbagai pilihan hiburan digital lain yang lebih menarik bagi generasi muda.

Seperti bermain gim, media sosial, hingga aktivitas nongkrong bersama teman.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved