Sejarah Peringatan Maulid Nabi di Indonesia, Bermula dari Wali Songo

Perayaan Maulid Nabi merupakan wujud kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Tayang:
TRIBUNNEWS/HO
PERINGATAN MAULID NABI - Ilustrasi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia pada 2018. Menurut sejarah, perayaan Maulid Nabi dirayakan oleh bangsa Arab sejak abad ke-2 H atau abad ke-8 M. 

TRIBUNJATIM.COM - Bulan Rabiul Awwal dikenal juga sebagai Bulan Maulid Nabi.

Sebab pada bulan ini dalam penanggalan Hijriyah, Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada 12 Rabiul Awwal.

Kata maulid berasal dari bahasa Arab, yang berarti hari lahir.

Menurut sejarah, perayaan Maulid Nabi dirayakan oleh bangsa Arab sejak abad ke-2 H atau abad ke-8 M.

Sejak itu, perayaan Maulid Nabi mulai berkembang di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Perayaan Maulid Nabi merupakan wujud kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Baca juga: Bacaan Maulid Barzanji, Sholawat Al-Fatih dan Munjiyat di Bulan Maulid Nabi 2025

Maulid Nabi di Indonesia bermula dari Wali Songo 

Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Wali Songo sejak 1404 M.

Tujuan Wali Songo merayakan Maulid Nabi adalah untuk menarik hati masyarakat setempat saat itu untuk terpanggil memeluk agama Islam.

Pada saat itu, Wali Songo melihat pengorbanan yang dilakukan Raja Hindu di Jawa telah melanggar aturan Islam.

Dalam tradisi Hindu-Buddha pada masa itu, jika suatu daerah terkena bencana mereka akan melakukan pengorbanan berupa penyembelihan kerbau sebagai tolak bala.

Hal ini yang kemudian mendorong Wali Songo memperkenalkan peringatan Maulid Nabi pada masyarakat setempat.

Itulah mengapa, Maulid Nabi juga disebut sebagai perayaan Syahadatain, atau yang secara umum dikenal dengan istilah Sekaten.

Syahadatain adalah kesaksian dan pengakuan bahwa Allah merupakan satu-satunya Tuhan yang wajib disembah dan Nabi Muhammad adalah utusan Rasul Allah.

Lebih lanjut, dari berbagai macam versi, pada dasarnya sekaten dapat dipahami sebagai upacara dan ritual penabuhan gamelan yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta dan Surakarta untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sampai saat ini, Sekaten masih diselenggarakan di beberapa kota, salah satunya Yogyakarta dan Surakarta.

Baca juga: 10 Ide Tema Acara Maulid Nabi 2025, Semangat Menyebarkan Kedamaian dan Meneladani Sifat Rasul

Keutamaan membaca sholawat di Bulan Maulid Nabi

Salah satu amalan yang dikerjakan di Bulan Maulid Nabi adalah membaca sholawat.

Anjuran membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW sangatlah banyak, baik di dalam Al-Qur'an maupun di dalam hadits.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 56:  

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Sementara itu, Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk membaca selawat.

Dalam banyak hadits, Nabi menyebutkan keutamaan-keutamaan membaca shalawat.

Di antaranya, pertama, adalah mendapatkan amalan 10 kali lipat. Nabi Muhammad bersabda:

  مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ مَرَّاتٍ  

Artinya: "Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali". (HR. Muslim)  

Baca juga: Jadwal Puasa Ayyamul Bidh September 2025 Bulan Maulid Nabi, Bolehkah Gabung Puasa Senin Kamis?

Kedua, mendapatkan titisan rahmat dari Allah. Nabi Muhammad SAW bersabda:

  مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَبَّ اللَّهُ عَلَيْهِ مِنَ الرَّحْمَةِ نِعْمَتَيْنِ  

Artinya: "Barang siapa yang bershalawat kepadaku, maka Allah akan mencurahkan rahmat kepadanya sebanyak dua kali lipat. " (HR. Tirmidzi).  

Ketiga, Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk memperbanyak membaca shalawat pada hari Jumat.

Dalam hadits ini, Nabi mengatakan akan mendapatkan ampunan dari segala dosa, antara Jumat ini dengan Jumat yang akan datang.  

مَنْ أَكْثَرَ الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُفِرَ لَهُ ذُنُوبُهُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ  

Artinya: "Barang siapa yang banyak bershalawat kepadaku di hari Jumat, maka dosanya akan diampuni antara dua Jumat." (HR. Baihaqi).

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews Tribunjatim.com

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved