Berita Viral

Nasib 5 Alumni LPDP yang Kembali Mengabdi ke Indonesia, Ada yang Jual Sayur hingga Jadi Lurah

Berbeda dengan pilihan yang diambil oleh mantan Awardee LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, 5 awardee LPDP ini membawa perubahan kembali ke Indonesia.

Tayang:
Penulis: Ignatia | Editor: Ignatia Andra
Tribun Jatim Network
KEMBALI - Potret para peraih awardee LPDP yang menempuh pendidikan beberapa waktu lalu dan memilih untuk kembali ke Indonesia untuk membangun negeri. 

Ringkasan Berita:
  • 5 kisah mantan awardee LPDP ini membuka pandangan baru bahwa kembali ke Indonesia setelah menempuh studi adalah hal yang menakjubkan
  • Para awardee LPDP yang memilih pulang tersebut berkarir untuk membangun negeri
  • Baru-baru ini kisah para peserta LPDP menjadi sorotan setelah viralnya kasus DS dan suaminya di Inggris.

 

TRIBUNJATIM.COM - Akhir-akhir ini isu mengenai LPDP memang sedang memanas, setelah salah satu awardee LPDP yaitu DS pamer paspor WNA anaknya menjadi bola panas dan memunculkan fakta baru.

Suaminya, AP belum kembali ke Indonesia untuk berkontribusi.

Hingga Menkeu Purbaya memberi sanksi kepada keduanya tidak bisa berkarier di pemerintahan dan wajib mengembalikan biaya studi beserta bunganya full.

Tercatat ada 44 awardee LPDP melanggar kewajibannya dan delapan di antaranya mengembalikan dana biaya studinya juga.

Baca juga: Sosok Ayah Arya Pamungkas yang Siap Kembalikan Beasiswa LPDP Rp 2,5 M, Jabatan Mertua Tyas Mentereng

Berkarir di internasional memang tidak salah tetapi tidak dibenarkan jika masih masuk dalam masa perjanjian dengan beasiswa pemerintah yakni LPDP.

Perbuatan DS masih menjadi polemik, beberapa nama awardee lain memilih nasib berbeda setelah menempuh pendidikan di luar negeri dengan beasiswa LPDP.

Beberapa diantara mereka kembali ke Indonesia menjadi lurah, berjualan sayur, hingga jadi ilmuwan keren. Siapa saja mereka?

Berikut dirangkum TribunJatim.com:

  1. Hapu Ammah

Hapu Ammah atau Endy baru pulang dari Melbourne pada bulan Agustus 2025. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan Master of Public Health di University of Melbourne Australia.

Endy balik ke Indonesia menjalani rutinitasnya sebagai perawat sekaligus pelatih di Pusat Pelatihan Mikroskopis Malaria.

Lebih dari sepuluh tahun bekerja di klinik malaria, Endy mulai menyadari satu hal penting: persoalan kesehatan tidak cukup diselesaikan di level individu.

“Saya ingin belajar melihat persoalan kesehatan secara lebih luas, tidak hanya pada level individu tapi pada level masyarakat, dari budayanya dan lingkungannya,” katanya.

Selama bekerja di Sumba Foundation itulah Endy bertemu dengan rekan kerja dari beragam asal. Mereka tampak terus mengejar pendidikannya di dalam negeri maupun di luar negeri lalu banyak memberikan kontribusi yang besar kepada masyarakat.

Hapu Ammah, awardee LPDP
Hapu Ammah, awardee LPDP (Dok. LPDP)

2. Janu Muhammad

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved