Hikmah Ramadan
Mengenal Keutamaan I’tikaf di Bulan Ramadan
Salah satu hikmah Ramadan ialah hadirnya malam-malam tertentu untuk melakukan I’tikaf di masjid. I’tikaf ialah berdiam diri di masjid
Ringkasan Berita:
- I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, terutama pada 10 hari terakhir Ramadan. Orang yang melakukannya disebut mu’takif. Selama i’tikaf dianjurkan memperbanyak ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan menjaga adab seperti menutup aurat serta tidak keluar masjid tanpa keperluan.
- Inti i’tikaf adalah ibadah rohani melalui muhasabah dan mujahadah. Kegiatannya dapat berupa dzikir dan wirid (mengingat Allah)
Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
TRIBUNJATIM.COM- Salah satu hikmah Ramadan ialah hadirnya malam-malam tertentu untuk melakukan I’tikaf di masjid. I’tikaf ialah berdiam diri di masjid untuk melakukan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Swt. Orang yang melakukan I’tikaf disebut mu’takif, jamaknya muktakifin.
Seorang mu’takif. I’tikaf ada Syarat dan ketentuanjnya. Selama menjalankan i’tikaf tidak dibenarkan berhubungan suami-isteri, keluar masuk masjid tanpa keperluan, dan dianjurkan menutup aurat serta memperbanyak amalan ibadah seperti dzikir, wirid, tafakkur, tadzakkur, di samping shalat dan membaca ayat suci Alquran. Rangkaian i’tikaf harus diawali dengan niat. I’tikaf bisa beberapa hari, khususnya pada 10 hari terakhir bulan Ramadlan dan bisa juga beberapa saat.
Inti i’tikaf sesungguhnya ialah ibadah rohani, yaitu dengan melakukan muhasabah atau mujahadah. Sebagian ulama berpendapat kalau saja orang bisa melakukan muhasabah dengan dengan baik maka sesungguhnya lebih baik baginya dari pada shalat sunat. Muhasabah bisa diisi dengan dzikir dan wirid atau tafakkur dan tadzakkur.
Zikir dan wirid sesungguhnya sama, hanya bedanya dzikir menyebut dan mengingat nama-nama Allah secara umum tanpa ketentuan; sedangkan wirid ialah zikir yang sudah diatur jumlah dan ketentuannya secara rutin. Tafakkur sudah tidak ada lagi bacaan dan hitungan. Yang ada ialah mengingat dan merenung masa lampau kita yang kelam lalu memohonkan ampun kepada Allah SWT.
Sedangkan tadzakkur, sudah tidak ada lagi ingatan yang aktif. Yang ada hanyalah ketenangan, kebisuan, dan kepasrahan. Tadzakkur ketika oaring sedang berada pada puncak kekhusyukan, sehingga ia seolah-olah tidak menyadari diri kalau ia sesungguhnya berada pada tingkat kesadaran paling tinggi, tingkatan kesadaran para auliya dan para Nabi.
Baca juga: Memahami Berbagai Tingkatan Menangis yang Ada dalam Islam
I’tikaf mempunyai beberapa tingkatan. I’tikafnya orang awam ialah datang ke masjid melakukan rangkaian ibadah formal seperti shalat lail, tahajjud, witir, mengaji atau tadarrusan, sesekali diisi oleh pengajian. I’tikaf orang khawas lebih dari sekedar itu; bukan mengejar target-target kuantitas misalnya banyaknya rakaat shalat yang harus dilakukan, banyaknya juz Al-Qur’an yang dibaca, dan hebatnya penceramah yang ia dengar. Yang penting bagi khawashul Mu’takifin ialah kualitas mujahadah yang dapat diraih. Kalau perlu yang bersangkutan menembus tingkatan mukasyafah yaitu membuka hijab atau tabir yang selama ini menghalangi.
I’tikaf bisa mengantarkan seseorang kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi sehingga kemabruran Ramadhan terpancar selalu di wajah orang ini seusai Ramadan. I’tikaf betul-betul menjadi momentum untuk menggunting dosa-dosa langganannya sehingga ia tampil beda seusai kembali ke hari Idul Fitri. Beruntunglah orang-orang yang berhasil meraih prestasi i’tikaf sejati seperti ini. Kita berharap dan sekaligus bermohon agar i’tikaf kita kali ini lebih intensif dan efektif.
Kualitas i’tikaf dapat diukur seberapa tenang dan pasrah pikiran dan hati di dalam menjalankannya. Terkadang tidak terasa kita berada pada ujung malam tanpa sedikitpun merasakan rasa ngantuk dan kelelahan. I’tikaf dirasakan sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan dan samasekali tidak dirasakan lagi sebagai suatu beban. Berbagai ibadah yang dilakukan di dalamnya menyenangkan, seperti tadarrus Alquran dan berbagai shalat sunnah. Jiwa lembut, hati putih, pikiran lurus, dan akhlk karimah betul-betul terasa di dalam diri yang bersangkutan. Semoga kita bisa meraih indahnya i’tikaf.
Di dalam masyarakat modern, terutama yang tinggal di perkotaan, sudah selayaknya memprogram diri untuk mengikuti I’tikaf, baik I’tikaf mandiri, secara perorangan maupun berjamaah. Ini penting untuk memberikan ruang istirahat kepada Rohani atau batin seseorang guna meraih kesegaran Kembali setelah dilelahkan oleh berbagai urusan dunia.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Menteri-Agama-Nasaruddin-Umar-dalam-artikel-Hikmah-Ramadan-Sabtu-732026.jpg)