Berita Viral

Negara ini Kurangi Jam Kerja Jadi 4 Hari Demi Hemat Listrik dan BBM Imbas Konflik AS-Israel vs Iran

Filipina resmi memutuskan mengurangi jam kerja menjadi empat hari dalam seminggu demi hemat listrik dan BBM imbas konflik AS-Israel vs Iran.

Tayang:
Istimewa
KEBIJAKAN JAM KERJA (Arsip) - Ilustrasi mengisi BBM di motor. Filipina resmi memutuskan mengurangi jam kerja menjadi empat hari dalam seminggu demi hemat listrik dan BBM imbas konflik AS-Israel vs Iran. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya darurat untuk meringankan beban ekonomi masyarakat akibat terganggunya pasokan energi global, Senin (9/3/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Filipina resmi memutuskan mengurangi jam kerja menjadi empat hari dalam seminggu demi hemat listrik dan BBM imbas konflik AS-Israel vs Iran.
  • Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya darurat untuk meringankan beban ekonomi masyarakat akibat terganggunya pasokan energi global.
  • Filipina berada dalam posisi rentan karena mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah

 

TRIBUNJATIM.COM - Harga bahan bakar minyak (BBM) berpotensi melonjak dipicu adanya eskalasi perang di Timur Tengah.

Atas hal itu, Filipina resmi memutuskan mengalihkan sistem kerja menjadi empat hari dalam seminggu.

Aturan tersebut mulai berlaku di seluruh kantor pemerintahan pada Senin (9/3/2026).

Hal ini seperti diumumkan oleh Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya darurat untuk meringankan beban ekonomi masyarakat akibat terganggunya pasokan energi global.

Harga Bensin Berpotensi Naik Minggu Depan

Marcos memperingatkan penutupan jalur strategis Selat Hormuz akan berdampak langsung pada harga BBM lokal. 

Diperkirakan pekan depan harga bensin akan naik sebesar 7,48 peso (sekitar Rp 2.148) per liter, solar naik 17,28 peso (Rp 4.963), dan minyak tanah melonjak hingga 32,35 peso (Rp 9.290).

"Kita adalah korban perang yang bukan pilihan kita," kata Marcos dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Kompas.com.

"Tapi kita yang mengendalikan bagaimana kita akan melindungi rakyat Filipina," sambungnya.

Baca juga: Sosok dan Rekam Jejak Mojtaba Khamenei Pemimpin Baru Iran, Donald Trump Tak Terima

Ketergantungan Energi Filipina

Filipina berada dalam posisi rentan karena mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah

Selain untuk transportasi, negara ini juga masih sangat bergantung pada pembangkit listrik tenaga minyak.

Konflik di Timur Tengah juga mengancam keselamatan serta mata pencaharian lebih dari dua juta warga Filipina yang bekerja di wilayah tersebut. 

Pekerja migran merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi ekonomi Manila.

Baca juga: Amerika dan Israel Mulai Pecah, Harga Minyak dan Serangan ke Kilang BBM Iran Jadi Pemicu

Perintahkan Hemat Energi

Marcos pun memerintahkan semua instansi pemerintah untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan listrik sebesar 10-20 persen.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved