Perang Iran vs Israel Amerika

Rusia Angkat Bicara usai Muncul Kabar Mojtaba Khamenei Dipindah dari Iran ke Moskow

Kata Rusia setelah Mojtaba Khamenei dikabarkan ke Moskow akibat serangan udara AS–Israel yang menewaskan ayahnya pada 28 Februari lalu.

Tayang:
Editor: Torik Aqua
Tribun Jatim Network/the guardian.com via Wartakota
MOTJABA KHAMENEI -- Kabar mengenai kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei mendadak menjadi sorotan sejumlah media internasional. Ia dilaporkan diam-diam dibawa ke Moscow untuk menjalani operasi medis setelah disebut mengalami luka serius, di tengah situasi geopolitik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah. 
Ringkasan Berita:
  1. Khamenei dikabarkan dirawat di Rusia, namun dibantah Iran.
  2. Rusia tidak mengonfirmasi laporan, sebut tak komentari isu tersebut.
  3. Khamenei disebut terluka, tetapi dilaporkan dalam kondisi stabil.

 

TRIBUNJATIM.COM - Kabar Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei dipindahkan ke Moskow membuat Rusia angkat bicara.

Mojtaba Khamenei dikabarkan menjalani perawatan medis akibat serangan udara AS–Israel yang menewaskan ayahnya pada 28 Februari lalu.

Ia dikabarkan mengalami luka parah.

Pria berusia 56 tahun itu dipindah ke Moskow usai Presiden Rusia Vladimir Putin secara pribadi menawarkan perawatan medis kepada Khamenei dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menurut laporan surat kabar Kuwait, Al-Jarida.

Baca juga: Mojtaba Masih Pertahankan Formasi Pejabat Iran Era Ayahnya, Ali Khamenei

Khamenei disebut diterbangkan ke Moskow menggunakan pesawat militer Rusia pada Kamis (12/3/2026), setelah berbicara dengan Putin, demikian klaim laporan tersebut.

Sementara itu, Rusia menolak untuk mengonfirmasi maupun membantah laporan tersebut.

Berbicara kepada kantor berita Tass, sekretaris pers kepresidenan Rusia Dmitry Peskov mengatakan, "Kami tidak pernah mengomentari laporan seperti itu."

Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menyebut laporan mengenai Mojtaba Khamenei yang menjalani perawatan atas luka-lukanya sebagai "perang psikologis".

Ia menolak klaim tersebut dan menegaskan, "Para pemimpin Iran tidak perlu melarikan diri dan bersembunyi di tempat perlindungan; tempat mereka adalah di jalanan bersama rakyat."

Hubungan Rusia–Iran

Iran merupakan salah satu sekutu terdekat Rusia di Timur Tengah dan memiliki "kemitraan strategis" yang erat dengan Moskow. Keduanya sama-sama mengecam Amerika Serikat dan NATO sebagai musuh bersama di kawasan tersebut.

Putin telah mengutuk pembunuhan Ali Khamenei oleh AS sebagai tindakan yang sinis dan berjanji akan memberikan dukungan penuh bagi Teheran.

PESAN - Mojtaba Khamenei sampaikan pesan perdananya sejak menjadi pemimpin tertinggi Iran.
PESAN - Mojtaba Khamenei sampaikan pesan perdananya sejak menjadi pemimpin tertinggi Iran. (Istimewa/HO/IST/Press TV)

Kondisi Mojtaba Khamenei

Menurut Kementerian Luar Negeri Iran, Mojtaba Khamenei memang terluka akibat serangan AS–Israel, tetapi dilaporkan berada dalam kondisi baik.

Ia disebut mengalami cedera di kaki, lengan, dan tangan.

Baru-baru ini, sebuah rekaman audio yang bocor juga mengklaim bahwa Khamenei selamat karena keluar dari rumah beberapa saat sebelum rudal AS menghantam kediamannya.

Dalam laporan tersebut, ia disebut hanya mengalami cedera ringan di kaki, sementara istrinya, Zahra Haddad-Adel, dan putra mereka tewas seketika, menurut laporan The Telegraph.

Di sisi lain, laporan dari Amerika Serikat mengklaim bahwa pemimpin Iran tersebut mengalami kecacatan akibat serangan itu.

Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa ia tidak mengetahui apakah pemimpin tertinggi Iran yang baru itu masih hidup.

Sosok Mojtaba Khamenei

Mengutip Hindustan Times, Mojtaba (56) merupakan putra kedua Ali Khamenei dan dikenal memiliki hubungan yang kuat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Mojtaba bukanlah ulama berpangkat tinggi.

Ia tidak pernah memegang jabatan resmi dan tidak memiliki peran formal dalam rezim tersebut.

Namun, ia diyakini memiliki pengaruh yang cukup besar di balik layar.

Ia pernah bertugas di angkatan bersenjata Iran selama perang Iran–Irak.

Meskipun kemungkinan terdapat penolakan terhadap pemilihannya, mengingat prinsip-prinsip Syiah, banyak petinggi Iran juga telah dinetralisir dalam serangan terhadap negara tersebut.

Keluarga

Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad-Adel.

Zahra merupakan putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politikus konservatif Iran dan mantan Ketua Parlemen.

Keduanya dilaporkan menikah pada tahun 2004.

Zahra dilaporkan tewas pada tahun 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran.

Pasangan ini dilaporkan memiliki tiga anak, meskipun tidak banyak detail yang tersedia mengenai anak-anak tersebut.

Sosok Mojtaba Khamenei yang kini ditunjuk menjadi pemimpin tertinggi Iran

Mojtaba menjadi pemimpin  menggantikan sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei.

Ali Khamenei meninggal akibat serangan gabungan dari Amerika Serikat-Israel.

Majelis Pakar Iran yang menunjuk Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin tertinggi.

Baca juga: Megawati Kirim Ucapan Duka ke Iran Atas Gugurnya Ali Khamenei: Punya Ikatan Batin dengan Bung Karno

Kabar tersebut dikonfirmasi media Iran, Tasnimnews.ir.

Majelis Pakar memilih Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Revolusi Islam ketiga.

Penunjukan Mojtaba Khamenei dilakukan setelah sembilan hari kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan gabungan Amerika Serikat–Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026.

Dilansir dari Al Jazeera, Mojtaba Khamenei tidak pernah mencalonkan diri untuk jabatan publik atau mengikuti pemilihan umum.

Tetapi selama beberapa dekade telah menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di lingkaran dalam pemimpin tertinggi Iran serta membina hubungan yang erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Dalam beberapa tahun terakhir, ia semakin sering disebut-sebut sebagai calon pengganti utama ayahnya.

Mohammad Mehdi Mirbagheri, tokoh terkemuka di Majelis Pakar, mengatakan penunjukan pengganti Ali Khamenei dilakukan secara hati-hati agar tidak ada penolakan di internal mereka.

Majelis Pakar yang beranggotakan 88 orang saat ini berembuk untuk menentukan nama pengganti Ali Khamenei.

“Suatu pendapat yang hampir pasti telah tercapai. Mayoritas yang signifikan telah terbentuk,” kata kepala Akademi Ilmu Islam Qom dalam sebuah video yang dirilis pada hari Minggu oleh kantor berita Fars, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Sementara itu, pemimpin Muslim ultra-konservatif terkemuka yang mewakili kota suci Syiah Mashhad di Majelis Pakar, Ahmad Alamolhoda, mengatakan pada Minggu (8/3/2026) pemimpin telah dipilih dan sekretariat Majelis Pakar harus segera mengumumkan hasilnya.

"Pemilihan pemimpin telah berlangsung dan pemimpin telah ditentukan. Semua rumor bahwa Majelis Pakar belum mengambil keputusan adalah kebohongan belaka. Semuanya sekarang bergantung pada sekretaris Majelis Pakar, Ayatollah Hosseini Bushehri, yang berkewajiban untuk mengumumkan keputusan Majelis kepada publik," ujar Ahmad Alamolhoda.

Badan yang beranggotakan 88 orang tersebut memiliki wewenang untuk menunjuk pemimpin baru Iran.

Berdasarkan Pasal 111 Konstitusi Iran, apabila pemimpin tertinggi Iran wafat atau tak lagi mampu memimpin, para ahli harus menunjuk pemimpin baru sesegera mungkin.

Donald Trump Sebut Tak Akan Bertahan Lama

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pun memberikan respons soal langkah Iran yang akan segera mengumumkan pemimpin tertinggi baru.

Trump berjanji akan memberikan pengaruh atas siapa yang dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya.

“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami,” kata Trump.

“Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” lanjut Trump.

Trump menambahkan bahwa dia tidak ingin pemerintahan Iran ke depan kembali ke masa lalu.

“Saya tidak ingin orang-orang harus kembali dalam lima tahun dan melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi, membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” katanya.

Sosok Mojtaba Khamenei

Dilansir dari berbagai laporan media internasional, Mojtaba Khamenei merupakan putra kedua Ali Khamenei.

Al Jazeera menulis, Mojtaba dikenal sebagai ulama garis keras yang memiliki pengaruh kuat di lingkaran dalam kekuasaan Iran.

Mojtaba dilaporkan selamat dari serangan yang menewaskan ayahnya karena tidak berada di lokasi saat kompleks kediaman pemimpin tertinggi di Teheran diserang.

Dekat dengan Garda Revolusi Iran

Mojtaba diketahui memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), kekuatan militer elite yang menjadi pilar utama kekuasaan negara tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, nama Mojtaba semakin sering disebut sebagai calon penerus utama Ali Khamenei yang memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade.

Jarang Muncul di Publik

Mojtaba Khamenei sendiri jarang tampil di depan publik dan hampir tidak pernah memberikan pidato politik atau khutbah terbuka.

Bahkan, banyak warga Iran yang mengaku belum pernah mendengar langsung suaranya meski namanya sering disebut dalam lingkaran kekuasaan.

Tuduhan Peran dalam Penindasan Demonstrasi

Sejumlah kelompok oposisi Iran selama hampir dua dekade juga menuduh Mojtaba terlibat dalam penindasan terhadap demonstrasi anti-pemerintah.

Tuduhan tersebut antara lain terkait dengan penanganan aksi protes besar yang dikenal sebagai Gerakan Hijau Iran 2009 setelah kemenangan pemilu presiden yang kontroversial oleh Mahmoud Ahmadinejad.

Sejak saat itu, pasukan paramiliter Basij yang berada di bawah pengaruh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kerap menjadi ujung tombak dalam meredam berbagai gelombang protes nasional di Iran.

Kontroversi Kekayaan dan Jaringan Ekonomi

Selain peran politiknya, beberapa laporan media Barat juga menyebut Mojtaba memiliki jaringan ekonomi luas yang diduga terkait dengan berbagai aset di sejumlah negara.

Namun, tuduhan tersebut belum pernah secara resmi dikonfirmasi dan Mojtaba sendiri tidak pernah memberikan tanggapan publik.

Status Keulamaan Mojtaba

Dari sisi keagamaan, Mojtaba Khamenei saat ini menyandang gelar hojatoleslam, yaitu tingkat ulama menengah dalam hierarki ulama Syiah.

Status ini sempat menimbulkan perdebatan karena posisi pemimpin tertinggi Iran biasanya dipegang oleh ulama dengan gelar ayatollah yang lebih tinggi.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved