Berita Viral

Efek Earworm Dalam Fenomena Bisnis Burger Milik Aldi Taher, Viral Antre Mengular

Terjadi fenomena Earworm pada bisnis terbaru Aldi Taher yang belakangan mencuri perhatian karena ramai sampai antre.

Tayang:
Penulis: Ignatia | Editor: Ignatia Andra
Kompas.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN
EARWORM - Antrean panjang pelanggan seteru mengular di bahu jalan perumahan Cempaka Putih Timur lokasi Aldis Burger, Rabu (1/4/2026). Antrean panjang tersebut menunjukkan berkembangnya fenomena psikologis yang disebut 'Earworm'. Apa itu? 

TRIBUNJATIM.COM - Bisnis burger milik Aldi Taher yang berlokasi di Cempaka Putih, Jakarta Pusat sedang jadi sorotan.

Aktor Aldi Taher membuka peruntungan membangun bisnis barunya di bidang kuliner.

Bernama 'Aldi's Burger' bisnis ini langsung mendatangkan ke-FOMO-an.

Terbukti dengan tingkah warga yang rela mengantre demi mendapatkan burger tersebut.

Warga rela antre berjam-jam di bawah terik matahari demi burger milik Aldi Taher di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Bahkan, sebagian harus pulang dengan tangan kosong karena kehabisan stok, lalu kembali lagi keesokan harinya.

Fenomena ini terus terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Antrean bahkan sudah terbentuk sebelum gerai dibuka, sementara produksi burger kerap habis dalam waktu singkat.

Earworm Phenomenone

Bukan sekadar karena viral, ada mekanisme psikologis yang bekerja di baliknya, salah satunya adalah efek yang dikenal sebagai earworm.

Psikolog klinis senior Ratih Ibrahim menjelaskan, konten promosi yang repetitif dan tidak biasa dapat menimbulkan efek kuat dalam ingatan.

“Kombinasi antara keunikan dan pengulangan membuat konten lebih menempel kuat dalam ingatan masyarakat,” ujar Ratih.

Efek ini dikenal sebagai earworm, yakni kondisi ketika sebuah informasi terus terulang di kepala secara spontan, bahkan tanpa disadari.

Baca juga: Massuri Tegang Antar Bupati ke Kantor Naik Becak, Dikira Dibayar Rp 100 Ribu Ternyata Sesuai Tarif

Dalam kasus burger Aldi, kalimat promosi yang diulang di berbagai platform media sosial menjadi salah satu pemicunya.

Paparan berulang membuat pesan tersebut melekat, lalu memunculkan rasa penasaran.

Pada titik ini, seseorang bisa merasa “terus kepikiran”, meski awalnya hanya melihat sekilas di media sosial.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved