Berita Viral

Sosok Peneliti Diduga Palsukan Hasil Riset Demi Jalan-jalan Gratis ke Luar Negeri

Nama Prihantini dan Rifaldy Fajar menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan pemalsuan riset AI demi jalan-jalan gratis ke luar negeri.

Tayang:
TribunJatim.com/Toriq
PENELITI PALSUKAN RISET (Arsip) - Ilustrasi pekerja. Nama Prihantini dan Rifaldy Fajar menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan pemalsuan riset kecerdasan buatan (AI) yang disebut terkait pengajuan travel grant ke luar negeri. Universitas Negeri Yogyakarta melalui Wakil Rektor Bidang Akademik Nur Hidayanto membenarkan kedua nama tersebut tercatat sebagai alumni di database kampus, Rabu (27/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Nama Prihantini dan Rifaldy Fajar menjadi sorotan setelah muncul dugaan pemalsuan riset AI demi jalan-jalan gratis ke luar negeri.
  • Universitas Negeri Yogyakarta melalui Wakil Rektor Bidang Akademik Nur Hidayanto membenarkan kedua nama tersebut tercatat sebagai alumni di database kampus.
  • Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan pihak yang terlibat dalam kasus tersebut tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia.

 

TRIBUNJATIM.COM - Dua sosok peneliti bernama Prihantini dan Rifaldy Fajar tengah menjadi perhatian publik usai muncul dugaan pemalsuan hasil riset kecerdasan buatan (AI) yang disebut-sebut berkaitan dengan pengajuan travel grant ke luar negeri.

Kasus ini ramai dibicarakan di media sosial karena dinilai dapat berdampak pada citra dunia riset Indonesia di mata internasional.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Nur Hidayanto, membenarkan nama Prihantini dan Rifaldy Fajar memang tercatat sebagai alumni di database kampus.

Namun, pihak universitas belum dapat memastikan apakah kedua nama yang viral di media sosial benar merupakan alumni yang dimaksud dalam data kampus.

Menurut Nur, proses klarifikasi masih diperlukan untuk memastikan identitas keduanya sebelum mengambil kesimpulan lebih lanjut terkait isu yang beredar.
 "Dua nama itu memang ada di database kami, tapi kami enggak tahu namanya itu sama atau tidak, kan kami enggak tahu," ujar Nur dilansir dari Kompas.com, Selasa (26/05/2026). 

"Di database kami, ada nama Rifaldy Fajar dan Prihantini. Tapi, yang kami perlu konfirmasi dan klarifikasi, apakah yang muncul di medsos itu Rifaldy Fajar dan Prihantini (yang sama dengan) di (database) kami. Itu yang belum bisa kami pastikan," ungkap Nur.

Baca juga: Rismon Duga Dokter Tifa Tilap Penjualan Jokowi White Paper Rp3,5 M, Sebut Roy Suryo Peneliti Palsu

Baca juga: Sosok Emerse Fae, Pelatih Juara Piala Afrika Usung Ambisi Patahkan Kutukan di Piala Dunia 2026

Terindikasi Bukan Peneliti

Terkait dengan keviralan tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto buka suara.

Brian menegaskan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang memalsukan riset dalam konferensi internasional yang digelar di Denmark bukanlah peneliti

"Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia," kata Brian kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2026). 

Brian mengatakan, pihaknya terus melakukan koordinasi dan pendalaman terkait kasus tersebut, termasuk status peserta, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia. 

"Meski demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas," ujar dia. 

Brian menjelaskan, Indonesia memiliki mekanisme evaluasi integritas riset melalui perguruan tinggi, komite etik, LPPM, sistem penjaminan mutu akademik, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi dari Kemdiktisaintek maupun BRIN sesuai kewenangannya. 

Untuk penelitian yang dilakukan oleh dosen dan peneliti di Indonesia, Brian sebut prosesnya berada dalam koridor pemantauan berkala yang ditujukan untuk menjaga mutu hasil penelitian. 

"Sejak tahap pengajuan proposal, penelitian melalui proses review bertingkat, mulai dari LPPM hingga tim reviewer Kemdiktisaintek. Pada tahap pelaksanaan, laporan kemajuan dan laporan akhir juga dievaluasi dan dimonitoring," ucap Brian. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved