Daftar Kontroversi Program MBG Selama Dipimpin Dadan Hindayana Sebagai Kepala BGN

Selama dipimpin Dadan Hindayana sebagai Kepala BGN, deretan kontroversi mewarnai program MBG. Apa saja?

Tayang:
Editor: Ani Susanti
KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA
KONTROVERSI PROGRAM MBG - Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana dan dua eks wakil kepala BGN, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG. 
Ringkasan Berita:
  • Kejaksaan Agung menetapkan mantan Kepala BGN Dadan Hindayana dan dua wakilnya sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG)
  • Program MBG selama ini diwarnai berbagai kontroversi mulai dari infrastruktur yang tidak merata hingga keterlibatan TNI-Polri
  • Pemerintah menegaskan bahwa pergantian pimpinan bertujuan untuk memperkuat efektivitas dan transparansi anggaran program nasional tersebut

TRIBUNJATIM.COM - Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana dan dua eks wakil kepala BGN, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penyimpangan tata kelola program MBG atau Makan Bergizi Gratis.

Penetapan tersangka oleh Kejaskaaan Agung ini terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto resmi mencopot ketiga orang itu dari jabatannya.

Presiden kemudian menunjuk Nani S. Deyang sebagai Kepala BGN yang baru.

Sementara posisi wakil kepala diisi Agustina Arumsari dan Mayjen Eddy Trenggono.

Selama dipimpin Dadan Hindayana, deretan kontroversi mewarnai program MBG.

Dilansir dari WartaKota, berikut di antaranya:

Kerap Tuai Kritik

Sejak diluncurkan, program MBG menjadi salah satu program paling ambisius pemerintah.

Program tersebut ditargetkan menjangkau puluhan juta pelajar, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di seluruh Indonesia.

Namun dalam pelaksanaannya, berbagai persoalan muncul di lapangan.

Salah satu kritik yang paling sering muncul adalah belum meratanya pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Sejumlah daerah mengeluhkan belum tersedianya dapur MBG sehingga distribusi makanan bergizi belum dapat berjalan optimal.

Beberapa kajian bahkan menunjukkan masih terdapat ratusan kecamatan yang belum memiliki titik layanan SPPG.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan infrastruktur program nasional tersebut.

Baca juga: BREAKING NEWS: Eks Kepala BGN Dadan Hindayana dan 2 Wakilnya Jadi Tersangka Korupsi Tata Kelola MBG

Keterlibatan TNI-Polri

Kontroversi lain muncul saat BGN menggandeng unsur TNI dan Polri dalam mendukung pelaksanaan MBG.

Kebijakan itu sempat menuai perdebatan di ruang publik.

Sejumlah pihak mempertanyakan alasan keterlibatan aparat keamanan dalam program yang berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat.

Menanggapi kritik tersebut, jajaran BGN saat itu menegaskan bahwa TNI dan Polri hanya membantu aspek pendukung.

Pihak BGN menyebut proses memasak dan penyediaan makanan tetap dilakukan oleh relawan serta tenaga yang telah disiapkan khusus.

Meski demikian, polemik mengenai pembagian peran tersebut terus menjadi bahan diskusi publik.

Masalah Kualitas dan Pengawasan

Selain persoalan infrastruktur, pengawasan kualitas makanan juga beberapa kali menjadi perhatian.

Di sejumlah daerah sempat muncul laporan mengenai keterlambatan distribusi makanan.

Ada pula keluhan terkait kualitas menu yang dinilai belum seragam antarwilayah.

Meski jumlah kasusnya relatif terbatas dibanding cakupan program secara nasional, persoalan tersebut tetap menjadi sorotan karena menyangkut kesehatan penerima manfaat.

BGN saat itu berulang kali menegaskan bahwa evaluasi terus dilakukan untuk memperbaiki standar operasional.

Dadan Hindayana juga beberapa kali menyampaikan bahwa program sebesar MBG membutuhkan proses penyesuaian di lapangan.

Menurutnya, tantangan utama adalah memastikan standar kualitas yang sama di seluruh Indonesia.

Baca juga: Sosok Sony Sonjaya Dicopot dari Wakil Kepala BGN Bersama Dadan Hindayana, Pernah Jabat Kapolres

Target Besar dan Beban Anggaran MBG

Program MBG juga menjadi perhatian karena membutuhkan anggaran yang sangat besar.

Pemerintah mengalokasikan dana ratusan triliun rupiah secara bertahap untuk mendukung program tersebut.

Besarnya anggaran membuat berbagai kalangan menuntut transparansi dan akuntabilitas yang tinggi.

BGN dituntut mampu memastikan setiap rupiah yang digunakan benar-benar berdampak terhadap peningkatan kualitas gizi masyarakat.

Sejumlah pengamat kebijakan publik menilai pengawasan program harus dilakukan secara ketat mengingat skala program yang sangat besar.

Karena itu, evaluasi terhadap kinerja BGN terus menjadi perhatian pemerintah.

Arah Baru BGN dan Evaluasi

Pemerintah menegaskan pergantian pimpinan bukan berarti menghentikan Program Makan Bergizi Gratis.

Sebaliknya, langkah tersebut disebut sebagai upaya memperkuat pelaksanaan program agar lebih efektif.

Presiden Prabowo meminta jajaran baru BGN segera melakukan konsolidasi internal.

Koordinasi dengan kementerian, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan juga diminta diperkuat.

Mensesneg Prasetyo Hadi mengatakan evaluasi dilakukan berdasarkan berbagai masukan yang diterima pemerintah.

Masukan tersebut berasal dari kementerian terkait, masyarakat, hingga penerima manfaat program.

Pemerintah berharap kepemimpinan baru mampu mempercepat penyelesaian berbagai kendala yang selama ini muncul.

Dengan pergantian ini, BGN memasuki babak baru dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

Publik kini menanti apakah kepemimpinan baru mampu menjawab berbagai kritik dan memastikan program prioritas nasional tersebut berjalan lebih optimal, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Artikel ini sebelumnya telah tayang di WartaKotalive.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved