Benarkah Tak Boleh Bepergian dan Gelar Hajatan saat Bulan Muharram? ini Pandangan MUI

Anggapan bahwa bulan Muharram identik dengan kesialan masih kerap ditemui di berbagai daerah. Ini pandangan MUI.

Tayang:
Editor: Ani Susanti
Pixabay/Zaid ali
TAHUN BARU ISLAM - Di tengah masyarakat masih beredar berbagai mitos yang mengaitkan Bulan Muharram dengan kesialan, larangan bepergian, hingga pantangan menggelar hajatan. Ini pandangan MUI terkait ini. 

Ringkasan Berita:
  • MUI menegaskan bahwa bulan Muharram bukan bulan sial melainkan bulan yang dimuliakan Allah SWT.
  • Kepercayaan masyarakat mengenai pantangan di bulan Muharram dinilai bertentangan dengan akidah Islam.
  • Umat Islam diimbau untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi kezaliman selama bulan haram.

TRIBUNJATIM.COM - Hari Selasa 15 Juni 2026 bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah atau Tahun Baru Islam.

Anggapan bahwa bulan Muharram identik dengan kesialan masih kerap ditemui di berbagai daerah.

Beragam pantangan, mulai dari larangan menggelar hajatan hingga bepergian, masih dipercaya sebagian masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun.

Bagaimana pandangan MUI?

Baca juga: 30 Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, Cocok untuk Caption WhatsApp hingga Instagram

Menanggapi hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan umat Islam agar tidak menjadikan mitos sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

MUI menegaskan bahwa keyakinan tentang kesialan di bulan Muharram tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Komisi Fatwa MUI menilai anggapan bahwa Muharram merupakan bulan yang membawa nasib buruk bertentangan dengan prinsip akidah.

Karena itu, umat Islam diimbau untuk memahami Muharram sesuai tuntunan agama dan tidak terpengaruh oleh kepercayaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara syariat.

Sebaliknya, Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam dan menjadi penanda dimulainya tahun baru Hijriah.

MUI pun mengajak umat menjadikan momentum tersebut untuk memperbanyak ibadah, melakukan introspeksi diri, dan meningkatkan kualitas keimanan.

Tak Ada Hari Sial

Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Miftahul Huda, menegaskan bahwa seorang Muslim harus meyakini seluruh hari dan bulan sebagai ciptaan Allah SWT yang tidak memiliki unsur kesialan.

"Sebagai Muslim yang menjaga kesahihan akidah dan kepercayaan kepada Allah SWT, kita harus meyakini bahwa semua hari dan bulan itu tidak ada yang sial. Hari Senin sampai Ahad itu sama, bahkan ada keutamaan misalnya hari Jumat sebagai sayyidul ayyam (penghulu hari)," kata dia kepada MUIDigital, Ahad (29/6/2025).

Menurutnya, Islam memang memberikan keutamaan pada waktu-waktu tertentu, seperti hari Jumat yang dikenal sebagai penghulu hari.

Pada hari tersebut umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, membaca Al-Quran, berdzikir, dan melakukan qiyamul lail.

KH Miftahul Huda menjelaskan bahwa sebagian masyarakat masih dipengaruhi tradisi dan kepercayaan yang berkembang sebelum Islam hadir, khususnya di lingkungan budaya Jawa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
5 - 1
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved