Benarkah Tak Boleh Bepergian dan Gelar Hajatan saat Bulan Muharram? ini Pandangan MUI
Anggapan bahwa bulan Muharram identik dengan kesialan masih kerap ditemui di berbagai daerah. Ini pandangan MUI.
Ringkasan Berita:
TRIBUNJATIM.COM - Hari Selasa 15 Juni 2026 bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah atau Tahun Baru Islam.
Anggapan bahwa bulan Muharram identik dengan kesialan masih kerap ditemui di berbagai daerah.
Beragam pantangan, mulai dari larangan menggelar hajatan hingga bepergian, masih dipercaya sebagian masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun.
Bagaimana pandangan MUI?
Baca juga: 30 Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, Cocok untuk Caption WhatsApp hingga Instagram
Menanggapi hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan umat Islam agar tidak menjadikan mitos sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
MUI menegaskan bahwa keyakinan tentang kesialan di bulan Muharram tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Komisi Fatwa MUI menilai anggapan bahwa Muharram merupakan bulan yang membawa nasib buruk bertentangan dengan prinsip akidah.
Karena itu, umat Islam diimbau untuk memahami Muharram sesuai tuntunan agama dan tidak terpengaruh oleh kepercayaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara syariat.
Sebaliknya, Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam dan menjadi penanda dimulainya tahun baru Hijriah.
MUI pun mengajak umat menjadikan momentum tersebut untuk memperbanyak ibadah, melakukan introspeksi diri, dan meningkatkan kualitas keimanan.
Tak Ada Hari Sial
Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Miftahul Huda, menegaskan bahwa seorang Muslim harus meyakini seluruh hari dan bulan sebagai ciptaan Allah SWT yang tidak memiliki unsur kesialan.
"Sebagai Muslim yang menjaga kesahihan akidah dan kepercayaan kepada Allah SWT, kita harus meyakini bahwa semua hari dan bulan itu tidak ada yang sial. Hari Senin sampai Ahad itu sama, bahkan ada keutamaan misalnya hari Jumat sebagai sayyidul ayyam (penghulu hari)," kata dia kepada MUIDigital, Ahad (29/6/2025).
Menurutnya, Islam memang memberikan keutamaan pada waktu-waktu tertentu, seperti hari Jumat yang dikenal sebagai penghulu hari.
Pada hari tersebut umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, membaca Al-Quran, berdzikir, dan melakukan qiyamul lail.
KH Miftahul Huda menjelaskan bahwa sebagian masyarakat masih dipengaruhi tradisi dan kepercayaan yang berkembang sebelum Islam hadir, khususnya di lingkungan budaya Jawa.
| Siasat Licik Pria di Jombang yang Berkali-kali Gelapkan Motor, Gunakan Kedok Tukang Pijat |
|
|---|
| Bahaya Cat Silver Bagi Tubuh, Pasutri Paksa 2 Anak dan 1 Cucu Jadi Manusia Silver Demi Rp 250 Ribu |
|
|---|
| Sosok Galih Anak Sopir Lolos Seleksi Bintara TNI AD, Orangtua Bangga Tak Keluar Uang Sepeserpun |
|
|---|
| Nasib Eks RS Covid-19, Kini Jadi Puskesmas Lamongan 2 Kusuma Bangsa, Dana Rp 1, 1 Miliar Dikucurkan |
|
|---|
| Siswi SMP Habisi Nyawa Guru saat Mencuri, Pelaku Kini Diduga Kabur Bersama Orang Tua |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Benarkah-Tak-Boleh-Bepergian-dan-Gelar-Hajatan-saat-Bulan-Muharram-ini-Pandangan-MUI.jpg)