PT SSP Batalkan Wacana Pembangunan Real Estate usai Didemo Warga Prigen, Ubah Jadi Wisata Alam

Perusahaan akhirnya sepakat untuk mengurungkan niat pembangunan real estate tersebut.

Tayang:
Penulis: Galih Lintartika | Editor: Alga W
Tribun Jatim Network/Galih Lintartika
TOLAK REAL ESTATE - Warga dari tiga Kelurahan, yakni Prigen, Pecalukan, dan Ledug, Pasuruan, berkumpul di Posko Perlawanan Penolakan Real Estate di depan pintu masuk Air Terjun Kakek Bodo, Kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (25/10/2025) malam. Aksi protes pembangunan di lereng Gunung Arjuno-Welirang ini dibuktikan dengan pembubuhan tanda tangan petisi oleh masyarakat Prigen sebagai simbol perlawanan. 

Ringkasan Berita:
  • PT SSP sepakat untuk mengurungkan niat pembangunan real estate setelah melihat banyak penolakan dari warga Prigen.
  • Konsep pun diubah dari rencana awal pembangunan real estate menjadi kawasan wisata alam terpadu.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Galih Lintartika

TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - PT Stasiunkota Sarana Permai (SSP) memastikan batalnya wacana pembangunan real estate di lereng Gunung Arjuno-Welirang yang sempat disosialisasikan.

Manajemen perusahaan sepakat untuk mengurungkan niat pembangunan real estate tersebut setelah melihat banyak gelombang penolakan dari warga Prigen.

Baca juga: Sidak SPBU & SPBE, Kapolres Sumenep Tegaskan Stok BBM Aman, Sebut Isu Kenaikan 1 April Hoaks

Saat dikonfirmasi, salah satu staf PT SSP, Teguh Djatmiko, membenarkan keputusan manajemen yang memperhatikan dan mempertimbangkan aspirasi warga.

"Manajemen sudah memastikan tidak akan melanjutkan wacana pembangunan real estate di sana," kata Teguh saat dihubungi, Rabu (1/4/2026) sore.

Disampaikannya, kondusifitas warga harus menjadi salah satu dasar pembangunan real estate.

Lantaran banyak yang menolak, maka wacana ini diurungkan.

Perusahaan tersebut, saat ini, sedang mempertimbangkan perubahan konsep dari rencana awal pembangunan real estate menjadi kawasan wisata alam terpadu.

"Perubahan konsep menjadi wisata alam terpadu ini merupakan bagian dari upaya kami mendengarkan aspirasi tokoh masyarakat, tokoh-tokoh di sana," urainya.

Menurutnya, konsep baru dirancang berbeda dengan rencana sebelumnya.

Pengembangan wisata tidak akan dilakukan dengan pembukaan lahan secara besar-besaran.

Selain itu, kata Teguh, perusahaan juga berkomitmen untuk terus menjaga kelestarian lingkungan di kawasan tersebut agar tetap terjaga.

"Kami tidak ingin keberadaan kami justru merugikan masyarakat atau menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan," jelasnya.

"Karena itu rencana awal kami ubah," ucap Teguh.

Ia menambahkan, konsep pengembangan kawasan saat ini masih dalam tahap kajian oleh konsultan serta sejumlah perguruan tinggi.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved