Warisan Budaya Tradisi Manten Sapi Terus Dijaga untuk Tarik Wisatawan Datang ke Pasuruan

Sepasang sapi dihias layaknya pengantin Jawa lengkap dengan kain batik, aksesoris bunga, hingga riasan wajah, sebelum diarak keliling desa.

Tayang:
Penulis: Galih Lintartika | Editor: Alga W
Istimewa
DILESTARIKAN - Tradisi Manten Sapi yang terus digalakkan sebagai upaya untuk menjaga tradisi budaya, Kamis (28/5/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Manten Sapi bukan sekadar hiburan masyarakat, melainkan tradisi yang memiliki makna filosofis mendalam bagi warga desa.
  • Manten Sapi terus dijaga sebagai warisan budaya lokal yang sarat dengan nilai syukur, gotong royong, dan harapan kemakmuran.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Galih Lintartika

TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Tradisi Manten Sapi yang rutin digelar masyarakat Desa Watestani, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, terus dijaga sebagai warisan budaya lokal yang sarat dengan nilai syukur, gotong royong, dan harapan kemakmuran.

Tradisi yang digelar setiap Hari Raya Iduladha tersebut menjadi bagian dari budaya masyarakat petani dan peternak setempat.

Baca juga: Motocross Jadi Pintu Tenno Ali Masuk Dunia Aktor, Awal Syuting Dapat Bayaran Ban Pacul

Dalam prosesi tersebut, sepasang sapi dihias layaknya pengantin Jawa lengkap dengan kain batik, aksesoris bunga, hingga riasan wajah, sebelum diarak keliling desa diiringi musik tradisional dan kesenian rakyat.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan, Nurul Puspitaningrum mengatakan, Manten Sapi bukan sekadar hiburan masyarakat, melainkan tradisi yang memiliki makna filosofis mendalam bagi warga desa.

"Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen, kesehatan ternak, dan rezeki yang diberikan Tuhan. Selain itu juga menjadi simbol harapan kesuburan, kemakmuran, dan keberkahan bagi masyarakat petani," ujar Nurul, Kamis (28/5/2026).

Menurutnya, tradisi tersebut juga menjadi ruang sosial yang mempererat kebersamaan masyarakat desa.

Warga terlibat mulai dari proses persiapan, menghias sapi, hingga pelaksanaan arak-arakan budaya.

Nurul menegaskan, pelestarian tradisi Manten Sapi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar tidak hilang tergerus perkembangan zaman.

Salah satunya melalui dokumentasi budaya serta melibatkan generasi muda dalam setiap prosesi kegiatan.

"Anak-anak muda harus dikenalkan sejak dini agar mereka memahami nilai budaya lokal dan ikut menjaga keberlangsungannya," katanya.

Selain aspek budaya, tradisi Manten Sapi juga dinilai memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya di Kabupaten Pasuruan.

Khususnya bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Bromo dan wilayah pesisir timur Pasuruan.

Menurut Nurul, kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi agenda budaya tahunan yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan UMKM, pelaku seni, hingga perajin hiasan tradisional.

"Kalau dikemas dengan baik, tradisi ini bisa menjadi atraksi budaya khas Pasuruan yang memiliki nilai wisata sekaligus berdampak ekonomi bagi masyarakat sekitar," jelasnya.

Ia menambahkan, pelestarian tradisi juga harus dibarengi dengan perhatian terhadap kesejahteraan hewan.

Pemerintah mengingatkan agar penggunaan aksesoris dan rangkaian prosesi tidak menimbulkan penderitaan bagi sapi yang diarak.

"Esensinya bukan menyamakan sapi dengan manusia, tetapi sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan ternak yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved