Futuwwah dan Akhlak Mulia di Bulan Ramadan

Di kalangan ulama juga ada yang mengartikan futuwwah sebagai seorang hamba yang selalu peduli terhadap urusan orang lain.

Tayang:
Editor: Torik Aqua
Istimewa/Warta Kota/Alfian Firmansyah
KEDERMAWANAN - Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar menjelaskan tentang kedermawanan di bulan Ramadan. 

Kedermawanan (Futuwwah)
Oleh Menteri Agama Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A

TRIBUNJATIM.COM - Salah satu target kita di dalam menjalankan amaliah Ramadan ialah tertanamnya rasa keinginan terus-menerus untuk mencintai dan sekaligus mempraktikkan sikap kedermawanan (futuwwah). Secara literal, futuwwah berarti dermawan, mirip dengan kemurahan hati.

Futuwwah juga berarti mensucikan, bermurah hati, dan memenuhi janji. Ada juga yang mengatakan, futuwwah berarti engkau tidak melakukan sesuatu karena adanya kehormatan dan kedudukannya. Futuwwah juga berarti engkau melakukan sesuatu yang baik beserta ahlinya dan yang bukan ahlinya. Jika dia bukan ahlinya, maka jadilah engkau ahlinya.

Di kalangan ulama juga ada yang mengartikan futuwwah sebagai seorang hamba yang selalu peduli terhadap urusan orang lain.

Inilah yang diisyaratkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong sesama saudaranya.” Dari segi ini, futuwwah bisa juga berarti memaafkan kesalahan saudaranya dan menutupi segala aibnya.

Inilah derajat futuwwah yang paling rendah. Futuwwah juga bisa berarti engkau menganggap dirimu tidak lebih utama daripada orang lain dan dengan demikian futuwwah juga berarti engkau melayani dan tidak dilayani. Secara sederhana, futuwwah juga bisa berarti berakhlak baik.

Baca juga: Dzikir dan Doa Setelah Salat Tahajud, Amalan Malam di Bulan Ramadan

Futuwwah mengutamakan sesama makhluk, tidak hanya terbatas pada manusia, tetapi juga makhluk lain termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan, bahkan benda mati, karena bagi mereka dalam kamus Tuhan tidak ada benda mati; semua beribadah dan bertasbih kepada Tuhan. Para dermawan dalam kategori ini menganggap harta yang diberikan untuk kepentingan orang lain yang lebih butuh atau untuk kepentingan akhirat lebih besar maknanya ketimbang harta yang disimpan untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga.

Al-Junaid mengatakan, futuwwah adalah menahan diri dari segala yang menyakiti orang lain dan memberi makanan kepada orang lain. Ada juga yang mengatakan futuwwah adalah mengikuti sunnah. Ada juga yang mengatakan, futuwwah adalah menampakkan kenikmatan dan menyembunyikan cobaan. Ahmad bin Hambal mengatakan, futuwwah meninggalkan apa yang engkau inginkan demi yang engkau takuti. Futuwwah adalah seorang pemuda yang punya musuh sebagai akibat keteguhannya kepada sebuah prinsip. Ada juga yang mengatakan, futuwwah adalah seorang pemuda yang menghancurkan berhala besar, yaitu nafsunya sendiri. Hal ini diambil dari firman Allah dalam Alquran: Mereka berkata, “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya’/21: 60).

Ada yang mengatakan, sumber futuwwah adalah keimanan. Oleh karena itu, Allah menamai Ashab al-Kahf dengan “fityah” ketika mereka beriman kepada Tuhan mereka. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an: Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. (QS. Al-Kahf/18:13).

Ada juga yang mengatakan, sesungguhnya mereka dinamakan “fityah” karena mereka beriman kepada Allah tanpa perantara. Al-Junaid mengatakan, futuwwah dapat ditemukan di Syam, kefasihan bahasa di Irak, dan kejujuran di Khurasan. Kemudian, ketahuilah bahwa kebebasan itu lebih mulia daripada kejujuran, dan futuwwah lebih utama lagi daripada keduanya (kebebasan dan kejujuran). Dan muru’ah merupakan bagian dari futuwwah.

Kedermawanan merupakan manifestasi dari iman. Kedermawanan juga merupakan bagian dari kepribadian bangsa dengan berbagai bentuk aktualisasinya, seperti gotong royong, kesalehan sosial, silaturahim, bakti sosial, saweran, amal jariyah, dan lain-lain. Kedermawanan sosial merupakan salah satu inti ajaran agama Islam, dan di dalam Alquran muncul sebuah surah khusus, yaitu Surah Al-Ma’un. Kedermawanan inilah yang menjadi melting pot antara kesalehan individu dan kesalehan sosial, dan orang inilah yang disebut sebagai muslih di dalam Alquran.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved