Berita Surabaya

Surabaya Integrasikan Game MLBB Jadi Media Edukasi dan Pendidikan Karakter di Sekolah

Kehadiran delegasi pemenang MLBB Goes to School dan Teacher Ambassador (TA) asal Surabaya menunjukan ekosistem gim Mobile Legends

Tayang:
Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Januar
Tribun Jatim Network/Moonton Games
SURABAYA - Kehadiran delegasi pemenang MLBB Goes to School dan Teacher Ambassador (TA) asal Surabaya di Arena M7 World Championship Jakarta. 

Ringkasan Berita:
  • Program MLBB Goes to School dan Teacher Ambassador (TA) di Surabaya menunjukkan gim dapat menjadi sarana pendidikan karakter, mengajarkan soft skill seperti kerja sama tim, sportivitas, menerima kekalahan, dan menghindari perilaku toksik.
  • Guru berperan penting sebagai jembatan antara gim dan pendidikan, dengan dibekali nilai “Pray, Respect, Peace Out” agar gim menjadi bahasa bersama yang positif antara pendidik dan siswa; komunitas TA di Surabaya berkembang dari 50 menjadi 328 guru aktif.

 

Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Nurika Anisa

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA- Kehadiran delegasi pemenang MLBB Goes to School dan Teacher Ambassador (TA) asal Surabaya menunjukan ekosistem gim Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) menjadi instrumen pendidikan karakter bagi siswa.

 Program yang diinisiasi oleh Moonton Games ini menepis anggapan bahwa gim seluler hanya membawa dampak negatif.

 Di Surabaya, gim disebut menjadi jembatan komunikasi baru antara guru dan siswa melalui program Teacher Ambassador.

"Fokus kami bukan menjadikan semua anak pemain profesional, melainkan memberikan kebebasan memilih dan menanamkan nilai-nilai luhur. Lewat gim, anak belajar menerima kekalahan, pentingnya kerja sama tim, dan merayakan kemenangan tanpa kesombongan. Ini adalah soft skill vital untuk menghadapi dunia nyata," ujar Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games, Erina Tan, Minggu (25/1/2026).

Baca juga: Bakal Bagikan 1000 Buku Gibran End Game ke Anggota DPR & DPD, Rismon Sianipar Bantah Didanai

Ia menjelaskan bahwa program ini bertujuan menanamkan nilai-nilai positif yang relevan dengan kehidupan nyata, yang sering kali tidak ditemukan dalam buku teks.

Untuk memastikan nilai-nilai tersebut tersampaikan dengan efektif, peran guru menjadi sangat vital sebagai jembatan komunikasi.

Erina menjelaskan bahwa gim kini difungsikan sebagai 'bahasa yang sama' antara pendidik dan siswa.

Melalui program ini, para guru dibekali pemahaman untuk menanamkan pilar "Pray, Respect, Peace Out" (DTS), yang mengajarkan siswa untuk berdoa sebelum bermain, saling menghormati, dan menjauhi perilaku toksik.

“Respons dari tenaga pendidik di Surabaya pun sangat positif,” sebut Erina.

Program ini semula melibatkan sebanyak 50 guru. Kini komunitas Teacher Ambassador berkembang menjadi 328 guru yang aktif membimbing siswa menciptakan lingkungan bermain yang aman dan edukatif.

Kesuksesan Surabaya sebagai pilot project program disebut tidak lepas dari visi Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya yang realistis terhadap perkembangan teknologi. 

Kepala Dispendik Surabaya, Febrina Kusumawati, menegaskan bahwa melarang penggunaan gawai di era digital adalah hal yang mustahil. Kuncinya terletak pada pendampingan.

"Kalau hari ini kita tidak bisa lepas dari handphone, maka anak-anak tidak bisa sekadar dilarang, tetapi harus didampingi. Jika tidak ada pendampingan, hasilnya tidak akan baik," tegas Febrina.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved