Evaluasi Prodi di Perguruan Tinggi
Rektor ITS: Kampus Bukan Sekadar Pencetak Tenaga Kerja, Lulusan Harus 'Future Ready'
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menilai evaluasi program studi di perguruan tinggi tidak bisa hanya didasarkan pada ukuran
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Sudarma Adi
Ringkasan Berita:
- Visi Lulusan: Mengutamakan kesiapan menghadapi masa depan (future ready) daripada siap kerja instan (plug and play).
- Kebijakan Prodi: ITS memilih jalur revitalisasi dan transformasi kurikulum daripada penutupan program studi.
- Pentingnya Ilmu Dasar: Prodi ilmu dasar tetap krusial sebagai fondasi teknologi mutakhir seperti AI dan keamanan siber.
Laporan Wartawan Tribunjatim.com, Sulvi Sofiana
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menilai evaluasi program studi di perguruan tinggi tidak bisa hanya didasarkan pada ukuran kesiapan kerja lulusan atau kebutuhan industri jangka pendek.
Rektor ITS, Prof Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., IPU., AEng. mengatakan pembukaan maupun penutupan program studi merupakan hal yang lazim terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Namun, menurutnya, proses evaluasi harus dilakukan secara mendalam dan komprehensif.
“Kalau di kampus-kampus, buka tutup prodi itu sesuatu yang biasa. Tapi dasarnya bukan sekadar apakah prodi itu menghasilkan lulusan siap kerja atau tidak,” ujarnya.
Baca juga: Ini Lima Program Studi Baru yang Dibuka ITS di SNBP dan SNBT 2025
Menekankan Fondasi dan Kemampuan Adaptasi
Ia menjelaskan perguruan tinggi tidak dapat diposisikan hanya sebagai lembaga pencetak tenaga kerja yang langsung siap digunakan industri sejak hari pertama bekerja.
Menurutnya, setiap industri memiliki karakter, teknologi, dan kebutuhan yang berbeda sehingga kampus tidak mungkin menghasilkan lulusan yang langsung plug and play untuk seluruh sektor industri.
“Setiap industri punya teknologi, tools, dan kebutuhan berbeda. Jadi rasanya tidak fair kalau kampus dituntut menghasilkan lulusan yang langsung plug and play,” katanya.
Karena itu, ITS lebih menekankan penguatan fundamental mahasiswa, baik dari sisi akademik maupun kemampuan nonteknis seperti komunikasi, kemampuan berpikir logis, daya adaptasi, dan kemauan belajar.
“Kampus itu tidak mencetak tenaga kerja siap pakai. Yang dibangun adalah kemampuan berpikir logis, kemampuan belajar, kemampuan beradaptasi, dan fondasi dasarnya,” jelasnya.
Ia menilai lulusan perguruan tinggi memang belum tentu langsung siap bekerja pada hari pertama, tetapi harus memiliki kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
“Lulusan itu mungkin tidak ready to work on day one, tapi harus future ready from day one,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor II ITS, Dr. Machsus, ST, MT, mengatakan evaluasi program studi memang rutin dilakukan di ITS sebagai bagian dari penjaminan mutu dan penguatan kualitas akademik kampus.
Menurutnya, evaluasi dilakukan dengan melihat berbagai aspek seperti kualitas akademik, relevansi dengan kebutuhan industri, kualitas lulusan, minat calon mahasiswa, hingga keberlanjutan pengembangan keilmuan.
Namun demikian, ia menegaskan ITS hingga kini belum memiliki kebijakan untuk menutup program studi. Evaluasi lebih diarahkan untuk penguatan dan revitalisasi program studi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Kalau di ITS, sejauh ini arahnya memang lebih pada evaluasi untuk penguatan, transformasi, dan pengembangan kebutuhan prodi baru, bukan pada penutupan prodi,” ujarnya.
Baca juga: Jalur Mandiri Gelombang 2 ITS Surabaya Ditutup, Kampus Berencana Tambah Program Studi Baru
Ia menjelaskan evaluasi di ITS lebih banyak menyentuh pembaruan kurikulum, model pembelajaran, fleksibilitas lintas disiplin, penguatan riset, hingga kolaborasi dengan industri dan masyarakat.
“Orientasinya menata dan merevitalisasi, bukan sekadar menghilangkan,” katanya.
Menurut Machsus, program studi terapan memang cenderung lebih cepat beradaptasi terhadap kebutuhan praktis industri karena sifatnya yang lebih aplikatif. Meski begitu, program studi ilmu dasar tetap memiliki peran penting dalam perkembangan teknologi masa depan.
Ia mencontohkan matematika murni yang kini menjadi fondasi bagi perkembangan artificial intelligence (AI), keamanan siber, kriptografi, hingga financial technology.
Karena itu, ia menilai relevansi program studi tidak bisa hanya diukur dari tren pasar kerja jangka pendek atau tingkat serapan lulusan sesaat.
“Kalau evaluasi hanya berbasis serapan kerja sesaat, ada risiko kita menyederhanakan fungsi pendidikan tinggi hanya sebagai pemasok tenaga kerja,” jelasnya.
Di sisi lain, mahasiswa Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital ITS, Wisya, menilai pendidikan tinggi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai jalur untuk mencari pekerjaan.
Menurutnya, kuliah pada dasarnya merupakan ruang belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan sehingga penutupan program studi hanya karena ukuran kebutuhan kerja terasa kurang tepat.
“Beberapa kali diskusi sama teman-teman, terutama anak soshum, rasanya agak aneh kalau prodi ditutup. Karena esensi kuliah itu belajar, bukan hanya cari kerja,” ujarnya.
Ia menilai setiap mahasiswa memiliki tujuan berbeda ketika menempuh pendidikan tinggi. Ada yang berorientasi masuk dunia industri, tetapi ada pula yang menikmati proses belajar dan memilih jalur akademik.
Wisya juga menilai proses belajar di perguruan tinggi tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh pembelajaran mandiri atau daring karena mahasiswa tetap membutuhkan pendampingan langsung dari dosen.
“Mungkin sekarang ada banyak opsi belajar mandiri atau belajar online, tapi tetap berbeda dengan belajar langsung dibimbing dosen,” pungkasnya.
Yang Dievaluasi ITS
Bukan:
✘ Siap kerja atau tidak
✘ Tinggi-rendah peminat saja
✘ Serapan kerja jangka pendek semata
Tetapi:
Kemampuan adaptasi lulusan
Fondasi keilmuan
Relevansi masa depan
Soft skill dan logical thinking
Kemauan belajar (willing to learn)
Evaluasi Prodi di Perguruan Tinggi
ITS
Program Studi (Prodi)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Prof Ir. Bambang Pramujati
Surabaya
eksklusif
Multiangle
meaningful
| Sosok Iqbal Anak Buruh Harian Lolos FK UI, Hafal Al Quran Sejak Kecil dari Dengar Ibu Mengaji |
|
|---|
| Profil Lengkap 9 Kapolda Baru Pilihan Kapolri Pada Mei 2026, Irjen Pipit Rismanto Jadi Kapolda Jabar |
|
|---|
| Penyebab Hantavirus Kecil Kemungkinan Jadi Pandemi Berikutnya, Disebut Lumpuhkan Korban dengan Cepat |
|
|---|
| Cara Bupati Atasi Maraknya Kasus Begal di Lumajang, Pasang CCTV di Setiap Dusun |
|
|---|
| Kepsek Minta Siswa yang Tinggal di Panti Asuhan Pindah Sekolah karena Tak Bayar Seragam Rp 300 Ribu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Rektor-ITS-Prof-Dr-HC-Ir-Bambang-Pramujati-ST-MScEng-PhD.jpg)